Mengenal Kinansyah Luthfi Pramaditia – Wakil Indonesia pada Forum APXLDS 2011 di Vietnam
KOPI, Terpilih sebagai anggota dan aktif di organisasi internasional, bagi generasi muda tentu sangat membanggakan. Bagaimana tidak, mereka secara langsung menjadi wakil Indonesia di kancah dunia internasional. Kecerdasan dan intelektualitas yang harus dimiliki sebagai “duta bangsa” ini, tentu berpengaruh bagi lingkungan sekitarnya. Dalam kehidupan sehari-harinya, kisah perjalanan sang “duta bangsa” ini akan menjadi inspirasi dan pemacu bagi orang-orang disekelilingnya untuk berprestasi bagi tanah airnya.
Semua itu dirasakan pula oleh seorang pemuda asal Bandung yang bernama Kinansyah Luthfi Pramaditia. Pemuda yang masih mengenyam pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan Geodeshi-Geomatika ini, bersama 18 orang rekannya dari berbagai universitas menjadi wakil Indonesia di forum APXLDS 2011 (Asia Pacific Exchange and Leadership Development Seminar 2011) yang diselenggarakan oleh AIESEC (Association Internationale des Étudiants en Sciences Économiques et Commerciales) di Vietnam tanggal 18-30 Maret 2011 yang lalu.
Pada hari Rabu 13/04/2011 penulis berkesempatan untuk mewawancarainya. Saat ditemui disela-sela kesibukannya, dengan terbuka ia menceritakan sepak terjangnya di organisasi AIESEC. Organisasi ini yang kelak mengantarkannya mewakili Indonesia di forum internasional yang dihadiri 257 peserta dari 20 negara se Asia Pasifik dan Eropa. Berikut petikannya:
Bisa diceritakan awal kamu mengikuti AIESEC ini?
“Jadi saya gabung AIESEC sejak tahun 2009 jadi sudah hampir 2 tahun, awalnya cuma iseng-iseng aja apply kan sebelum masuk AIESEC ada seleksinya tuh jadi saya ikut aja padahal saya gak tahu sama sekali AIESEC ini organisasi apa. Saya ikut seleksi yang terdiri dari form selection, FGD (Focus Group Discussion), terakhir interview ya sudah dari 3 tahap seleksi, 600an orang yang apply, hanya 50an orang yang diterima dan saya salah satunya. Awalnya sih kaget, bingung kenapa saya di terima padahal bahasa Inggris saya enggak bagus-bagus amat kalau dibandingkan orang lain, terus akhirnya pelan-pelan saya ikuti, dan eh ternyata organisasi ini seru juga” ujar pemuda kelahiran Bandung 27 April 1989 ini.
Apa yang akhirnya membuat kamu tertarik mengikuti AIESEC ini?
“Pertama karena saya melihat organisasi ini berbeda dari organisasi lainnya, saya pikir saya bakal bisa lancar bahasa Inggris doang, tapi ternyata di organisasi ini kita terbiasa bertemu dengan orang-orang yang melakukan exchange dari luar, misal orang Jerman, Belanda, dll, yang selama 2 bulan mereka tinggal di Bandung untuk bekerja sebagai volunteer di NGO dan aktif di organisasi, selain itu culture dari organisasi ini, dimana disini saya bisa benar-benar enjoy dan fun, tapi tetap bekerja secara professional” tutur Kinansyah.
Ia melanjutkan ceritanya, “Karena AIESEC merupakan organisasi internasional, sehingga apa yang kita lakukan disini sama dengan AIESEC yang berada di luar negeri, tentunya dengan adaptasi budaya lokal, jadi banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil, dan disini selain kita ditantang untuk menjadi pemimpin, tapi kita juga diberi kesempatan untuk mendapatkan pengalaman internasional terutama dalam hal leadership”.
