Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
Silahkan Login & Kirim Warta
            Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?

Pewarta Online
None

Yang Terpinggirkan
Gaji Pensiun yang belum Terealisasi Juga.....
21/02/2013 | Husaeni Mabruri

KOPI - Mimpi manis untuk masa depan gaji pegawai pensiunan sipil hidupnya belum dirasakan oleh Bpk. [ ... ]


Gelora Sepeda
Remaja Kuningan Gagas Gerakan Gemar Bers.....
22/02/2013 | Andri Ana

KOPI, Kuningan – Untuk mengurangi kenakalan remaja di jalanan, memang dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan olahraga bersepeda. Hal tersebutlah yang dirintis oleh beberap [ ... ]



  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
Statistik
Anggota : 6198
Isi : 8778
Content View Hits : 3055094
mod_vvisit_counterPengunjung Hari ini7414
mod_vvisit_counterPengunjung Kemarin7044

Warga Online : 107
IP Kamu : 184.73.7.143
Polling Warga
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Inspirasi Profil Herawati Diah, Ketabahan Seorang Perempuan

Herawati Diah, Ketabahan Seorang Perempuan

KOPI - Sebuah judul “Herawati Diah Perempuan Jurnalis dan Perintis,” di sebuah harian ibukota dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun beliau ke-95, 3 April lalu memang cocok dilekatkan kepada perempuan yang ikut mendirikan Koran Merdeka bersama suaminya almarhum Burhanuddin Mohammad Diah (B.M.Diah), di samping mendirikan dan memimpin Koran The Indonesian Observer tahun 1955. Tetapi bagi saya yang bersinggungan langsung dengan beliau ketika menulis buku suaminya B.M.Diah (Butir-butir Padi B.M.Diah, Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman, Jakarta:Pustaka Merdeka, 1992) menambahkan judul: “Herawati Diah, Ketabahan Seorang Perempuan.”

Mengapa harus demikian? Karena saya menyaksikan dari dekat betapa sebuah peristiwa bisa saja begitu cepat terjadi ketika saya sedang mengumpulkan bahan untuk menulis buku B.M.Diah, suaminya, pendiri dan pemimpin Harian Merdeka, sebuah koran perjuangan yang lahir 1 Oktober 1945. Di samping B.M.Diah adalah satu-satunya saksi sejarah yang pada malam 17 Agustus 1945, di rumah Maeda ikut bergabung bersama-sama Bung Karno-Hatta dan lain-lainnya menyusun naskah proklamasi, sebagai seorang wartawan. Setelah itu, B.M.Diah menjadi Duta Besar Indonesia untuk Cekoslowakia, Inggris dan Thailand. Akhirnya menjadi Menteri Penerangan RI.Orang dekat Bung Karno dan sesuai dengan Garis Harian Merdeka waktu itu.

Di kala menyusun buku B.M.Diah inilah saya berada dalam dilema. Ketika bahan sudah terkumpul dan ingin naik cetak, ada orang kedua dalam kehidupan Ibu Herawati Diah, yaitu Ibu Julia yang ada di halaman buku yang saya tulis. Saya berhubungan baik dengan keduanya. Memang ada keraguan untuk menerbitkan buku ini atau tidak. Karena ada nama-nama besar yang berhasil saya kumpulkan, seperti Dr.H.Roeslan Abdulgani, Mh.Isnaeni, Tjokropranolo, A.H.Nasution,SK.Trimurti, Hardi, Ibnu Sutowo, Manai Sophiaan, Ridwan Saidi dan Aristides Katoppo, saya kemudian memutuskan terbit. Saat itu pula Ibu Herawati bertanya kepada saya,”Bung Dasman, foto-foto yang saya berikan mana?.” Saya bilang foto-foto ibu disimpan Bapak (B.M.Diah), saya tidak bisa berbuat apa-apa karena saya menulis buku Bapak.”

Akhirnya saya sarankan Ibu Herawati menulis buku, yang kemudian lahirlah buku Kembara Tiada Berakhir dan dikirim ke alamat saya, juga B.M.Diah Wartawan Serba Bisa.” Tetapi ketika Pak Rosihan Anwar meresensi buku terakhir ini di Majalah Gatra, beliau meragukan data yang dikumpulkan karena B.M.Diah sudah sakit-sakitan. Pak Rosihan mendukung data saya karena saya sendiri menulisnya ketika B.M.Diah masih segar bugar di usia 75 Tahun.Juga buku “Butir-butir Padi B.M.Diah, Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman,” yang saya tulis banyak dicuplik di buku B.M.Diah Wartawan Serba Bisa ini.

Tidak perlu diceritakan bagaimana selanjutnya. Saya mungkin tidak mau mendalami psikologi wanita jika berhadapan dengan masalah itu. Hanya saya ingin mengatakan,Ibu Herawati Diah tabah menjalani hidup ini hingga usia ke-95. Semoga Allah SWT terus memberkati Ibu.Selamat Ulang Tahun Ibu. Di usia ke-95 betul-betul anugerah dari Sang Pencipta.

Comments
Add New
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
 

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."


Artikel Lainnya: