Pendekatan Musuh-sentris Tidak Efektif di Pakistan

0
24

Saira Yamin and Lisa Schirch*)

Pewarta-Indonesia, Washington, DC – Selama kunjungannya ke Pakistan baru-baru ini, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton menekankan perlunya mengembangkan hubungan yang saling menghormati antara Amerika Serikat dan Pakistan. Meski pemerintahan sipil Pakistan dan militernya berhubungan erat dengan Amerika Serikat untuk menghentikan al Qaeda, hubungan antara kedua negara itu diwarnai oleh kurangnya saling percaya dan miskomunikasi, yang menyulitkan keduanya mencapai tujuan bersama.

Tindakan-tindakan baik militer, politis, maupun kemanusiaan untuk membangun kepercayaan yang sudah diambil untuk mengurangi ketegangan antara Amerika Serikat dan pemerintah Paistan bisa membantu mengurangi persepsi negatif rakyat Pakistan terhadap AS di Pakistan dan menggalang dukungan untuk mencapai tujuan-tujuan keamanan yang disepakati bersama.

Survei yang dilaksanakan oleh International Republican Institute pada Maret 2009 untuk mengetahui pendapat masyarakat Pakistan menunjukkan bahwa kira-kira 70 persen warga Pakistan tidak mendukung operasi militer Amerika Serikat di Pakistan. Upaya-upaya untuk membangun kepercayaan juga perlu mempertimbangkan sejarah ketakpercayaan antara kedua negara ini dan perlu memperlihatkan bahwa Amerika Serikat tengah menempuh pendekatan baru terhadap masalah keamanan. Amerika Serikat harus memastikan kebijakan, tindakan dan sumber daya mereka diarahkan untuk keamanan masyarakat, dan menggunakan pendekatan berbasis komunitas dalam merumuskan kebijakan. AS sebaiknya tidak menggunakan pendekatan musuh-sentris (memperlakukan Pakistan sebagai musuh) yang justru meningkatkan militansi seperti di masa lalu.

Serangan udara jelas menunjukkan penggunaan pendekataan musuh-sentris dalam masalah keamanan. Warga Pakistan menilai serangan ini sebagai upaya untuk mendestabilisasi kawasan mereka. Menghentikan serangan udara, terutama di daerah-daerah yang padat penduduknya, bisa mengisyarakatkan kepada rakyat Pakistan bahwa Amerika Serikat mempertimbangkan dan merespon pendapat mereka, serta menghormati kedaulatan territorial mereka.

Untuk beralih pada paradigma keamanan yang berwawasan populasi, Amerika perlu mengambil tindakan-tindakan seperti mendirikan pusat koordinasi bagi lembaga-lembaga AS dan Pakistan terutama Badan Intelijen Pakistan (ISI) serta menyediakan hotline agar badan intelijen kedua negara ini bekerja untuk melindungi rakyat sipil.

Anggota ISI sering dituduh bersimpati bahkan mendukung beberapa faksi Taliban, dan tuduhan ini dibantah habis-habisan oleh sejumlah badan pemerintahan Pakistan. Tuduhan seperti ini perlu diselidiki dengan transparan—sambil melakukan upaya perbaikan seperlunya—agar kepercayaan rakyat Pakistan dan komunitas internasional bisa dipulihkan.

Amerika Serikat bisa berbuat lebih banyak lagi untuk mengakui kepentingan politik Pakistan di kawasan Asia Selatan, terutama karena kerjasamanya yang kuat dengan India. Meningkatnya pengaruh India di Afghanistan dilihat sebagai ancaman bagi stabilitas Pakistan dan Pakistan menuduh India mendukung gerakan pemberontakan di Balochistan, provinsi Pakistan yang berbatasan dengan Afghanistan yang kerap dilanda konflik.

Upaya-upaya diplomatik internasional yang menyeluruh dan mengenali keterkaitan berbagai konflik di kawasan itu, serta upaya-upaya rekonsiliasi di tingkat lokal dan negosiasi-negosiasi tingkat tinggi bisa menjadi jalan untuk menyelesaikan konflik disana.

Proses diplomasi untuk menangani isu-isu politik besar antara Pakistan dan Afghanistan seperti perpindahan kelompok-kelompok militan, senjata dan narkotika di sepanjang wilayah perbatasan serta tuduhan Afghanistan bahwa Pakistan sudah mencampuri persoalan domestik mereka, membuat pembangunan kepercayaan menjadi sebuah keniscayaan.

Amerika Serikat harus memastikan ketersediaan persediaan bantuan kemanusiaan dan pembangunan bagi Pakistan agar negara itu bisa merehabilitasi masyarakatnya serta membangun kembali infrastruktur yang rusak akibat operasi militer AS dan Pakistan melawan Taliban. AS juga harus memastikan adanya transparansi dan membantu perencanaan, pelaksanaan dan monitoring kegiatan-kegiatan kemanusiaan dan pembangunan di Pakistan. Kelompok-kelompok masyarakat sipil dan lembaga-lembaga bantuan kemanusiaan di Pakistan bisa membantu kegiatan-kegiatan ini, dan membangun kerjasama jangka panjang.

Mengembangkan rencana terpadu untuk upaya rekonstruksi di Pakistan harus menjadi perhatian utama dalam membangun kepercayaan antara AS dan Pakistan dalam bidang kemanusiaan. Upaya seperti ini akan berdampak baik bagi kedua belah pihak, menciptakan suasana yang lebih kondusif untuk kerjasama dan stabilitas jangka panjang.

Mengembangkan kerjasama strategis yang bermakna untuk menghilangkan ancaman terorisme membutuhkan komunikasi yang lebih jelas dan lebih inklusif, kesediaan untuk membangun hubungan politik dan sosial yang lebih baik, dan menunjukkan bahwa intervensi yang dilakukan dalam kerangka konter-terorisme tidak akan melukai keamanan dalam negeri Pakistan dan membahayakan masyarakatnya.

*) Saira Yamin adalah mahasiswa doktoral asal Pakistan di Institut Analisis Konflik di Universitas George Mason. Lisa Schrich adalah professor bidang pembangunan perdamaian di Pusat studi Keadilan dan Pembangunan Perdamaian di Universitas Eastern Mennonite.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews)

BAGIKAN
Berita sebelumyaHATI-HATI: PPWI Dicatut Oknum yang Tidak Bertanggung Jawab
Berita berikutnyaFashion Indonesia Siap Mendunia
Koran Online Pewarta Indonesia atau disingkat KOPI adalah sebuah media massa nasional berbasis jurnalisme warga (pewarta warga) yang dibangun dan dikelola oleh Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI). Pimpinan redaksi KOPI adalah Wilson Lalengke, dibantu oleh ribuan penulis/pewarta lintas profesi, lintas agama, lintas strata sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan lain-lain dari seluruh nusantara dan luar negeri.