Tentang “Memusuhi Orang Kafir” dalam Islam

0
28

Oleh: Maher Y. Abu-Munshar*)

Pewarta-Indonesia, Kuala Lumpur – Sekalipun ada sejumlah karya ilmiah dan kabar berita yang menyatakan sebaliknya, banyak orang masih mempunyai anggapan keliru bahwa Muslim tidaklah bisa toleran, hidup berdampingan, atau bekerja sama dengan para penganut agama lain. Ini salah satunya karena para ekstremis Muslim sendiri sering menyalahgunakan ayat-ayat al-Qur’an untuk membenarkan aksi-aksi kekerasan terhadap non-Muslim.

Tafsiran-tafsiran itu keliru. Nyatanya banyak ayat dalam al-Qur’an menyerukan persahabatan, perlakuan adil dan kerja sama dengan non-Muslim. Namun ayat-ayat ini diabaikan oleh mereka yang ingin menciptakan perpecahan untuk menyulut bara dalam sekam.

Ayat-ayat al-Qur’an yang disalahgunakan itu misalnya: “Janganlah orang beriman menjadikan orang kafir sebagai sekutu atau pelindung, melainkan orang beriman” (3:28) dan “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai sekutumu; mereka bersekutu satu sama lain. Siapa di antara kamu yang menjadikan mereka sekutu, sesungguhnya dia termasuk golongan mereka” (5:51).

Ayat-ayat ini haruslah dilihat sebagai ayat-ayat yang memberikan dukungan yang diperlukan untuk mempertahankan dan menyatukan komunitas Muslim awal—Nabi Muhammad dan para pengikutnya yang hijrah ke Madinah—yang masih belum kokoh dan berada di lingkungan yang tidak bersahabat.

Dengan kata lain, al-Qur’an saat itu tengah menasihati komunitas Muslim di Arab abad ke-7 itu untuk berhati-hati dalam membuat aliansi politik. Dan memang saat itu mereka dikhianati oleh beberapa dari sekutu Yahudi mereka. Ayat-ayat ini diwahyukan terutama karena beberapa Muslim, demi keuntungan pribadi, ingin membentuk atau mempertahankan aliansi dengan non-Muslim meski dengan mengorbankan saudara seagama sendiri dan masyarakat yang baru saja dibentuk. Karena itu ayat-ayat ini memerintahkan kaum Muslim awal itu untuk mandiri dan tidak bergantung pada perlindungan orang lain demi menciptakan sebuah komunitas yang kuat dan bisa bertahan lama.

Seperti ayat-ayat tadi, ayat-ayat yang lain juga dikutip keluar dari konteksnya, sehingga dengan mudah menyesatkan para pembaca yang minim informasi dan tidak memahami al-Qur’an dengan baik. Ayat seperti, “Dan bunuhlah mereka di mana kamu temui mereka …” (2:191) sering dikutip oleh banyak ekstremis Muslim dan juga non-Muslim untuk menunjukkan adanya kebencian Islam terhadap non-Muslim.

Namun, ayat ini juga dipahami lepas dari konteksnya, karena ayat sebelum dan sesudahnya justru menyatakan bahwa Muslim tidak seharusnya menjadi agresor dan semestinya hanya melindungi diri dari penganiayaan. Konteksnya kemudian menjadi jelas: ayat ini diwahyukan atas sebuah kejadian khusus terkait dengan kaum musyrik Arab yang melanggar perdamaian dan mengingkari gencatan senjata pada waktu itu. Dengan kata lain, perintah ini hanya bisa berlaku untuk peristiwa khusus itu.

Syekh Yusuf al-Qaradawi, seorang cendekiawan muslim terkemuka dari Mesir, menunjukkan bahwa ayat-ayat ini bukanlah tidak bersyarat, dan tentu tidak bisa diterapkan ke setiap orang Yahudi, Kristen atau non-Muslim. Dengan melepaskan ayat-ayat itu dari konteks spesifiknya yang berkaitan dengan peristiwa sejarah Muslim di masa lalu, mereka sebenarnya melanggar perintah lain dalam al-Qur’an yang menyerukan perbuatan baik kepada mereka yang tidak menyakiti kaum Muslim.

Baik Muslim maupun non-Muslim harus membedakan ayat-ayat al-Qur’an yang khusus terkait dengan konteks tertentu dari ayat-ayat yang universal dengan juga membaca ayat-ayat yang membingkai ayat-ayat yang diperselisihkan itu.

Penting untuk mengingat bahwa pesan penghormatan bagi kebebasan beragama juga tersebar di banyak tempat dalam al-Qur’an, di antaranya: “Tidak ada paksaan dalam agama” (2:256); “Sesungguhnya orang-orang yang beriman (kepada yang diwahyukan kepadamu, Muhammad), dan orang-orang Yahudi, Nasrani, serta Sabiin—siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhan mereka, dan tak perlu ada rasa takut pada mereka, dan tidak perlu mereka bersedih” (2:62).

Bahkan hubungan ideal antara Muslim dan non-Muslim digambarkan secara amat baik dalam dua ayat al-Qur’an (60:8-9). Ayat-ayat ini—yang menasihati Muslim untuk memperlakukan penganut agama lain secara adil—menggunakan sebuah kata yang berasal dari akar kata birr, yang merujuk pada jenis kebaikan dan keadilan yang sudah mengakar. Al-Qur’an menganjurkan agar birr menjadi dasar hubungan antara Muslim dan non-Muslim—perintah yang juga al-Qur’an berikan menyangkut hubungan dengan orangtua kita.

Kini, ketika para ekstremis mengutip ayat-ayat tadi keluar dari konteksnya untuk membenarkan terorisme, menjadi penting untuk memahami al-Qur’an secara lebih seksama. Semua Muslim perlu memadukan pembacaan kitab suci dengan pemahaman mendalam tentang perintah-perintahnya. Karena mayoritas Muslim tidak bicara dalam bahasa Arab, yakni bahasa yang digunakan al-Qur’an, mereka perlu merujuk pada sumber-sumber tafsir dan terjemahan yang terpercaya dan tidak mengikuti tafsiran yang keliru dan tak berdasar. Ini tentu dapat membuka jalan untuk memberantas kesalahpahaman dan penyalahgunaan al-Qur’an untuk tujuan-tujuan kekerasan, dan alih-alih, mendorong visi universal al-Qur’an: toleransi setulus hati dan keberdampingan damai semua manusia.

*) Dr. Maher Y. Abu-Munshar ialah dosen tamu di Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam, Universiti Malaya, Malaysia, dan penulis Islamic Jerusalem and its Christians: A History of Tolerance and Tensions (IB Tauris, 2007).

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews).

BAGIKAN
Berita sebelumyaPPWI Bekerjasama dengan Depdagri akan Gelar Sisingaan
Berita berikutnyaMembawa Pulang Pelajaran Haji
Koran Online Pewarta Indonesia atau disingkat KOPI adalah sebuah media massa nasional berbasis jurnalisme warga (pewarta warga) yang dibangun dan dikelola oleh Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI). Pimpinan redaksi KOPI adalah Wilson Lalengke, dibantu oleh ribuan penulis/pewarta lintas profesi, lintas agama, lintas strata sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan lain-lain dari seluruh nusantara dan luar negeri.