Tafsir dan Pengalaman Keagamaan Efektif Mengkriminalkan Rakyat Kecil

0
29

Pewarta-Indonesia, Kala, mudik di Kampung halaman, Darussalam Bungbulang (Kandangwesi) Garut Selatan sambil nonton tv. Aku dikejutkan dengan pemberitaan “Lagi, Nabi Nalsu Muncul di Lombok”. Ayahku berkata “Akibat ngandelkeun otak wungkul. Kieu we jadina perilaku jelema teh [Akibat terlalu mengandalkan rasio. Binilah jadinya perilaku manusia sekarang],” komentarnya

Sosok Abdullah alias Amaq Bakri alias Papuq Junaedi yang berada di Dusun Bebile Desa Sambalia Kecamatan Sambelia Lombok Timur ini “Mengaku pernah mi’raj ke langit ketujuh dan melihat Surga”. Benarkah?

Penasaran dengan liputan itu, kuhubungi Yusuf Tantowi, koordinator Islam dan Pluralisme, Lembaga Studi Kemanusiaan (LeNSA) NTB via pesan singkat, Ia memberikan penjelasan “Sebenarnya dia ga pernah mengaku nabi, tapi itu pengalaman spiritual yang yang diceritakan kepada orang lain. Nah, orang itu yang mengebarkannya” jawabanya

Kasus ini sudah lama, tapi kenapa sekarang diributin? tambahnya.

Saat ditanya adakah ini upaya menyingkirkan persoalan teroris, Ia menjawabnya “Ga tau, tapi yang jelas isu-isu agama yang tafsir dan pengalaman keagamaan yang berbeda dengan mayoritas masih efektif untuk mengkriminalkan rakyat kecil”

Tak puas dengan jawaban Yusuf, kuminta Achmad Jumaely, Kordinator Jaringan Islam Kampus (JaRIK) mengomentari pengalaman keagamaan Amaq Bakri, “Ini kasus sudah lama. Ia tak pernah mengaku diri sebagai nabi. Hanya orang-orang yang tak sepakat dengan Abdulah menyebutnya Nabi” paparnya

Coba lihat saja, hasil pemberitaan Lombok Post, edisi Selasa 13 Oktober 2009 yang dimau kembali pada Blog JaRIK Mataram (jarikmataram.wordpress.com), Ia membantah isu bahwa dirinya pernah mengaku nabi. Sebutan nabi sebenarnya diberikan dua orang yang mengaku wartawan dari Jawa dan pernah mewawancarainya. ‘’Dia langsung bilang berarti anda ini nabi. Saat itu saya stop ucapan mereka. saya tidak mengaku nabi,’’ katanya.

Hanya saja, Amaq Bakri tidak menolak jika ada orang yang menjulukinya nabi. Menurutnya itu hak setiap orang. ‘’Orang boleh panggil saya apa saja, yang penting bukan saya yang mengatakan begitu,”

Tahun 1990-an ajarannya pernah menghebohkan Desa Sambelia dan berujung penyidangan dirinya di kantor kecamatan. “Saya ingat itu tahun 1997 dan 9 kali saya di sidang. Saya malu sekali saat itu, dipertontonkan seperti maling,” ujarnya.

Kasus ini bermula ketika ia menuturkan pengalaman spritualnya kepada beberapa orang. Dalam pengalamannya itu, ia mengaku naik ke langit ketujuh dan melihat langsung surga. “Bahasa dunianya mi’raj,” tegasnya.

Bakri mengaku kejadian seperti ini dua kali, pertama tahun 1970 dan kedua tahun 2005. Pengalaman tahun 2005 bahkan lebih dalam, ia menuturkan masuk ke alam roh. Pengalaman inilah yang ia tuturkan dan membuat gempar masyarakat sekitar. Karena hasil perjalanannya banyak yang dinilai tidak masuk dalam akal sehat masyarakat sempat menyebutnya Gila.

Beberapa pengalaman yang diceritakan amaq bakri, saat Isra’ Mi’raj itu ia dapat melihat syurga secara langsung, merasakan dan berintraksi dengan alam akhirat, sempat berganti hidup, menerima kedudukan sebagai “Pande” yang dia analogikan seperti tukang Pande Besi. Ia mengibaratkan dirinya mendapat kedudukan sebagai Pande Manusia. Ia juga mengatakan di nobatkan allah sebagai Jawa’, sebagai penunjuk jalan yang benar. Tak hanya itu, Amaq Bakri dinobatkan seagai “Nandang” atau setiap ucapan yang dia katakan merupakan kebenaran, penyeru amar ma’ruf nahi munkar.

Amaq Bakri mengaku beberapa waktu lalu pernah ada muballigh yang datang ke tempatnya dan diminta untuk bertaubat. Muballigh itu bahkan sempat mengikuti pengajian-pengajiannya serta berdiskusi dengannya. Amaq bakri meduga muballigh inilah yang menyebarluaskan pemikirannya ini.

“Dia memang merekam dan katanya mau membuat jadi kaset,” tambahnya. [Ibn Ghifarie]