Mengenal Sosok Alfiyanto, Koreografer Tari dari Ranah Minang
KOPI, Uda Anto, begitulah kalangan Civitas Akademika Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung biasa memanggilnya. Pria kelahiran Bukittinggi tanggal 1 Mei 1968 ini sampai sekarang masih tercatat sebagai salah satu dosen di Jurusan Tari STSI Bandung. Berkat kecerdasannya dalam mengolah gerak tari gaya Minang serta ditunjang dengan pemikiran yang idealis, mengantarkan pria dengan nama lengkap Alfiyanto,S.Sn.,M.Sn ini sebagai salah satu koreografer tari kontemporer yang mempunyai ciri khas tersendiri dan cukup berpengaruh di kota Bandung bahkan nasional. Sekarang ini ia tengah mempersiapkan sebuah karya yang akan ditampilkan pada event “World Dance Day 2011” di Surakarta bulan April mendatang. Disela-sela kesibukannya, ia menuturkan kisah hidupnya selama menekuni dunia tari kepada penulis.
“Awalnya itu sih tidak punya semacam ambisi dan tujuan masuk ke dunia tari, dengan mendaftar ke perguruan tinggi seni yang bernama ASKI (Akademi Seni Karawitan Indonesia-red) Padang Panjang, daftar ke ASKI sebenarnya dengan keterpaksaan dari pada tidak kuliah, akhirnya masuk ke dunia tari. Diawal perkuliahan sangat stres dan beban karena persaingan dengan mahasiswa lainnya. Mulai bangkit setelah ikut kelompok terkenal di Indonesia pimpinan ibu Gusmiati Suid yang berdomisili di Jakarta sekitar tahun 1990-an. Waktu itu ia mencari penari ke Padang Panjang, akhirnya saya terpilih satu-satunya sebagai penari dan dibawa ke Amerika Serikat dalam rangka misi kebudayaan. Dari situ muncullah kepercayaan diri, ternyata dunia tari bisa menghidupi kehidupan saya dan dari situ bangkit semangat sampai akhirnya berjalan terus sampai sekarang.” Ujarnya
Gayung bersambut dari pihak keluarga, keputusannya untuk memperdalam dunia tari ternyata mendapat dukungan penuh dari kedua orang tuanya. “Keluarga saya termasuk keluarga besar jadi sistem demokrasi sangat kuat, kita dididik untuk mandiri, orang tua saya tidak mendidik anak-anaknya supaya menjadi pintar dan mempunyai rangking dikelas, orang tua saya mendidik supaya anak-anaknya mempunyai kemauan dan semangat kerja keras. Kalau punya kemauan saat punya masalah pasti dikerjakan dengan sungguh-sungguh, dari kesungguhan itu akhirnya menemukan sesuatu, sesuatu itu ya kebahagiaan.” Ujar ayah dari dua orang putera yang bernama Khalif Albilal dan Syauki Rao Aldunya dengan mantap.
Kehidupan selanjutnya sebagai seorang seniman tari tentu tidaklah mudah, ia pernah merasakan bagaimana pahitnya kehidupan sebagai seorang penari di Jakarta. Tantangan hidup yang sangat luar biasa, menyebabkan ia harus terjun ke dunia entertainment agar bisa bertahan hidup. Selama di Jakarta inilah ia merasakan terjadi semacam diskriminasi antara penari tradisi dan penari modern. Ia yang berangkat sebagai penari tradisi selalu dikatakan sebagai penari kelas bawah berbeda dengan teman-temannya yang berawal sebagai penari modern. Hinaan, cacian dan makian rupanya menjadi sebuah motivasi bagi suami dari Sukma Nely ini untuk semakin memacu kreativitasnya dalam menciptakan sebuah karya tari. Ia berhasil menciptakan sebuah identitas untuk dirinya sendiri dalam karya tarinya seperti gerak dengan karakter yang lembut tapi tajam dan suatu waktu terdapat hentakan-hentakan dan aksen-aksen untuk mendukung pengungkapan rasa.
