Tradisi Ricuh dan Merdeka

0
19

Pewarta-Indonesia, Masih segar dalam ingatan, adu kuat dan cecar batu yang dilakukan antar mahasiswa di salah satu perguruan tinggi bergengsi di Makassar tahun lalu. Kericuhan terjadi karena ketidakterimaan perlakuan –yang sebetulnya sepele – mahasiswa fakultas satu dengan fakultas yang lain. Dengan semangat empat lima, kepalan pun bicara. Saling timpuk terjadi.

Akibatnya, banyak yang meradang. Fasilitas kampus hancur berantakan. Ini realitas, tindakan vandalis kembali tumpah ruah di ranah akademis. Kejadian itu bukan kali pertama. Bahkan seolah telah menjadi tradisi.

Selain itu, gerakan turun ke jalan yang – sekali lagi – dilakukan mahasiswa yang mewakili civitas kampus, sering kali berujung pada, maaf, kesewenang-wenangan. Ketika terjadi chaos antara aparat (polisi dalam hal ini), misalnya, jalan yang terbaik yang biasa dilancarkan adalah melakukan provokasi dan memanas-manasi massa agar terus ”melawan” yang pada akhirnya berakibat pada pengrusakan.

Fasilitas umum pun menjadi target pelampiasan. Pagar betis Pak Polisi didorong disertai umpatan yang membuat telinga sang abdi bangsa itu memerah. Tidak cukup sampai disitu, pagar bangunan kantor walikota, gubernur, dan atau istana negara, dimana mereka beraksi, pun digoyang-goyang. Asset milik negara pun jatuh hancur bergelimpangan. Setelah itu, tidak ada yang mau bertanggung jawab. Semua saling melempar kesalahan.

Itu di dunia kampus, belum di bidang yang lain, sepakbola misalnya. Sudah menjadi kemafhuman setiap penikmat sepakbola yang kerap menyaksikan adegan adu jotos di lapangan hijau. Penyebabnya beragam. Terkadang dimulai dari pemain sendiri yang mungkin melakukan tacklingan yang tidak wajar kepada pemain lawan. Protes pun terjadi dibarengi makian. Yang dimaki tidak terima akhirnya melayangkan pukulan. Yang lain terprovokasi dan akhirnya terjadilah yang seharusnya tidak terjadi.

Biasa juga sebabnya oleh tindakan tidak bersahabat oleh supporter terhadap pendukung keseblasan yang lain. Wasit juga sering kali menjadi kambing hitam. Keputusan-keputusannya yang dianggap merugikan salah satu tim akan berakibat ricuh. Selain itu, wasit sering dianggap berat sebelah. Ada semacam keberpihakan untuk cenderung memenangkan tim yang satu di atas tim yang lain.

Pun pada pertandingan antar kampung, misalnya, pertandingan yang berlangsung tak ubahnya tontonan saling adu kesaktian. Ada mantra magis yang dilafazkan oleh orang khusus untuk memenangkan kubu yang satu. Sehingga tak jarang ada pemain yang tiba tiba, katanya, tidak bisa melihat bola, bola terasa berat membatu untuk ditendang, dan keanehan-keanehan lain yang kontra logika.

Ketika pertandingan sepabbola selesai, ternyata masih ada pertandingan ritual sebagai bumbu penutup. Apa itu? Apalagi kalau bukan saling cemooh yang berekor pada penjegalan dan pengejaran. Di sini seringkali para pemainnyalah yang banyak mendapat perlakuan kasar oleh ”oknum” karena dianggap telah ini atau itu dan apalah. Jelas pertandingan sepakbola antar kampung tidak terlalu peduli dengan keterlibatan aparat sebagai pengaman untuk keberlangsungan kompetisi.

Di masyarakat kitapun, tindakan kekerasan dan penganiayaan sudah lumrah kita temui. Pemberitaan di media massa dan elektronik banyak yang mengetengahkan fakta ini. Seorang pencuri, misalnya, tertangkap tangan membawa kabur seeokor ayam tetangga. Pencuri tersebut pun disoraki ”maling… maling…maling” yang mengakibatkan nyawanya berakhir tragis. Dia dipukuli secara berjamaah. Kemudian setelah itu dia dibakar hidup-hidup. Dia dibakar hanya karena tertangkap tangan mencuri seeokor ayam.

Setimpalkah itu? Entahlah, semua orang tentu berbeda pandang dalam menyikapi kejadian ini. Pertanyaannnya, sekejam itukah kita? Seseorang yang hanya mencuri seekor ayam berujung pada pembakaran. Padahal dia sudah dipukuli, dijambak-jambak, dikoyak-koyak, dan itu dilakukan secara beramai-ramai pula. Kita akui, kemuakan terhadap perilaku kejahatan mengambil milik orang lain seperti itu sudah sangat akut menggantung di kepala kita. Sehingga tindakan pembakaran seperti kasus tadi tampak bisa dimaklumi. Tapi –sekali lagi – sekejam itukah kita sebagai warga Indonesia yang katanya memiliki kekhasan sopan-santun dan penerimaan?

