SUARA PENGUNGSI PAKISTAN: Mengapa Saya Harus Didikte oleh Taliban?

0
28

Oleh: Mustafa Qadri*)

Pewarta-Indonesia, Karachi, Pakistan – Pakistan kini tengah melancarkan operasi terbesarnya terhadap Taliban di daerah Swat dan sekitarnya. Sejumlah kecil pengungsi telah mulai kembali ke daerah tersebut karena upaya dari pemerintah, namun ada kurang lebih 2,5 juta orang yang diyakini telah melarikan diri dari kawasan pegunungan yang dulu damai dan indah itu. Di sebuah kamp di Risalpur, 50 mil selatan daerah pertempuran, saya bicara dengan beberapa pengungsi.

“Kami berjalan kaki dari Mingora ke Kokkari, lalu kami pergi ke Sangar… sekitar sembilan mil, [sebelum naik bis ke Risalpur],” kata Mohammad Yahya, mantan kepala suatu desa dekat Mingora.

Seluruh warga, termasuk perempuan, anak-anak dan lansia, mengungsi melewati dataran-dataran tinggi pegunungan. Hampir semua dipaksa berjalan kaki karena transportasi umum terlalu berbahaya dan mahal.

Para warga pengungsi menjalani hidup sangat sederhana, berkerumun berdesakan dalam rumah-rumah kecil atau tenda-tenda tanpa air dan listrik.

Mereka adalah orang-orang yang hidup di gunung sepanjang hidupnya dan tak terbiasa dengan hawa panas di distrik-distrik dataran rendah Mardan dan Risalpur, ataupun Peshawar, tempat mereka mengungsi. Diare, dan penyakit lain yang disebabkan oleh air yang kotor dan diperparah oleh panas sangat biasa ditemukan disana, terutama di kalangan anak-anak.

“Suatu malam ada serangkaian ledakan di pinggir desa,” kata Mannu, 11 tahun siswa sebuah sekolah, yang saya temui di salah satu pemukiman di kawasan industri Risalpur, yang diberikan untuk para pengungsi oleh pengusaha lokal. Semua warga desa Mannu, sekitar 13 keluarga, kira-kira 200 orang, memutuskan untuk meninggalkan rumah-rumah mereka setelah ledakan tersebut.

Mengungsi hanya salah satu dampak dari perang ini. Swat terkenal dengan produksi buah dan tanaman-tanaman budidaya lainnya yang beragam. Karena konflik dimulai pada puncak musim panen akhir Mei lalu, para warga yang umumnya petani kehilangan banyak penghasilannya tahun ini.

Mingora, kota terbesar di Swat dan salah satu pusat pertempuran antara Taliban dan tentara Pakistan, telah dijadikan benteng oleh para pemberontak. Mingora dikuasai kembali setelah serangan militer besar-besaran yang, menurut orang-orang setempat dan sumber-sumber tentara tak resmi, membunuh jauh lebih banyak warga sipil daripada anggota kelompok militan.

Akan tetapi, ketika ditanya siapa yang bertanggung jawab atas krisis ini, tampak bahwa para pengungsi sangat marah kepada Taliban lantaran mereka merusak kampung-kampung mereka yang dulunya damai.

“Orang-orang Taliban ini mengatakan mereka berperang demi kebesaran Islam,” kata Purmanari. “Mereka mengatakan tak ada Islam di Swat. Lantas memangnya kami ini bukan Muslim?”

“Taliban mengatakan mereka ingin syariat Islam, tapi syariat Islam macam apa ini—membunuh dan menjarah? Ini hanya main-main bagi mereka,” kata Mannu.

Mannu berani bersekolah di sebuah kawasan Swat di mana Taliban secara terbuka melarang perempuan bersekolah. “Saya tak takut ke sekolah,” katanya menantang ketika ditanya tentang sekolahnya. Dengan mengambil resiko terluka karena Taliban merusak lebih dari 200 sekolah, Mannu terus mendatangi salah satu dari segelintir sekolah yang tetap buka sebelum ia akhirnya mengungsi bersama keluarganya.

“Kami tak takut karena kami melakukan hal yang benar,” kata Ziauddin Yousufzai, seorang guru. “Orang-orang yang menghalangi murid-murid perempuan mendapatkan pendidikan, mereka harus takut. Islam mengajari kami bahwa mendapatkan pendidikan adalah kewajiban setiap orang. Ini adalah ajaran Nabi Muhammad. Saya berhak atas Islam seperti halnya Taliban.

Mengapa saya harus didikte oleh Taliban? Islam justru mendorong saya memberikan pendidikan pada anak-anak saya karena pendidikan adalah cahaya dan kebodohan adalah kegelapan.”

Kegelapan sepertinya telah menyelimuti Swat. Namun para pengungsi menggunakan puisi, seperti kata-kata Mannu ini, untuk menerangi situasi sulit mereka: “Swatku yang elok telah terbakar, tak hanya dari satu sudut, tapi dari mana-mana./ Api telah menyelimuti semuanya—masyarakat kami, adat istiadat kami, sekolah kami, pasar kami./Swatku yang indah, dengan lembah-lembah dan puncak-puncaknya, bunga-bunganya yang harum, semuanya telah kehilangan kilaunya./ Di segala penjuru ada perang. Orang-orang, yang tertawa, yang bernyanyi, kini berdiam diri./ Sungai Swat yang dulunya begitu indah dan damai telah mengering./ Aku memohon pada-Mu Tuhan, kembalikan surga, Swat yang damai, yang kukenang.”

*) Penulis, Mustafa Qadri, adalah koresponden Timur Tengah dan Asia Selatan untuk majalah The Diplomat dan newmatilda.com.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews)

BAGIKAN
Berita sebelumyaDPD RI Kembali Raih Predikat WTP
Berita berikutnyaPada Suatu Hari di Taman
Koran Online Pewarta Indonesia atau disingkat KOPI adalah sebuah media massa nasional berbasis jurnalisme warga (pewarta warga) yang dibangun dan dikelola oleh Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI). Pimpinan redaksi KOPI adalah Wilson Lalengke, dibantu oleh ribuan penulis/pewarta lintas profesi, lintas agama, lintas strata sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan lain-lain dari seluruh nusantara dan luar negeri.