Festival Danau Matano 2009, Upaya Melestarikan Kebudayaan Lokal Sorowako

0
35

Pewarta-Indonesia, Festival Danau Matano 2009 dibuka secara resmi oleh Bupati Luwu Timur Andi Hatta Marakarma, Minggu (07/6) lalu di pantai Ide Sorowako,kecamatan Nuha. Ribuan masyarakat Sorowako dan sekitarnya menyaksikan pembukaan festival danau Matano yang hanya dilaksanakan lima tahun sekali itu. Tema yang diangkat dalam festival kali ini adalah “Tuwu Mate Memoroko “ yang berarti hidup mati tetap bersama, yang merupakan falsafah hidup warga asli Sorowako.

Festival Danau Matano kali ini dikemas seapik mungkin dengan menampilkan berbagai kegiatan baik pagelaran tarian tradisional seperti seni musik Monsado, Meopudi, Moladu, Mini Bangka dan Nahu Bangka serta berbagai pertunjukan rakyat Lomba Katinting, Lomba Mancing, pameran foto Sorowako Tempo Dulu serta pameran hasil kerajinan tangan masyarakat Padoe (Matano), serta peluncuran Media lokal Kabar Sorowako Selain itu, juga dimeriahkan dengan penampilan band lokal serta pagelaran musik dari murid-murid sekolah dasar Sorowako. Seluruh kegiatan yang digelar bernuansa kedaerahan dan dikemas sedemikian rupa dengan tujuan dapat menghibur sekaligus mendidik masyarakat sorowako dan sekitarnya akan keragaman budaya yang dimiliknya.

Keragaman budaya dan seni di Sorowako dan maupun kecamatan Nuha pada umumnya cukup klop dengan hadirnya danau Matano yang memiliki panorama cukup indah, sehingga tidak heran danau ini merupakan salah satu objek wisata yang cukup terkenal di Luwu Timur yang ketenarannya sampai ke manca Negara.

Namun, dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini kebudayaan masyarakat pun menjadi turut terpengaruh. Berbagai asimilasi budaya dari berbagai daerah menjadikan daerah kaya akan nuansa kebudayaan, tetapi muncul pula realitas yang tidak bisa dipungkiri dengan masuknya modernisasi kedalam lingkaran budaya lokal membuat budaya lokal ini bisa tergerus serta pudarnya nilai-nilai lokal hingga indetitas masyarakat. Oleh karena itu, harus ada upaya antisipasi yang dilakukan oelh masyarakat untuk melestarikan kebudayaan daerah tersebut.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menggelar kegiatan menggelar Festival Danau Matano, sebagai komitmen generasi muda Sorowako dalam melestarikan, menjaga serta memelihara kebudayaan daerah khususnya budaya lokal Sorowako.

Festival Danau Matano ini juga mendapat respon positif dari Pemerintah Daerah Luwu Timur, yang diungkapkan dalam sambutan Bupati Lutim, Andi Hatta ketika membuka Festival secara resmi. Menurut Hatta, Festival semacam ini sangat strategis dalam rangka pelestarian budaya dan kearifan lokal agar tidak punah, selain itu juga diharapkan Festival semacam ini akan mampu meningkatkan income perkapita masyarakat, dan dalam tujuan yang lebih luas lagi adalah dapat memperkenalkan potensi parawisata daerah Luwu Timur sampai ke dunia internasional. (yulius)