Tak lupa ia berbagi kisah mengenai pengalaman pertamanya ketika ia terpilih untuk memimpin satu kegiatan di AIESEC. “Pengalaman pertama kali saya di AIESEC ialah, saat menjadi ketua panitia sebuah acara yang cukup besar tapi staff yang saya miliki hanya 7 orang dan dengan team yang beranggotakan 8 orang termasuk saya, saya bisa membuat acara yang cukup besar dan memberikan impact kepada orang-orang. Saya merasa, ketika saya memasuki dunia professional, saya tidak akan "kaget" menghadapi globalisasi yang sekarang memang jadi isu di dalam dunia kerja dan disini saya berfikir, andai saja semua orang bisa mendapatkan pengalaman serupa seperti yang saya alami, saya yakin pemuda-pemuda di Indonesia mampu berkompetisi di kancah internasional” tutur Kinansyah dengan penuh semangat.
Kegiatan kamu di AIESEC meliputi apa saja?
“Di AIESEC kebetulan sekarang saya menjabat Controller Manager di bagian keuangan jadi kerjaannya macam-macam, kontrol keadaan keuangan organisasi, kontrol kebijakan-kebijakan organisasi kontrol kualitas-kualitas project yang di lakukan oleh AIESEC Bandung dll. Sebenarnya kegiatan utama organisasi kita adalah mendatangkan orang luar kesini dan memberangkatkan orang sini keluar, tapi kebetulan saya bukan dibagian itu, ya gimana ya kang, memang ingin belajar keuangan jadi lumayan kan nambah nilai plus, saya anak teknik tapi mengerti keuangan” ujar putera dari pasangan Ki Agus Lutfi dan Dekayani Lutfi ini.
Dengan keaktifannya di organisasi yang didirikan pada tahun 1948 ini, mengantarkan ia menjadi wakil Indonesia di ajang pertemuan AIESEC di Vietnam. Disinilah ia mendapatkan pengalaman-pengalaman baru, bertemu dan bertukar pikiran dengan berbagai pemuda-pemudi dari berbagai bangsa. Penulis kembali melanjutkan percakapan dan bertanya perihal kegiatannya selama di Vietnam.
Isu-isu apa saja yang dibahas selama kegiatan APXLDS 2011 di Vietnam berlangsung?
“Macam-macam kang, ada isu leadership, social entrepreneur, bisnis (Asia Pacific Youth Forum), dan cultural understanding”.
Ada misi khusus yang kamu bawa dalam kegiatan itu?
“Yang pasti kami ingin memperluas network, karena dengan kita memperluas network, itu akan mempermudah kegiatan yang akan kami lakukan di organisasi ini, kegiatan kita yaitu mengirimkan pemuda-pemuda di Indonesia khususnya mahasiswa Bandung ke luar negeri, dengan tujuan pembelajaran dan pengembangan pengetahuan akademik dan profesional skills di lingkungan global, dalam hal ini Asia Pasifik. Output bagi mereka yang melakukan Exchange (program kita namanya exchange) ialah mereka mendapatkan life-changing experience, global perspective, dll. Tentunya membawa nama Indonesia di kancah Asia Pasifik”.
Kontribusi yang diberikan delegasi Indonesia dalam forum tersebut?
“Berdasarkan isu yang dibahas, dalam masalah social entrepreneurship, kami ditantang untuk berkontribusi melakukan inovasi untuk memecahkan masalah, dimana kita melakukan simulasi sebagai perusahaan yang ingin mengembangkan CSR (Corporate Social Responsibility), dan kita mengembangkan sebuah program CSR, dimana program tersebut dapat memberikan sesuatu yang bermanfaat dan tentunya positif bagi masyarakat dalam hal cultural understanding, disana ada yang disana ada yang namanya Global Village, jadi masing-masing negara membuka stand, dan di stand itu berisi ciri khas negara-negara tersebut, kita menampilkan makanan khas dari Padang, Jawa Tengah dll. Lalu ada wayang, dan kita juga melakukan performance yaitu Tari Saman di depan seluruh mahasiswa Vietnam yang hadir dan delegasi APXLDS. Untuk sisi leadership, banyak sekali metode yang mereka beri, dimana metode-metode tersebut bisa meningkatkan semangat kita untuk memimpin dan bagaimana caranya kita jadi pemimpin yang baik” papar Kinansyah yang merupakan alumni SMA Negeri 4 Bandung ini.
