Tuhan Punya Banyak Nama

0
18

Oleh: Sundus Rasheed*)

Pewarta-Indonesia , Karachi, Pakistan – Ada banyak yang bisa kita pelajari dari serangan ke beberapa gereja di Malaysia baru-baru ini yang dipicu oleh penggunaan kata “Allah” oleh orang Kristen Malaysia, yang menyulut perpecahan di tengah masyarakat yang beragam.

Konflik bermula ketika pemerintah menerapkan pelarangan impor buku-buku agama oleh Gereja Evangelis Sabah di Borneo tahun lalu, dan melarang penggunaan kata “Allah” oleh orang-orang Kristen. Sebuah media Katolik Roma, The Herald, juga menerima peringatan berulang dari pemerintah bahwa izinnya akan dicabut jika terus menyebut Tuhan dengan kata “Allah”.

Meskipun pemerintah Malaysia belakangan menarik kembali dan mencabut pelarangan itu, dan mengizinkan The Herald menggunakan kata “Allah” untuk menyebut Tuhan, pencabutan larangan ini berbuntut serangan bertubi-tubi oleh kelompok ekstremis terhadap gereja dan sekolah Katolik di Malaysia.

Pelarangan tersebut adalah produk undang-undang tahun 1986 yang melarang non-Muslim menggunakan kata-kata tertentu yang berasal dari bahasa Arab seperti “Allah”, “Baitullah”, “salat” dan “Ka’bah”.

Penerapan ketat undang-undang ini telah menjadi jurang pemisah antar beberapa komunitas agama, seperti terlihat dalam kekerasan baru-baru ini. Tapi minoritas Malaysia telah menghadapi kesulitan serupa bahkan sebelum kejadian pembakaran gereja tersebut.

Mayoritas orang Melayu-kelompok etnis terbesar di Malaysia-adalah Muslim, menyisakan kesempatan yang sangat terbatas bagi kalangan agama minoritas untuk dapat mengenyam pendidikan tinggi atau menduduki jabatan publik. Pasal 153 undang-undang dasar Malaysia menjamin posisi istimewa mayoritas orang Melayu dan kelompok-kelompok pribumi lain di Malaysia. Akibatnya, dibuatlah peraturan tentang kuota bagi orang Melayu di bidang layanan publik, beasiswa dan pendidikan publik, yang membuat mereka benar-benar teristimewakan.

Dalam blog “1Malaysia”-yang ditujukan untuk membangun perdamaian dan melibatkan masyarakat dalam proses-proses pemerintahan-Perdana Menteri Najib Razak mengutuk serangan ke gereja-gereja, dan menegaskan bahwa kekerasan bukanlah bagian dari ideologi Malaysia atau Islam. Boleh jadiini upaya tulus dari seorang pemimpin untuk menggalakkan nilai-nilai yang benar, tapi pertanyaan yang belum terjawab di Malaysia adalah: Adakah kelompok yang punya hak istimewa untuk [melarang] menggunakan kata-kata tertentu?

Di Timur Tengah, orang-orang Arab Kristen dan Yahudi telah menggunakan kata Allah dan berbagai versinya selama berabad-abad untuk menyebut Tuhan. Sama halnya, orang Kristen di Pakistan menggunakan Khuda untuk menyebut Tuhan, sama seperti para tetangga mereka yang Muslim. Intinya adalah, ini tak terkait agama, melainkan masalah bahasa.

Tapi perdebatan di Malaysia berlanjut ke persoalan kata “Tuhan” dalam Bahasa Malaysia. Apakah “Tuhan”, yang menurut sebagian harus digunakan sebagai ganti kata “Allah”, lebih tepat diartikan sebagai “Lord” (Rabb) dan bukan “God” (Ilah)? Adakah terjemahan spesifik untuk “God” dalam Bahasa Malaysia? Jika tidak, bisakah kata “Allah” digunakan dalam buku-buku agama untuk mengganti kata “God” karena ada bukti bahwa kata itu telah digunakan di Malaysia sejak 1960-an? Menarik untuk mencatat bahwa baik Bibel maupun al-Qur’an menegaskan keyakinan pada Tuhan yang sama, yaituTuhan-nya Ibrahim. Jika kita punya Tuhan yang sama, lalu mengapa tidak boleh berbagi nama yang sama untuk Tuhan itu?

Bahasa tidak bisa tidak akan terus berkembang sebagai pencerminan dari perubahan sosial. Penggunaan kata Allah mestinya bisa menjadi contoh titik kesamaan di antara orang Muslim dan Kristen di Malaysia, bukan sebaliknya malah menjadi pemecah belah.

Terlepas dari pandangan Anda tentang Shakespeare, ada banyak wawasan dalam pertanyaannya: “Apalah arti sebuah nama?” Jika kita menyebut Tuhan dengan nama yang lain, tidakkah Dia akan tetap maha mengampuni?

*) Sundus Rasheed, berasal dari Karachi, Pakistan, mengelola dan membuat konten untuk jaringan radio berbahasa Inggris CityFM89. Ia juga mengamati berbagai isu sosial dan fenomena budaya pop.

 

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews): image: google.co.uk

BAGIKAN
Berita sebelumyaIKKT Pragati Wira Anggini Selenggarakan Mupus Ke-VI
Berita berikutnyaPikiran Orang Amerika tentang Muslim
Koran Online Pewarta Indonesia atau disingkat KOPI adalah sebuah media massa nasional berbasis jurnalisme warga (pewarta warga) yang dibangun dan dikelola oleh Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI). Pimpinan redaksi KOPI adalah Wilson Lalengke, dibantu oleh ribuan penulis/pewarta lintas profesi, lintas agama, lintas strata sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan lain-lain dari seluruh nusantara dan luar negeri.