Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai

Login & Kirim Warta



Komentar Warga

Kolom Pewarta
Kriteria Calon Presiden Masa Depan (142/.....
20/05/2012 | Muhammad Haries

KOPI - Seperti yang kita ketahui pemilu capres dan cawapres semakin waktu semakin dekat. Seluruh ele [ ... ]



Yang Terpinggirkan
Penertiban PETI di Tanah Bumbu; Iya Kand.....
22/04/2012 | Imi Suryaputera

Sangat keterlaluan saya kira bila pengawasan terhadap aktivitas pertambangan batubara ataupun jenis  [ ... ]


Foto Pewarta
Kebakaran Pasar Padang PanjangPLTA Jatiluhur Ga ada Matinyeawan berlafadz Allah
Gelora Sepeda
TelkomVision Gandeng Kemensos Gelar INDO.....
21/05/2012 | Yeni Herliani
article thumbnail

KOPI - TelkomVision dalam usianya yang ke-15 kian menunjukkan komitmen dan kepeduliannya terhadap masyarakat dengan memberikan kualitas produk yang baik, kemudahan layanan, dan kepedulian terhadap k [ ... ]



  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
Statistik
Anggota : 5024
Isi : 8250
Content View Hits : 1862109
mod_vvisit_counterPengunjung Hari ini2580
mod_vvisit_counterPengunjung Kemarin4119

Warga Online : 58
IP Kamu : 38.107.179.217













Inspirasi Puisi Surat untuk Kekasih (Bag.10)
Pemberitahuan: Bagi Peserta Lomba Lomba Menulis Artikel Tingkat Nasional tentang RI-Maroko yang belum mendapatkan kiriman Piagamnya hingga saat ini, mohon beritahukan ke Panitia melalui SMS/Call ke 081371051875 (Mbak Wina), PPWI akan mengirimkan soft-copy Piagam dimaksud melalui email yang bersangkutan. Untuk itu, kirim SMS ke nomor HP 081371051875 dengan format: NAMA LENGKAP spasi (NOMOR ARTIKEL) spasi ALAMAT EMAIL. Contoh: ALVIN TRI DANDY (598/S) noirescence@yahoo.com. Mohon segera dan beritahukan kepada rekan lainnya yang belum mendapatkan paigamnya juga. Terima kasih.

Surat untuk Kekasih (Bag.10)

Rhein…

Ini musim gugur pertama yang kujalani di Negeri Kincin Angin. Jalanan mulai lengang. Tak ada lagi anak-anak bermain di pelataran taman-taman kota. Tak ada lagi kulihat ibu-ibu menemani anak-anaknya bermain, sambil membaca majalah.

Rhein, di musim gugur ini, aku harus bertahan di sini, untuk melakukan sesuatu yang kau anggap penting buatku. Belajar tentang sesuatu yang menurutku tak ada manfaatnya. Tapi karenamu lah aku di sini.

Rhein…

Tadi siang aku membeli dua buah mantel berbulu tebal, satu akan kupakai saat musim dingin yang sebentar lagi menjelang, satu akan kusimpan, akan kubawakan untukmu. Dalam hayalku, betapa cantiknya, bila mantel itu kau pakai saat kita bisa duduk bersama di malam-malam seperti dulu.

Aku masih harus selesaikan kerja ini lima bulan lagi, selama itu pula aku akan selalu merindukan senyummu. Hmmmm, terlalu jauh, beribu-ribu mil dari tanah yang membesarkan kita. Tak dapat lagi aku berharap, untuk sekedar menemuimu, atau datang ke kotamu, hanya untuk melihatmu.

Rhein…

Hari-hariku terlalu sunyi, terlalu sepi dari mereka yang selama ini mengelilingiku untuk sekedar bertanya tentangmu. Karena begitu banyak dari mereka yang ternyata sangat sayang padamu.

Detik-detik yang kujalani semakin hari semakinsunyi, hanya sebuah foto berbingkai biru, yang menemaniku. Foto dirimu, yang kuabadikan saat kita melangkahi sudut-sudut kota dulu.

Ahhh, Rhein… mataku mulai tak dapat berkompromi, aku akan lanjutkan menulis surat ini, setelah tidurku, yang selalu dihiasi mimpi-mimpi tentangmu.

Comments
Add New
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
 

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."