Ramadhan dan Praksis Takwa

0
24

Pewarta-Indonesia, Bulan Ramadhan 1430 H telah datang. Dapat dipastikan semua orang muslim di seluruh dunia berlomba-lomba untuk menyambut dan melaksanakannya. Di Indonesia sendiri, umat Islam padat agenda. Masjid, Mushola, majlis ta’lim dan tempat-tempat ibadah seluruhnya ramai dengan ritual peribadatan. Ibadah Ramadhan semakin menjadi semarak dengan banyaknya paket-paket ibadah dan kajian keislaman yang ditawarkan dan diliput live oleh media TV. Bulan Ramadhan sebagai syahrun mubarak (bulan yang penuh berkah), yang di dalamnya tersimpan keistimewaan yaum rahmah (bulan kasih), ampunan (yaum maghfirah), dan sekaligus kesempatan menjauh dari api neraka (itqun min al-nar) menjadi medan magnetic umat Islam untuk menggapainya.

Kegairahan (ghirah) ibadah ini tentunya menjadi indicator yang baik bagi keberagamaan di Indonesia yang akhir-akhir ini sedang diuji dengan stigma kekerasan dan terror atas nama agama. Pertanyaannya, seberapa efektif kegairahan ibadah di bulan Ramadhan ini mampu mensingkirkan pandangan nyinyir terhadap agama? Sekaligus mampu memperbaiki kualitas internal keagamaan muslimin di Indonesia? Membentuk pribadi saleh, saleh personal sekaligus social. Tidak hanya pada momen bulan Ramadhan, tetapi sekaligus mencipta dan melahirkan pribadi dan masyarakat muslim baru, masyarakat tamadun (berperadaban –istilah Nurcholis madjid) yang berlandas pada nilai ketakwaan (muttaqin).

Takwa Subtantif

Tidak dapat disalahkan memang, pandangan skeptis terhadap tercapainya tujuan puasa (muttaqin) ini. Terlebih melihat fenomena instans yang terjadi hampir di setiap bulan suci Ramadhan ini. Fenomena sosial yang terjadi setiap bulan puasa menjadi bukti empiris yang cukup kuat. Banyak perilaku orang yang berubah secepat kilat dan sangat berbeda dengan perilaku kesehariannya. Ramadhan bagai semisal magic yang mampu mengubah apapun hanya dengan mantra ‘abra-gedabra’. Hingga orang kemudian hanya peduli pada ritus-ritus sacral hanya dengan mengakrabi bulan puasa dan meningkatkan kesalehan personal tanpa mengerti subtansi ibadahnya.

Kualifikasi takwa digambarkan dalam al-Qur’an 2:3 adalah “orang yang beriman dan percaya pada yang gaib, mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rizki yang diberikan oleh Allah kepadanya”. Konsepsi Triadic antara kepecayaan pada yang gaib, internalisasi dalam diri dengan shalat dan sekaligus ekternalisasinya (praksis dari takwa) yakni dengan beramal baik kepada sesama.

Maqam takwa sendiri adalah sebuah perolehan simultan yang terus menjadi dan berproses secara berkesinambungan. Secara psikologis hal ini dapat digambarkan dengan hukum psikologi J. Peaget (Psikologi conditioning) bahwa jika seorang manusia sekali saja melakukan kejahatan, maka kesempatan untuk mengulangi perbuatan yang serupa semakin bertambah, sementara untuk melakukan perbuatan yang berlawanan semakin berkurang. Begitu juga sebaliknya dengan melakukan perbuatan yang baik selama Ramadhan dan konsisten setelahnya, maka dapat dipastikan seorang yang beriman hampir saja tidak bisa melakukan hal yang berlawanan; bahkan untuk sekedar memikirkannya sekalipun. Logika inilah yang secara psikologis ada di balik pola pemberdayaan puasa. Bahwa “tujuan puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa”. Kepada makna inilah idealnya dikembalikan semua prosesi ritual ibadah puasa Ramadhan kita, hingga tujuan puasa (muttaqin) bukanlah konsep yang kabur dan sulit untuk diraih.

Takwa Praksis

Puasa merupakan ibadah paling tua dalam peradaban umat manusia. Demikian juga bagi umat Islam, puasa menjadi ibadah paling istimewa di antara ibadah yang lain. Puasa dalam Islam merupakan momentum aktualisasi nilai-nilai saleh dan kesempatan berbuat yang terbaik (ahsan al-amal) tanpa memandang pamrih dan menghendaki publisitas. Sebagaimana disebut dalam hadis qudsi “puasa adalah untuk-Ku (Allah) semata, dan Akulah yang menanggung pahalanya”. Kerahasiaan puasa di sini merupakan nilai plus yang tidak ditemukan dalam ibadah lainnya. Hadis ini sekaligus bermakna bahwa muatan puasa secara subtantif hanya mempunyai dua tendensi, yakni kesadaran transcendensi dan internalisasinya. Internalisasi moral transcendental (Allah) pada pribadi manusia.

Dalam konsepsi teologis, nilai transcendental inilah yang menurut Fazlurrahman dalam Major Themes of the Qur’an, (1980) menempati puncak pyramid tertinggi dalam peribadatan dan kepercayaan kepada Tuhan. Al-Quran menerangkan bahwa mereka yang beriman dan bertakwa “adalah mereka yang mengimani kepada hal-hal yang gaib” (2:3). Percaya pada hal yang gaib dan menginternalisasikannya ke dalam diri inilah yang mampu menjaga seorang yang beriman  tetap pada posisi takwanya untuk kemudian memunculkan spirit keagamaan secara langsung yang mampu memberikan pengaruh perilaku hidup secara nyata. Sekali lagi dengan konsep internalisasi ‘yang gaib’lah yang hanya mampu mensterilisasi niatan aksi dari perbuatan baik di bulan Ramadhan kita. Siapa yang perduli dengan hinaan terlebih sanjungan, ketika tujuan ibadah seorang muslim melebihi hal-hal fisik dan inderawi? Bulan suci Ramadhan menjadi tonggak amalan sirri bagi orang-orang yang melaksanakanya.

Ajaran agama yang telah merasuk, mengendap dan kemudian dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari, merupakan pemahaman yang bisa dianggap paling mendekati sempurna. Takwa adalah hasil dari olah internalisasi nilai transcendental ilahiyah yang diperoleh dari filosofi sirri puasa. Pemahaman seperti inilah yang mampu membentuk moralitas agama yang berkomitmen pada tindakan nyata dengan amal saleh, peduli pada sesama tanpa mengenal orientasi nilai untung-rugi. Dengan kepedulian dan aksi nyata inilah Islam membedakan umatnya. Di dalam al-Qur’an disebutkan “mereka yang tidak mempunyai kepedulian terhadap agama sebagai orang yang mendustakan agama” (al-ma’un;1-3). Dengan argument serupa Asghar Ali Enginner dalam Islam and Its Relevance to Our Age (1993) menyatakan bahwa “orang ‘kafir’ bukanlah mereka yang berada di luar dan menentang agama Islam, tetapi mereka yang tidak memperhatikan tetangganya yang sedang kelaparan”. Ke arah aksi dan praksis social seperti inilah hasil dari puasa kita semestinya, yakni kepedulian sekaligus tindakan nyata untuk menolong sesama. Wa Allahu a’lam.

Mustatho’, Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Sengata (STAIS) Kutai Timur