Pendidikan Kekuatan Masa Depan Aceh

0
22

 


Pewarta-Indonesia,
Salah satu faktor kebangkitan bangsa dan kemajuan bangsa itu sendiri ditentukan oleh Dunia Pendidikan. Sebuah bangsa yang tidak memperhatikan dunia pendidikan akan mengalami kemunduran dan tentunya akan jauh dari harapan untuk menjadi bangsa yang besar yang mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain dalam kancah persaingan dunia internasional di era globalisasi ini. Hal ini lah yang menjadi dasar, mengapa bangsa lain maju sedang kita masih jauh tertinggal dalam keterpurukan. Hanya lah bangsa yang besar pula yang mampu menghasilkan pemimpin dan pemikir. Namun sebaliknya tidak ada suatu bangsa menjadi besar tanpa pemimpin dan pemikir yang besar.

 

Dunia Pendidikan adalah suatu entitas penting yang sangat menentukan kekuatan suatu individu dan bangsa untuk ikut serta menjawab tantangan persaingan yang ketat di zaman globalisasi ini. Penyelenggaraan pendidikan yang sangat kompleks di level Pendidikan Tinggi membutuhkan dukungan yang kuat baik dari segi SDM, maupun dalam sistem Pemerintahan. Disini sangat lah penting bagi kepala Pemerintahan Aceh untuk ikut berperan aktif serta haruslah mampu untuk menyelenggarakan sistem pendidikan yang praktis, cerdas, efisien, dan gratis yang dapat mengakomodir seluruh kebutuhan elemen masyarakat dalam suatu kemudahan. Sehingga masyarakat tidak perlu resah, gelisah, dan susah dengan sistim pendidikan yang ditawarkan dan diselenggarakan oleh pemerintah itu sendiri.

 

Dalam hal ini, Gubernur Aceh selaku kepala pemerintah Aceh yang memegang amanat penuh dalam roda pemerintahan harus mampu menyediakan sebuah wadah yang dapat menyaring berbagai kebijakan di bidang pendidikan agar bebas dari naluri-naluri spekulatif penguasa, atau gagasan individual yang spekulatif, ataupun politikus-politikus yang hanya mementingkan kepentingan politiknya belaka. Majelis Pendidikan Daerah yang merupakan salah satu wadah partisipasi masyarakat dalam bidang pendidikan harus mampu meningkatkan fungsinya. Dengan begitu diharapkan kebijakan pendidikan tidak digagas asal-asalan sehingga arahnya pun jelas dan hasilnya juga jelas targetnya. Dalam hal ini kurikulum yang efektif dan bermutu tinggi sangat penting untuk mendapatkan kwalitas pendidikan itu sendiri. Karena kurikulum adalah paru-paru pendidikan, bila baik paru-paru maka sehat lah tubuh. Begitu juga dengan pendidikan.


Kedepan kita harapkan Pemerintah Aceh untuk mampu mengimplementasikan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, atau juga sering disebut dengan Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA). Semua ketentuan yang tertuang dalam BAB XXX tentang Pendidikan harus benar-benar di perhatikan dan di implementasikan agar pendidikan betul-betul menyentuh segala aspek dan semua unsur masyarakat dapat merasakannya. Dengan berpijak pada UUPA dan Qanun Penyelenggaraan Pendidikan di Aceh, Jatah dana untuk penyelenggaraan pendidikan yang tertuang dalamnya sangat lah besar. Betapa kita terkejut dan sedih ketika media massa memuat Rp 4,5 M Dana Pendidikan Dikembalikan ke Pusat (Serambi Indonesia Edisi: 23/01/2008 10:21:39), atau Rp 813 M Dana Pendidikan Aceh Belum Dimanfaatkan (Harian Serambi Indonesia edisi: jum’at 21/09). Disini membuktikan bahwa kinerja pemerintah belum begitu maksimal dalam dunia pendidikan. Kalau  dana yang sebesar ini mampu diserap dengan maksimal dan dapat digunakan untuk dunia pendidikan, hasil yang didapatkan sungguh luar biasa. Mudah-mudahan kesalahan yang sama tidak terulang lagi.


Pendidikan harus lah menjadi prioritas utama untuk memulai kekuatan dalam diri manusia, menjadi kunci utama perubahan sebuah bangsa. Kurikulum yang bermutu, tenaga pendidik yang berkwalitas, dan tunjangan yang mencukupi memang harus betul-betul diperhatikan. Tenaga pendidik yang tidak terkonsentrasi dengan dunia pendidikan sungguh akan melahirkan didikan-didikan yang tidak bermutu dan berkwalitas sehingga tidak akan mampu bersaing menghadapi tantangan perubahan zaman.


Berbagai problem yang muncul di masyarakat, khususnya ketimpangan antara kualitas pendidikan dan kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan oleh dunia kerja merupakan refleksi adanya kelemahan yang mendasar dalam dunia pendidikan kita. Setiap upaya untuk memperbaharui pendidikan akan sia-sia, kecuali menyentuh akar filosofis dan teori pendidikan. Yakni, pendidikan tidak bisa dilihat sebagai suatu dunia tersendiri, melainkan pendidikan harus dipandang dan diberlakukan sebagai bagian dari masyarakatnya. Oleh karena itu, proses pendidikan harus memiliki keterkaitan dan kesepadanan secara mendasar serta berkesinambungan dengan proses yang berlangsung di dunia kerja.

 

Akhirnya, penulis mengajak semua elemen masyarakat Aceh baik di dalam maupun di luar negeri untuk terus memantau, memperhatikan, dan dapat ikut serta aktif dalam perkembangan dan kemajuan pendidikan di Aceh. Berikan yang terbaik untuk dunia pendidikan Aceh karena generasi Aceh kedepan di tentukan oleh corak sistim pendidikan sekarang ini. Percaya lah “EDUCATION IS POWER” pendidikan adalah kekuatan, yang akan mampu meningkatkan ekonomi, teknologi, sosial, dan budaya.

 

Penulis adalah Sulaiman Abdullah Mahmud El Lhoksukuni (dalam foto di atas)

Mahasiswa S1 pada International University of Africa (IUA) Khartoum-Sudan, Aktivis World Acehnese Association (WAA)

 

Anda punya berita, artikel, foto, atau video? Publikasikan di sini
Kontak Redaksi di [email protected]