Pertemuan Lintas Agama Memperkuat Pengertian antara Amerika dan Indonesia

0
24

Oleh: Lilian Budianto*)

Pewarta-Indonesia, Jakarta – Pada 25 hingga 27 Januari lalu, Indonesia dan Amerika Serikat memulai langkah untuk memperkuat ikatan sosial budaya antara mereka dengan menggelar dialog lintas agama bilateral pertama di Jakarta.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh 20 delegasi dari Amerika Serikat, termasuk pejabat pemerintah, uskup, dan kalangan masyarakat sipil AS. Dari Indonesia, ada 30 peserta yang meliputi para tokoh dua organisasi Muslim terbesar di Indonesia-Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, juga para tokoh agama Kristen, Budha, dan Hindu, serta para akademisi agama dari berbagai universitas.

Zainal Abidin Bagir, cendekiawan Muslim dari Center for Religious and Cross-Cultural Studies, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta-yang telah mengirim puluhan mahasiswa untuk mengikuti perkuliahan agama di Amerika Serikat, dan sebaliknya – mengatakan bahwa pertemuan tersebut penting bagi para peserta Indonesia untuk berhubungan dengan orang-orang Amerika, sehingga mereka bisa belajar tentang Amerika Serikat dan kebijakan-kebijakan yang menjunjung tinggi hak-hak minoritas Muslimnya.

“Interaksi yang lebih sering akan memungkinkan adanya pengertian yang lebih baik karena … kelompok garis keras tertentu menganggap Amerika Serikat sebagai musuh nomor wahid mereka karena dan menganggap negara ini telah menzalimi Muslim di seluruh dunia,” ujar Bagir.

Para peserta dalam konferensi lintas agama AS-Indonesia itu sepakat untuk bekerjasama dalam empat isu-kemiskinan, pendidikan, perubahan iklim, dan tatakelola pemerintahan yang baik. Sayangnya, deklarasi bersama yang mereka hasilkan tidak merinci bentuk-bentuk kerjasama yang menjadi tindak lanjut konferensi ini. Tanpa adanya komitmen untuk menjalankan prakarsa-prakarsa spesifik, konferensi ini bisa jadi hanya menjadi sebuah ajang berbicara tanpa tindakan nyata.

Sejalan dengan ini, Jean Duff, Direktur Eksekutif Center for Interfaith Action on Global Poverty, Washington DC, mengemukakan bahwa deklarasi bersama itu diharapkan menjadi dasar komunikasi lebih lanjut dan kesalingmengertian di antara kelompok masyarakat sipil di Indonesia atau Amerika Serikat, khususnya tentang praktik Islam di Indonesia dan Asia Tenggara, yang banyak berbeda dari bagaimana Islam dipraktikkan di dunia Arab.

Indonesia, dengan populasi Muslim terbesar di dunia, sering digambarkan oleh pemerintah Barat sebagai sebuah model di mana mayoritas Muslim bisa hidup berdampingan secara damai dengan para penganut agama lain. Undang-Undang Dasar menjunjung tinggi hak-hak minoritas, dan pemerintah tidak membuat kebijakan-kebijakan nasionalnya atas dasar ajaran-ajaran agama.

Menurut seorang peserta, William F. Vendley, Sekretaris Jenderal Religions for Peace, sebuah organisasi non-pemerintah yang berpusat di New York, “Pemerintah AS sangat terkesan dengan komitmen pemerintah dan masyarakat Indonesia pada pluralisme. Mereka menyambut baik keragaman … Mereka melihat Indonesia sebagai sebuah model bagi suatu masyarakat yang beragam secara agama, namun berjalan secara harmonis dan damai.”

Indonesia merupakan salah satu negara pertama yang mendorong dialog lintas agama secara ekstensif di forum-forum internasional sebagai alat untuk memerangi terorisme yang dipicu oleh mispersepsi dan kurangnya interaksi konstruktif di antara para penganut agama yang berbeda. Pemerintah Indonesia telah memprakarsai dialog lintas agama bilateral dengan sejumlah negara, termasuk Austria, Kanada, Inggris, Italia, Lebanon, Belanda, Rusia, dan Vatican. Di tingkat kawasan, Indonesia berpartisipasi aktif dalam dialog-dialog lintas agama yang diselenggarakan oleh Organisasi Konferensi Islam (OKI/OIC) dan Pertemuan Asia Eropa (Asia Europe Meeting, ASEM).

Sebagai bagian dari pertemuan itu, para peserta juga mengunjungi sebuah pesantren untuk melihat kehidupan keseharian para santri. Selama ini banyak mispersepsi muncul tentang pesantren di kalangan masyarakat Barat, yang sering menganggapnya sebagai lembaga yang mendidik para teroris muda. Padahal di sebagian besar pesantren, banyak di antaranya justru mengutamakan kegiatan belajar mengajar mereka untuk memastikan para santrinya bisa bersaing secara akademis dengan mereka yang belajar di sekolah-sekolah umum non-agama.

Ketua delegasi AS, Pradeep Ramamurthy, Direktur Senior untuk Urusan Kerjasama Global di Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih, mengatakan bahwa Washington menyambut ajakan kerja sama dengan kelompok-kelompok agama di Indonesia yang punya kemampuan untuk mengerahkan dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk menyelesaikan banyak isu. Organisasi-organisasi keagamaan di Indonesia mempunyai program-progam yang telah lama berjalan, yang ditujukan untuk memperbaiki kehidupan dan standar hidup masyarakat akar rumput.

Hubungan yang terjalin akibat lokakarya ini setidaknya memberi landasan awal untuk mengubah persepsi publik tentang Indonesia, dari negara tempat ledakan bom dan ekstremisme, menjadi mitra damai Amerika Serikat, yang menunjukkan wajah sejati Islam di Indonesia.

*) Lilian Budianto adalah wartawan The Jakarta Post, surat kabar berbahasa Inggris di Jakarta.

Sumber Kantor Berita Common Ground (CGNews)