Sesuaikah Islam dan Aristoteles?

0
31

Pewarta-Indonesia, London – Semester ini saya memberi kuliah mengenai Aristoteles, demokrasi dan hukum di kampus University of London yang memiliki jumlah mahasiswa Muslim yang cukup besar. Dalam beberapa minggu ini, dua orang mahasiswa Muslim datang secara terpisah kepada saya, dan bertanya dengan gugup, apakah filsafat Aristoteles sesuai dengan Islam atau tidak.

Pertanyaan yang sangat menarik dan rumit.

Saya katakan kepada mereka bahwa Islam berjasa besar dalam melestarikan pemikiran Yunani. Setelah Kekaisaran Romawi jatuh bahkan hingga Abad Pertengahan, tradisi pengajaran Yunani mulai menghilang dari Eropa Barat. Pusat-pusat ilmu pengetahuan Muslim di Mediterania yang justru membuat pemikiran Yunani ini tetap hidup. Para filosuf Muslim seperti al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusydi menulis ulasan panjang tentang literatur Yunani awal yang membahas tentang demokrasi, teologi, psikologi dan tema lain yang hingga saat ini masih dipelajari sebagai karya-karya klasik.

Pada akhir Abad Pertengahan, terjemahan-terjemahan Arab tentang Aristoteles yang justru muncul di Barat. Mereka yang memperkenalkan kembali logika dan dialektika ke dunia Kristen abad pertengahan. Mereka menandai bangkitnya tradisi Yunani-Romawi klasik yang akhirnya berpuncak pada lahirnya renaissance di Italia.

Selama berabad-abad, melalui berbagai kekaisaran dan perang agama, melalui kebangkitan dan kejatuhan peradaban, adalah filsafat Yunani yang justru bisa mengalir dengan luwes dalam tradisi Islam, Kristen dan Yahudi. Kita bisa lihat contoh terbaiknya ketika Islam berkuasa di Spanyol.

Meski demikian, banyak yang masih bersikeras bahwa filsafat sekuler bertentangan dengan Islam. Mahasiswa muslim yang mendekati saya itu, seperti anak muda Muslim lainnya di Barat, berhadapan dengan dilema ini. Bahkan untuk sekedar mengambil mata kuliah hukum dan etika pun, dilema yang melibatkan identitas itu pun muncul.

Siapa pun yang akrab dengan Plato tahu bahwa tidak ada yang tabu dalam filsafat Yunani, bahkan ajaran agama sekalipun. Logika, alam, etika, politik, bahkan seni, musik dan sastra harus bisa dijustifikasi dengan akal. Tak ada satu pun adat, tradisi atau agama yang bisa lepas dari penelitian mereka. Bahkan keberadaan Tuhan atau dewa– harus dipertanyakan jika tak ada alasan yang cukup untuk mendukungnya.

Bagi mereka yang percaya bahwa hidup manusia bermakna bila mereka memadukan agama dan akal, bacaan Yunani kuno memang bisa meresahkan. Umat dari berbagai agama terkadang menghindari filsafat sekuler. Padahal, agama, seperti ilmu pengetahuan, akan menutup pikiran jika ia membuat orang-orang menyatakan, secara terbuka atau tertutup, bahwa, “Kita memiliki segala kebenaran yang kita butuhkan dan tidak memerlukan filsafat!”

Dua orang mahasiswa saya tidak punya keinginan untuk menutup pikiran mereka. Mereka memutuskan bahwa Islam yang mereka fahami tidak menghalangi mereka untuk bersikap kritis terhadap etika, sejarah dan masyarakat. Mereka memeluk Islam karena mereka yakin Islam akan membawa mereka ke dunia yang lebih luas, bukan untuk menutup mereka darinya. Mereka tidak takut terhadap Aristoteles. Mereka, seperti Aristoteles, adalah perantara dari akal mereka sendiri. Mereka melihat dialog yang hidup dalam tradisi Yunani, bukan dogma yang rapuh. Aristoteles, seperti halnya forum pendidikan dan budaya antar iman, tidak menjadi ancaman bagi mereka.

Hasil jajak pendapat yang belum lama ini dilaksanakan untuk BBC menunjukkan bahwa 80 persen Muslim Inggris, berbeda dengan umat Kristen, mendukung adanya peran yang lebih besar bagi agama Kristen dalam kehidupan orang Inggris. Angka tersebut 10 persen lebih banyak daripada jumlah umat Kristen yang memberikan dukungan. Bagaimana itu bisa terjadi? Bukankah agama Kristen telah menjadi musuh Islam selama berabad-abad?

Nampaknya, Muslim di Barat, termasuk dua mahasiswa saya itu, yakin bahwa budaya, tradisi agama atau intelektual adalah hal yang interaktif dan dinamis. Muslim mengundang umat non-Muslim untuk menilai kembali warisan mereka karena mereka tahu bahwa membuka pikiran terhadap satu tradisi adalah satu cara untuk membuka pikiran terhadap tradisi lain.

Intoleransi masa lalu tidak perlu menjadi rintangan bagi masa depan yang toleran. Muslim mendorong umat non-Muslim untuk merayakan masa lalu yang penting. Tetapi dengan merayakannya tidak berarti bahwa masa lalu itu atau masa lalu lain bisa bebas dari kritik.

Dalam beberapa tahun terakhir, tajuk utama koran dan toko buku dipenuhi dengan slogan yang sangat simplisistis: ilmu pengetahuan versus agama, akal versus iman, Barat versus Islam. Padahal, dengan pertentangan seperti itu, Barat dan Islam tidak akan memenuhi aspirasi tertinggi mereka. Justru, mereka bisa memenuhinya bila pengetahuan berinteraksi secara konstruktif dengan agama, akal dengan iman, dan Barat dengan Islam.

Meski banyak yang sudah mengacuhkan Islam, dan juga agama lain, karena dianggap sebagai perwujudan dari kebodohan, kedua mahasiswa saya, dan para intelektual Muslim di berbagai belahan dunia lain, justru membuktikan sebaliknya. Seperti para pendahulunya di abad pertengahan, mereka mencari keterbukaan dalam Islam, dan bukan ketertutupan. Mereka menggunakan Islam untuk memperdalam pengertian mereka tentang tradisi lain, dan menggunakan tradisi lain untuk memperdalam pengertian mereka tentang Islam.

Oleh: Eric Heinze, Profesor Ilmu Hukum dan Humaniora di Queen Mary University of London.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews) www.commongroundnews.org

Anda punya berita, artikel, foto, atau video? Publikasikan di sini
Kontak Redaksi di [email protected]