Politainment di Bantar Gebang: Mengharumkan Bau Sampah Walau Hanya Sesaat

0
22

Pewarta-Indonesia, Sebuah deklarasi yang berbeda dipertontonkan pasangan Capres Megawati Sukarnoputri dan Cawapres Prabowo Subianto pada Minggu 24 Mei 2009. Seperti yang dijanjikan sebelumnya, pasangan yang diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Gerindra ini akhirnya memilih TPA Sampah Bantar Gebang sebagai tempat deklarasi untuk maju bertarung dalam Pilpres 2009.

Pemilihan TPA Bantar Gebang sesuai dengan tema kampanye yang “dijual” Mega-Pro yakni ekonomi kerakyatan. Pemilihan ideologi ekonomi yang berbasis kerakyatan tersebut, nampak searah dan sejalan dengan apa yang menjadi perjuangan Prabowo dengan partai Gerindra-nya selama masa kampanye legislatif lalu. Dalam setiap materi iklan Partai dengan lambang kepala burung garuda ini, Prabowo selalu mendekatkan diri dan partainya pada wong cilik. Cita-citanya sederhana, mengembalikan konsep ekonomi Indonesia pada rakyat.

Namun, ketika Prabowo harus legowo menjadi Cawapres bagi Megawati, tema ekonomi kerakyatan tersebut seolah menjadi sebuah kontra campaign bagi Cawapres dari kubu SBY-Berbudi. Sejak SBY mengejutkan banyak orang dengan memilih Boediono sebagai Cawapresnya, isu neolibelarisme menjadi sebuah bola salju yang terus bergulir dan membesar sebagai sumber kritikan bagi lawan-lawannya.

Tak kurang, JK-Win pun kini melakukan pendekatan ke kantong-kantong masyarakat kecil sebagai sebuah pencitraan keberpihakan pada ekonomi rakyat. Dua pasang rival SBY-Berbudi ini seolah mau menegaskan bahwa Boediono merupakan antek asing dalam pembangunan ekonomi bangsa selama ini. Dan mereka harus melawannya dengan mengembalikan perekonomian bangsa Indonesia yang memang tidak kunjung membaik ini ke tangan rakyat.

Mega-Pro pun mendapat suasana yang tepat. Memilih tempat pembuangan sampah untuk mendeklarasikan pertarungan. Ada simbol keberpihakan disana. Rakyat selama ini seolah-olah hanya menjadi produk buangan akhir. Rakyat kecil hanya menerima sisa dari pembagian kue besar yang bernama ekonomi. Itu pun harus dilakukan dengan cara mengais-ngais. Memilah dan memilih yang terbaik dari yang terburuk. Berusaha mendaur ulang apa yang telah menjadi rongsokan. Semua ada di tempat sampah.

Tempat pembuangan akhir sampah Bentar Gebang Bekasi yang membukit seolah pula mengisyaratkan persoalan bangsa yang tidak kunjung selesai. Terus dan terus dijejali oleh berbagai masalah dan problema kebangsaan. Dan rakyat semakin lama semakin ditinggalkan dan dilupakan. Rakyat seakan hanya disinggahi oleh truk-truk pengangkut sampah. Menerima apa yang telah menjadi sisa multi nasional corporation.

Dari simbolisasi inilah Mega-Pro mau memproklamirkan diri mereka, bahwa perjuangan mereka benar-benar untuk rakyat. Mereka tidak memilih gedung yang mewah sebagai tempat seromoni politik ini. Mereka ingin membaur dengan wong cilik, buruh, petani, nelayan, pedagang kecil, asongan, tukang ojek dan sebagainya. Bentar Gebang ingin menyampaikan pesan ini. Ekonomi kerakyatan harus diperjuangkan.

Namun sayang, deklarasi yang menurut hitungan Metro TV dihadiri oleh tak kurang 30.000 an massa ini, tidak menjelaskan langkah startegis apa yang akan diambil oleh Mega-Pro dalam memperjuangkan ekonomi kerakyatan. Pidato politik keduanya tidak secara eksplisit mau menjelaskan kepada rakyat kecil yang hadir pada saat itu, bagaimana ekonomi kerakyatan itu sesungguhnya. Bahkan, Prabowo pada sesi wawancara yang disiarkan secara live dengan entengnya berkata: “kita pasti akan senang jika semua rakyat miskin yang ada ini semuanya menjadi kaya.”

Mungkinkah cita-cita itu akan terwujud?. Ini adalah hari-hari dimana kata dan kalimat diumbar. Slogan dan semboyan diteriakan walau harus menabrak logika dan realitas. Hari dimana petarung-petarung itu melupakan jejak rekam langkah mereka pada masa lalu. Seolah kegagalan dan konsep pemikiran dimasa lalu, biarlah menjadi sejarah. Yang harus diobral adalah janji. Yang mau dibeli adalah suara rakyat. Dan disitulah esensi politik.

Politik adalah cara untuk mencapai tujuan. Dan diperlukan strategi yang mumpuni untuk mencapai itu. Segala cara halal dilakukan untuk mengapai kekuasaan. Tidak ada tema dan arena perjuangan yang paling strategis selain rakyat. Maka, semuanya harus dikalimatkan “demi rakyat.”

Maka sangatlah wajar jika Bentar Gebang dipilih untuk sebuah deklarasi perjuangan ekonomi kerakyatan. Walau tempat yang keseharian bau dan berlalat itu, harus dipoles dengan anggaran yang konon lebih dari 500 juta rupiah. Dipasanglah tenda dan panggung raksasa. Umbul-umbul dan bendera tidak ketinggalan sebagai pemeriah arena. Diundanglah para selebritis dan politikus. Ada seromoni dan sajian hiburan. Tidak ketinggalan pentas seni dan budaya. Bendera merah putih terbesar di Indonesiapun menutupi bukit sampah.

Puluhan ribu massa larut dalam deklarasi politik ini. Terbuai dalam sajian ala infotaintment, yang hari ini mengumbar janji, besok terlupa dalam kehidupan germelap kekuasaan. Sama halnya dengan infotainment yang hanya meminjam pemirsa sebagai jembatan untuk populer, politikus kini pula telah menjadi seorang entertaint, meminjam rakyat untuk mencapai tujuan. Semoga bau busuk sampah Bentar Gebang yang tiba-tiba menjadi wangi hari ini, tidak berhenti hanya pada deklarasi. Kita wajib menagihnya! Kalah maupun menang.