Sebagai seorang koreografer yang mempunyai pemikiran “liar” dan “nakal”, tanpa disadari ia mampu mengusung tema/akar permasalahan yang sangat relevan dengan kondisi sekarang kedalam karyanya. Dengan rendah hati ia menuturkan sebagai berikut:
“Tanpa dikira dan direncanakan, akhir-akhir ini setelah saya senang menulis, ternyata setiap karya saya menjurus kepada sebuah empati, baik itu kepada manusia, Tuhan, alam dan lingkungan. Tanpa sadar, dipemikiran saya ini mungkin perjalanan rohani saya, karena di tari ini pertualangan rohani dan jiwa kita yang diungkapkan. Bagi saya masalah empati ini sudah mencakup semua. Empati itu masalah nilai, moral dan etika ahlak yang disampaikan. Pendekatan karya tari saya lebih menuju kepada konsep sufi, setelah dianalisa konsep sufi itu konsep yang sangat dahsyat untuk kemanusiaan dan menari bisa dijadikan sarana dakwah yang efektif.” Ujarnya dengan panjang lebar
Saat ditanya mengenai perkembangan tari kontemporer di kota Bandung, ia kembali menjelaskan: “kalau saya lihat sih, jangankan jalan ditempat malahan semakin mundur, untuk di dunia kesenimanan malah mundur, nah itu faktornya karena kita tidak ada panutan, beda dengan di Solo, Jogja dan Jakarta, mereka punya semacam figur sehingga disana terjadi persaingan secara sehat dalam berkarya. Kita tidak punya pembanding,” Minat generasi muda dalam mempelajari seni tari kontemporer pun bagi anak ke 7 dari 8 bersaudara ini masih dirasakan kurang menggairahkan. “Definisi kontemporer itu kan masih rancu, di perguruan tinggi seni kontemporer itu seperti ini sedangkan di dunia entertainment seperti ini, sekarang kan serba instant dan cepat menghasilkan duit, orang sudah dikondisikan oleh materi, dunia tari kontemporer tidak menjanjikan uang, saya menyadari, makanya banyak orang kurang berminat untuk terjun di dunia tari kontemporer.” Ujar pendiri komunitas tari Wajiwa Bandung Dance Theatre ini.
Ia memberikan kiat-kiat agar menjadi penari yang sukses,”kalau ada kemauan pasti bisa, penari yang baik itu penari yang punya kemauan dan selalu tidak pernah merasa puas serta selalu ingin menghadapi tantangan. Punya semacam tujuan dan berawal dari kesungguhan hati.”
Tak terasa siang itu matahari semakin menunjukkan keperkasaannya, tatap muka penulis dengan Uda Anto diakhiri dengan keinginannya untuk selalu bergelut di dunia tari. “Selama bisa bergerak saya akan terus menari, dan puncak yang paling diidamkan kalau Tuhan mengijinkan, saya ingin pentas bersama dengan anak saya, saya menari tunggal dan anak saya yang menjadi pemusiknya.”
Selama kurang lebih 25 tahun Alfiyanto konsisten dalam mengembangkan seni tari kontemporer. Karya-karyanya seperti Detak Datuak, Oase, Autis dan karya terbaru yang ditampilkan pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tanggal 15 Februari 2011 dengan judul Pose (diam sejenak) mampu membuktikan dirinya bahwa ia tetap eksis di dunia seni tari kontemporer.
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- Hayati Syafri: Akademisi yang Akrab dengan Dunia Puisi
- Drs H Tengku Dahlan MT: Dari Golongan II ke Eslon II
- Desyusbar Kembali Duduki Kursi Direktur PDAM Padang Panjang
- Mengenal Sosok Indrawati Lukman Sang Maestro Tari Sunda
- Hariman Siregar dan Peristiwa Malari 1974
- Muhammad Subhan Siap Luncurkan Novel "Rinai Kabut Singgalang"
- Ni Wayan Weder Peroleh Nafkah dari Pemandian Bidadari
- Kisah Para Istri Kustoro Raharjo Paska "Lelananging Jagad" Meninggal (1)
- Harrys Pratama Teguh, Pemantau Kemacetan di Merak
- Sekilas tentang Saya, Zainal Mubarok
- SITI NURBAYA: Perintis di Lingkungan Baru
- Bupati Pinrang Peduli Petani
- Drs. H. M. Zain Katoe, Walikota Parepare Kepemimpinan Berfalsafah Budaya Bugis
- Dialog Imaginer Bersama Cak Nur Tentang Prinsip-prinsip Pluralisme
- Teater Keliling Yayasan Cipta Budaya Indonesia


























