Kebersamaan Kita
Kenangan – kenangan itu masih saja melekat dalam benakku. Aku masih di sini menikmati udara yang memenuhi langit-langit kotamu. Memandangi separuh matahari yang memutih. Dan merenungi dedaunan yang terbang bagai layang-layang. Tak ada yang berubah. Kehangatan, kelembutan, dan kesejukan-kesejukan itu masih saja kurasakan sama.
Mari duduk disini kawanku, sediakan waktu sejenak agar kita nikmati lagi masa-masa itu. Tentang canda tawa kita, tentang semangat-semangat kita, atau tentang semua kebersamaan yang pernah kita jalin indah. Tak ada kata perpisahan disini, karena sampai kapanpun kita akan terus bersama - mendendangkan lagu lewat dawai yang senarnya kita rangkai dengan tangan-tangan kita.
Dalam angka-angka, memang tak banyak waktu yg kita habiskan kemarin lusa. Tapi apa yang menakjubkan? Di waktu yang singkat itu, kebersamaan kita begitu menyala. Rumah kita begitu hangat. Dan layaknya ulat yang menjelma kepompong, kisah kita terus saja terbang serupa kupu-kupu. Kemarin, seperti simpul metamorfosis, kita tidak sekedar merangkai pertemanan, melainkan yang lebih hangat : kita merangkai sebuah keluarga.
Dan kita paham benar. Bahwa kebersamaan yang pernah kita lalui tak selalu berwujud bunga. Melainkan beberapa kali ada kabut yang mengaburkan perjalanannya. Ada luka. Ada kecewa yang menggores. Tapi sekali lagi apa yang menakjubkan? Serpih luka dan kecewa yang pernah ada malah kian menghangatkan temali kebersamaannya. Kita saling memaafkan. Kemudian kita terus tumbuh, merekah, dan berkembang hari demi hari. Ah indahnya.
Hingga waktupun berlalu. Tak terasa kita tiba di penghujungnya. Seperti roll film yang memutar, kita melangkah dari episode satu ke episode yang lain. Dan hari ini, kita menyudahi sebuah episode, dan beranjak menuju skenario baru hidup kita.
Hari boleh berganti sunyi. Matahari berganti malam. Dan mendung boleh berubah hujan. Tapi di jalan ini, kita akan selalu faham : Ini bukan perpisahan, melainkan awal merangkai pertemuan berikutnya.
---------------------------------------
Hujan masih saja turun. Bayang-bayang itu perlahan terbang sayup-sayup. Mengajak setiap kita untuk merenung lebih dalam dan berani tegak menatap masa depan.
Aku masih terduduk disini. Menikmati rerintik yang membasahi bumi kita. Memandangi senja yang berganti merah. Dan mencium gemburnya umbi yang menyertai lembabnya tanah basah. Ujung tahun menyapa dan bertanya, “jika mendung jadi hujan, senja jadi pagi, dan basah jadi umbi, lantas ada apa dengan perpisahan?”
Tidak. Ini bukan perpisahan, melainkan berkah pertemuan. Cobalah untuk tegak, karna esok pagi kita akan membuka ruang-ruang baru bagi hidup kita. Raga kita mungkin berpisah, tapi tidak dengan jiwa-jiwa kita. Lalu kita memohon kepada Allah, agar kebersamaan ini terus berlanjut. Tidak hanya untuk hari ini, tapi juga untuk selamanya. Tidak hanya di dunia, melainkan juga di akhirat nanti.
Kawan, kita pernah bersama. Maka sampai kapanpun, kita akan selamanya bersama.
-Dea Tantyo-
Aku mencintaimu kawan, sebesar harapku pada firman-Nya : Barangsiapa yang saling mencintai karena-Nya, akan diberikan mimbar cahaya yang membuat iri para Nabi dan Syuhada.
Visit : www.deatantyo.wordpress.com
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- Mengenang Wafatnya Ibunda yang Sangat Aku Cintai
- Surat untuk Kekasih (Bag.10)
- Surat untuk kekasih (Bag. 9)
- Sekuntum Bunga Cinta
- Surat untuk Tuhan (9)
- Graha Biru di Senja Itu
- Minang di Ranah
- Prestasimu di Persimpangan Ekonomi
- Surat untuk Kekasih (Bag. 8)
- Surat untuk Kekasih (Bag. 7)
- Surat untuk Kekasih (Bag. 6)
- Sebelum Hari Ini
- Fatamorgana dan Mimpi
- Surat untuk Kekasih (Bag. 5)
- Selepas Magrib..


