Apakah selama disana kamu menemukan hambatan?
“Hambatan? engga ada hambatan yang benar-benar menghambat. Tapi yang pasti seluruh peserta adalah mahasiswa dan disana kami diajarkan untuk melakukan time management and effeciency, dimana kita mengatur diri kita untuk mengimbangi antara studi dan organisasi” jawabnya dengan mantap.
Saat dimintai pendapatnya mengenai peranan generasi muda Indonesia di kancah internasional, ia menjawab:
“Menarik! Saya lihat semakin banyak generasi muda Indonesia yang aktif membawa nama baik Indonesia di kancah internasional seperti kompetisi sains, teknologi, atau bisnis banyak perwakilan kita yang memenangkan kompetisi-kompetisi tersebut, tapi sayangnya tidak sedikit yang memang mereka berpartisipasi hanya untuk "prestige" atau gengsi semata menurut saya sayang sekali” ungkapnya.
“Apabila mereka menunjukan kompetensi mereka disana, alangkah baiknya ada implementasi yang nyata yang dilakukan setelah mereka kembali ke Indonesia atau misalnya akang bayar uang tiket putar-putar nyari sponsor jutaan rupiah, terus pergi ke luar negeri, terus kembali lagi ke Indonesia tapi nggak ngapa-ngapain jadi energi dan uang yang dikeluarkan menurut saya percuma, tapi tetap kok, saya bangga dengan mereka yang memenangkan kompetisi-kompetisi internasional pastinya itu sulit saya saja belum tentu bisa”.
Diusianya yang telah menginjak 22 tahun, Kinansyah Luthfi Pramaditia mampu membuktikan dirinya sebagai salah satu putra terbaik bangsa yang dapat bersaing dengan pemuda-pemudi di belahan penjuru dunia. Tutur kata yang lugas, kepribadian yang ramah, kepercayaan diri serta ditunjang dengan idealisme yang kuat, merupakan beberapa hal yang dapat kita ambil dari sosok pemuda Bandung ini. Sudah sepantasnya kita memberikan apresiasi yang tinggi sehingga menjadi motivator bagi generasi muda lainnya untuk berbuat “sesuatu” bagi Indonesia.
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- Musriadi Musanif, Tokoh Muda yang Siap Pimpin Muhammadiyah Padang Panjang
- Mengenal Sosok Alfiyanto, Koreografer Tari dari Ranah Minang
- Hayati Syafri: Akademisi yang Akrab dengan Dunia Puisi
- Drs H Tengku Dahlan MT: Dari Golongan II ke Eslon II
- Desyusbar Kembali Duduki Kursi Direktur PDAM Padang Panjang
- Mengenal Sosok Indrawati Lukman Sang Maestro Tari Sunda
- Hariman Siregar dan Peristiwa Malari 1974
- Muhammad Subhan Siap Luncurkan Novel "Rinai Kabut Singgalang"
- Ni Wayan Weder Peroleh Nafkah dari Pemandian Bidadari
- Kisah Para Istri Kustoro Raharjo Paska "Lelananging Jagad" Meninggal (1)
- Harrys Pratama Teguh, Pemantau Kemacetan di Merak
- Sekilas tentang Saya, Zainal Mubarok
- SITI NURBAYA: Perintis di Lingkungan Baru
- Bupati Pinrang Peduli Petani
- Drs. H. M. Zain Katoe, Walikota Parepare Kepemimpinan Berfalsafah Budaya Bugis


























