Saat Ini, Semua Orang Bisa Jadi…..

0
35

Pewarta-Indonesia, Kota Kuwait – Saat itulah pertama kalinya saya menyadari bahwa orang yang amat cerdas, muda dan memiliki privilege juga bisa amat bodoh. Pada musim panas tahun 1989, dua orang teman Amerika saya dengan berpakaian Arab yang saya pinjamkan dan bersenjatakan pistol air “meneror” kampus Universitas Brown.

Sehari setelah pertunjukan “serangan” itu, seorang mahasiswa Arab Amerika membuat pertemuan publik untuk memprotes rasisme dari pertunjukan itu. Mengapa dia begitu marah?

Saya tidak memahaminya saat itu. Kini saya mengerti.

Baru-baru ini saya memberikan kuliah tentang landasan biologis perilaku di Universitas Kuwait. Dalam kuliah itu, saya membagikan dua artikel kepada mahasiswa kedokteran saya, satu dari New York Times dan satu lagi dari New York Magazine. Saya telah menghapus semua petunjuk berkenaan dengan identitas subjek dan lokasi dalam cerita itu. Saya meminta mahasiswa untuk membaca artikel itu dan menebak di mana cerita itu berlatar.

Artikel pertama berkisah tentang sekelompok pemuka agama, yang dikenal sebagai “Partai Tuhan”, yang mengkhutbahkan konsekuensi-konsekuensi serius bagi mereka yang tertangkap merayakan Hari Valentine. Mereka memperingatkan bahwa St. Valentine adalah santo Kristen dan karenanya merayakan hari itu berarti bertentangan dengan agama mereka. Mereka juga mengancam akan menikahkan pasangan yang tertangkap sedang bermesraan.

Kelompok lain yang tidak setuju dengan kelompok ini mendeskripsikan perilaku para pemuka agama ini sebagai “Talibanisasi.”

Para mahasiswa saya membayangkan orang-orang dari garis keras ini menyiksa orang-orang romantis yang malang, dan mereka pun bersuara bulat: ini hanya bisa terjadi di Arab Saudi.

Tapi para mahasiswa saya salah. Insiden tersebut ternyata terjadi di India dan Tuhan yang dimaksud dalam cerita itu adalah dewa Hindu. Jadi, tidak ada hubungannya dengan Islam.

Dalam artikel kedua yang saya berikan kepada mereka, seorang wanita mengeluh bahwa “Taliban bodoh” menyerangnya segera setelah seorang pria asing menghentikannya di jalan untuk mengatakan betapa lucunya bayi wanita itu. Ketika pria itu berlalu, tiga minivan segera mengepung wanita itu. Setengah lusin pria berjenggot melompat keluar dan mulai menginterogasi wanita itu di jalan: “Siapa dia? Apa yang dia inginkan?”

Untuk yang satu ini, para mahasiswa saya tidak sepakat dalam menentukan lokasinya – sebagian memilih Afghanistan dan sebagian lain menyebut Arab Saudi. Benak mereka dipenuhi dengan bayangan polisi moral bersenjata tongkat di jalan-jalan kota Kabul atau Riyadh.

Bayangan mental para mahasiswa itu hancur berantakan saat mengetahui bahwa “Komite untuk Peningkatan Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan” ini berkeliaran di jalan-jalan kota New York, dan mereka beragama Yahudi. Sekali lagi, Islam tidak terlibat disini.

Saya katakan kepada mahasiswa saya bahwa simpanse bisa berperang untuk melindungi teritori mereka. Saya bilang kepada mereka bahwa agresi terhadap orang lain yang tidak memiliki keyakinan yang sama dengan orang tersebut sebetulnya adalah perang juga. Hanya saja teritori yang diperebutkan adalah teritori intelektual; keyakinan agama merupakan garis intelektual yang tak kasat mata. Terakhir saya katakan pada mahasiswa saya bahwa para ekstrimis religius ini pasti benar tentang Darwin: jelas, tidak ada tanda-tanda evolusi di sini.

Saya melakukan aktivitas ini untuk mengajukan gagasan bahwa ekstrimisme itu tak lebih daripada sekumpulan syaraf yang bekerja terlalu lama – atau mungkin terlalu sedikit. Bukan Islam, Yudaisme atau Hinduisme yang menciptakan ekstrimisme; melainkan, karena sebagian orang memang cenderung terpengaruh dengan ekstrimisme dan mereka akan mengikutinya dalam agama apapun.

Namun menarik untuk melihat bahwa mahasiswa saya di Kuwait, dengan memilih Arab Saudi sebagai kemungkinan lokasi dari kedua cerita itu, tampaknya mengasosiasikan keyakinan mereka sendiri, Islam, dengan ekstrimisme.

Kenyataannya adalah, di dunia saat ini, setiap orang akan mencapai kesimpulan yang serupa. Di era internet dan televisi satelit, mahasiswa saya tidak terlindung dari kesalahpahaman dan kesalahan gambaran akan agama mereka seperti halnya mahasiswa Arab Amerika di Universitas Brown itu.

Tapi jika Muslim dibesarkan dengan mengidentifikasikan ekstrimisme dengan Islam, dan percaya bahwa itu adalah refleksi yang akurat dari agama mereka, maka kita akan memiliki masalah yang lebih besar daripada yang pernah kita bayangkan. Menyebutkan penyimpangan ini sebagai norma merupakan bahaya bagi kita semua. Karena itulah menjelaskan apa yang Islam dan apa yang bukan merupakan kewajiban dari setiap komunikator yang cakap di dunia multimedia saat ini.

Ditulis oleh Naif Al-Mutawa, pencipta The 99, kelompok pahlawan super yang karakternya berdasarkan asmaul husna. Artikel ini pertama kali diterbitkan di The Philadelphia Inquirer dan ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 17 April 2009

BAGIKAN
Berita sebelumyaReal Count KPU Resmi Dibuka
Berita berikutnyaKeriuhan (yang Gagal?) di Stasiun Kota Pada Malam Minggu
Koran Online Pewarta Indonesia atau disingkat KOPI adalah sebuah media massa nasional berbasis jurnalisme warga (pewarta warga) yang dibangun dan dikelola oleh Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI). Pimpinan redaksi KOPI adalah Wilson Lalengke, dibantu oleh ribuan penulis/pewarta lintas profesi, lintas agama, lintas strata sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan lain-lain dari seluruh nusantara dan luar negeri.