Graha Biru di Senja Itu
Kata yang sederhana,
tertata dari hati yang penuh menata perubahan,
anakmu, keluargamu, tetanggamu, muridmu dan pengalamanmu..
Kisah ini kurangkai saat hujan kembali membasahi lautan yang gersang,
di kejaran ikan yang bolak balik mencari kegirangan yang bosan dengan asinya lautan, dan hambarnya pemandangan, yang itu saja.
Subhanallah kelembutanmu telah mengejar batu hitam yang berulang kali mengungkapan ketidak berdayaan atas usaha yang engkau pendam dari sisi rahasia Allah akan dirimu nan rupawan.
Banyak yang belum engkau tahu,
betapa pentingnya keberadaanmu untuk alam yang sedang kau pijaki, impikan, dan harapkan.
Segudang harapan telah menanti giliran untuk engkau selami,
banyak mata-mata kering dari tangis merindukan linangan air mata dari kekuatan suaramu yang sarat penuh makna, hikmah dan pengajaran.
Engkau guru yang tidak menggurui, ada didikan di sana,
saat kekasaran orang tak sepadan dengan lembutnya suara itu tentang kebenaran,
engkau ustadzah yang tidak menceramahi,
namun memberikan solusi agar mata sentiasa selalu berjalan menelusuri lorong air mata sendu dan engkau preman yang tak pernah membunuh, menyakiti.
Tapi engkau preman yang lemah lembut, itu senjatamu untuk menakhlukkan hati yang bebal karena keangkuhan dia punya usaha di kekufuran dunia.
Bahkan engkau penghapus dari kecoretan masa lalu jiwamu, kawanmu, dan lukisan wajahmu yang tak berwajah.
Sastra yang terangkai demi kenyaman hati-hati yang mengeja mencoba merangkul yang belum terangkul, dan menggenggam yang belum tersentuh, serta tarian sebelum adanya lantunan yang indah, dan me-merdukan telinga hati dan rasa.
Di graha biru tempat sujudmu suatu masa,
engkau pandangi langkah yang tertatih, penghapus influensa dari bersin, dan penerjemah suara yang di bisukan dengan usaha yang tak tertimbangkan, apakah itu kiloan ataupun dari beratnya kapas di angka nol tak bergerak.
Apakah engkau pernah tahu tentang peran yang akan engkau lakoni di masa yang akan datang?
Mari ambillah cermin yang tertempel di dinding mushollah,
lihat retina matamu bercuap menbisikkan kata mampu yang akan engkau embankan untuk mendaki bukit datar dan menyeberang gelombang tak beriak.
Engaku wanita soleha,
sesoleh budimu pada suaminmu yang telah mengajari arti kesetiaan,
tapi terkadang engkau sering lupa, betapa dunia yang menitik beratkan senyuman itu terbuang sudah dalam gelapnya malam tak berbintang.
Suatu saat engkau pasti tahu, rahasia di punukmu, rahasia di jalanmu, rahasia di senymumu dan rahasia di genggamanmu. Biar dunia yang selalu memanggil namanu dan jangan sekali-kali lupa mengingat indahnya suara panggilan itu.
Engkau tahu wahi jiwa yang lembah lembut,
jiwa yang mutmainnah, jiwa yang subhanallah merajai keasingan malam,
Terkadang lagi engaku menginggau arti yang telah punya arti di garis tanganmu yang bersih.
Genggamlah apa yang ada hari ini untuk engau persembahkan bagi jenjang hidupmu yang makin tua.
Aku tahu..
jiwa itu sedang merindukan cahaya di atas cahaya,
bukan sebelah pihak yang bersinar namun, engkau telah menjadi air di saat kehausan mendera, dan menjadi makannan yang enak sekali di saat lapar juga menanti.
Tersenyumlah malam ini untuk tertawa terbahak-bahak yang dilandasi akhlakmu yang santun, wibawa dan penuh kharisma.
Ada orang bertanya padaku saat ia melihat fotomu dalam domperku..
Ini siapa?
Dan apa yang menjadikanmu dia berarti dalam kalbumu.
Ku sentiasa menjawab,
ridha Allahlah aku menjual hatiku pada Allah untuk di beli juga karena Allah,
tanpa kembalian, tanpa cacat, seutuh nuansa bening hatinya.
Dia adalah wanita muda yang hobi berbaju hitam
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- Minang di Ranah
- Prestasimu di Persimpangan Ekonomi
- Surat untuk Kekasih (Bag. 8)
- Surat untuk Kekasih (Bag. 7)
- Surat untuk Kekasih (Bag. 6)
- Sebelum Hari Ini
- Fatamorgana dan Mimpi
- Surat untuk Kekasih (Bag. 5)
- Selepas Magrib..
- Surat untuk Kekasih (Bag. 4)
- Surat untuk Kekasih (Bag. 3)
- Surat untuk Kekasih (Bag. 2)
- Surat untuk Kekasih (Bag. 1)
- Kau Ajarkan Aku....
- Memaafkan


























