Uni Eropa di Minta Menyelamatkan Perdamaian Aceh

0
51

Pewarta-Indonesia, Sejak Nota Kesepahaman antara pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka ditanda tangani di Helsinki, Finlandia pada 15 Agustus 2005, ada saja kendala-kendala yang terjadi dalam proses pelaksanaannya di Aceh, namun secara garis besar perdamaian Aceh sudahpun berjalan perlahan-lahan sehingga sudah memasuki tahun ke 4.

 

Selamat dan tidaknya perdamaian Aceh kedepan sangat tergantung pada pemerintah Indonesia dan sejauh mana kepedulian pihak Uni Eropa terhadap keselamatan perdamaian Aceh, karena aparat-aparat Indonesia mulai masuk mencampuri sektor-sektor yang bukan tugasnya di Aceh, Tentara Nasional Indonesia (TNI) mulai memprovokasi situasi damai termasuk dengan menurunkan bendera Partai Aceh (PA).

 

Sebenarnya dalam perjanjian damai antara GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dan Pemerintah Indonesia yang di lakukan di sebuah negara Skandinavia, sudah jelas tertulis tugas Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Aceh. Memorandum of  Understanding (MoU) Helsinki Artikel 4.11. Tentara akan beranggung jawab menjaga pertahanan eksternal Aceh. Dalam keadaan waktu damai yang normal, hanya tentara organik yang akan berada di Aceh.

 

Maka menyangkut kerja-kerja TNI yang berada di luar batas yang telah di sediakan dalam perjanjian damai Aceh, merupakan salah satu perlawanan terhadap keberlangsungan perdamaian di Aceh.

 

TNI nampaknya terlalu risau dengan kemenangan partai-partai lokal di Aceh. Biarkan rakyat menggunakan hak hidupnya di bumi yang damai.

Sipa pun yang menang nantinya adalah pilihan rakyat Aceh dan tetap memiliki tanggung jawab besar di Aceh, dan tidak akan terlepas dari tanggung jawab mereka. Melihat poin MOU 1.4.5 Semua kejahatan sipil yang dilakukan oleh aparat militer di Aceh akan diadili pada pengadilan sipil di Aceh. Itu  adalah kewajiban semua pihak di Aceh untuk melaksanakannya.

 

Negara Indonesia sebagai salah satu pihak yang bertanggung jawab dalam perjanjian damai di harap berkomitmen untuk terus memelihara perdamaian Aceh, termasuk dengan menertibkan seluruh aparat pemerintah Indonesia yang ada di Aceh, sekaligus memberi pemahaman mengenai isi MoU agar tidak menimbulkan pemahaman yang salah dalam melaksanakan tugas di Aceh. Apa lagi Aceh memiliki peraturan khusus yang sangat berbeda dengan wilayah-wilayah lain di Indonesia.

 

Menyangkut Pemilihan umum 2009 di Aceh yang di  dalam perjanjian damai GAM-RI di kategorikan dalam partisipasi politik, di beri jaminan partisipasi penuh semua orang Aceh  dalam pemilihan local dan nasional, bahkan Pemerintah Indonesia berjanji dengan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dalam poin MOU 1.2.7. Pemantau dari luar akan di undang untuk memantau pemilihan di Aceh. Pemilihan local bisa diselenggarkan dengan bantuan teknis dari luar. Jadi pihak yang terlibat dengan perjanjian damai Aceh sepatutnya jangan coba membelakangi, karena akan menggangu proses damai yang sedang berjalan.

 

Pemilu  yang sukses sangat penting di Aceh, termasuk untuk melaksanakan tugas-tugas yang telah diamanahkan dalam MoU, antaranya untuk memberi kuasa ke pada legislative Aceh yang akan merumuskan kembali ketentuan hukum bagi Aceh berdasarkan prinsip-prinsip universal hak asasi manusia sebagaimana tercantum dalam kovenan Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Hak-hak Sipil dan Politik dan mengenai Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya. Dan Yang lebih penting adalah rakyat Aceh bisa hidup maju dengan hasil sumber daya alam yang di milikinya tanpa ada hambatan apalagi kekerasan.

 

Jadi karena perjanjian damai GAM-RI sudah menjadi pedoman rakyat Aceh dan internasional maka tidak ada pihak yang bisa membohongi, kecuali sengaja menciptakan kondisi negatif dan tidak senang dengan perdamaian.

 

Rakyat Aceh sudah tentu amat mendambakan perdamaian ini berlanjut dan kekal sehingga bisa meraup kehidupan aman dan damai serta bisa menikmati hasil perjanjian damai. Maka dengan itu Uni Eropa dan pihak Internasional untuk mendesak semua pihak di Aceh agar melaksanakan amanah MoU sesuai dengan yang di janjikan, jangan lah rakyat Aceh terus menerus di tipu dan di bohongi, cukup sedaha penderitaan yang sudah di tanggung rakyat Aceh selama ini.

Anda punya berita, artikel, foto, atau video? Publikasikan di sini
Kontak Redaksi di [email protected]