Dijajaran birokrat, para politisi yang duduk di kursi empuk gedung dewan perwakilan rakyat sering kali juga mempertontonkan kepada rakyat bagaimana menjadi ”petarung yang baik”. Tentu kita masih ingat betul ketika anggota DPRD di salah satu wilayah Indonesia melangsungkan rapat panitia anggaran yang semula berjalan lancar berakhir dengan bumbu saling jual-beli pukulan dan lempar batu yang melibatkan tiga orang anggota DPRD di gedung milik rakyat tersebut.

Di Senayan Jakarta, seperti dilansir Inilah.com (16/05/08) pun pernah terjadi perkelahian antar anggota Dewan. Ali Mochtar Ngabalin, politisi PBB, nyaris berkelahi dengan Marzuki Darusman saat Komisi I DPR menggelar rapat dengar pendapat dengan Direksi TVRI. Rapat yang membahas isu perubahan di TVRI itu akhirnya di skor.

Masih dari sumber yang sama, pada Selasa 28 Agustus 2007, dua anggota Komisi A DPRD Banyuwangi, Jawa Timur, yakni Bomba Sugiyanto dari PDI Perjuangan dan Cung Lianto dari PPP, berkelahi di Hotel Agro Kusuma, Batu, Jatim. Jauh sebelum itu, 20 Desember 2002, dua anggota DPRD Surabaya dari Fraksi PDI-P terlibat perkelahian. Dalam aksi adu jotos di ruang Komisi A Gedung DPRD itu, Isman sempat memukulkan kursi lipat ke punggung Baktiono.

Itulah sederet contoh betapa kerangkeng emosi amarah dan perilaku anak bangsa ini acap kali tidak terkontrol. Mulai dari kasus sederhana sampai pada urusan yang sangat pelik, penyelesaiannya kerap berakhir dengan bumbu kekerasan yang tidak manusiawi. Kondisi seperti ini tidak terbatas pada kasus yang saya ketengahkan di atas, tapi telah merambah ke semua aspek kehidupan. Seolah kekerasan adalah jalan penyelesaian yang terbaik. Setelah itu dianggapnya masalah akan benar-benar selesai. Tentu tidak juga, bukan? Bahkan bisa memunculkan perkara baru yang lebih rumit.

Tentu kita tidak bisa menggeneralisir praktek berprilaku seperti itu terhadap semua warga negara Indonesia. Tidak semua pastinya, tapi sebagai warga negara yang baik hal ini layak kita renungkan. Negara Indonesia yang sudah puluhan tahun meredeka ini sangat riskan terkena dampak dengan kondisi masyarakatnya yang terkesan masih tertekan ini. Sehingga dengan ketertekanan itu melahirkan banyak unsure-unsur negatif yang menjurus pada ketidakmanusiaannya manusia dalam bertingkah.

Menurut saya, salah satu yang berpengaruh yang menyebabkan anak bangsa ini cenderung berniat untuk bertindak represif dan anarkis adalah karena ketidakadaannya rasa tentram, damai, dan dilindungi yang dirasakannya. Oleh pemerintah, hal ini mestinya menjadi perhatian serius. Sehingga lihatlah, ketika ada seseorang yang ketahuan jambret di tempat umum, misalnya, bisa dipastikan dia akan tewas di tempat. Massa akan ”menggerayanginya” habis-habisan bahkan membakarnya. Ini bukti bahwa masyarakat belum betul-betul merasa aman. Belum benar-benar merdeka.

Sebuah bangsa baru bisa dikatakan benar-benar merdaka jika rakyatnya sudah merasa –juga secara nyata – aman dan nyaman dari segala bentuk penindasan dan kesewenang-wenangan walaupun mungkin dia masih tak berkecukupan dari sisi materi dan seluk beluknya. Tradisi ricuh dan kebrutalan, jelas itu tidak menggambarkan kalau rakyat Indonesia telah merdeka.

Bayang-bayang kekerasan dan brutalisme masih sangat rentan terjadi di negeri ini. Bukan saja itu di kampus, di lapangan, atau di gedung-gedung dewan perwakilan rakyat, tapi juga sensitif sekali bisa menjalar ke ranah komunitas, agama, etnis, dan ras.

Sehingga yang patut menjadi perhatian pemerintahan saat ini dan yang akan datang – dan semoga ini tidak hanya menjadi barang jualan caleg atau Partai Politik – adalah masalah keamanan dan kenyamanan.

Jika sudah aman dan nyaman, maka secara otomatis akan melahirkan suasana yang kondusif sehingga memungkinkan rakyat lebih produktif, terlindungi hak-haknya, dan lebih berpacu dalam berkompetisi secara sehat di bidang masing-masing. Disanalah nanti merdeka akan benar benar terwujud bagi negeri tercinta ini. Damai, Merdeka…!!!!

Sumber image: google.co.uk