Wahai Syahid, Kunantikan Syahidmu di Peraduan Tahajjud
Keheningan malam terganggu oleh rintihan hatiku,
rintihan yang mencurahkan segala gundah gulana yang terpukul di batin.
Boleh saja aku meminta sesuatu yang melebihi keinginanku,
namun aku tersadarkan atas ke Esa-an Allah saat hamba meminta bukanlah yang dimintanya namun Allah memberi sesuai kebutuhan atas hambanya.
Ternyata hidup ini sangat singkat sekali,
pabila tak ada lagi yang ku pinta pasti aku akan pulang kekampung halamanku yang paling abadi.
Lagi-lagi aku teringat akan kesempurnaan agama yang ku cintai ini.
Agamaku harus sempurna,
aku harus menerima sipapun dia
Wahai yahidku,
engkau ku minta bukanlah dari doa sembarang doa.
Sebuah permintaan yang paling dalam keluar dari lubuk hatiku.
Di pundakmu aku akan menarohkan segala pengabdianku pada Allah atas bimbinganmu untukku selalu mengenal Allah.
Janganlah sekali-kali engkau patahkan tulangku dengan ketidak sopananmu atas kesetiaan yang telah kujual kepadamu, belilah kesetiaanku ini dengan ucapan Bismillah,
dan jangan karena satu kesalahanku atas semua yang telah kau berikan berubah menjadi kebencian yang mendalam hingga Allah juga ikut membencinya.
Syahidku,
tutuplah matamu atas ketidak sanggupaku untuk menjadikan generasi yang rabbani,
agar pandangan itu selalu tertuju pada kesakralan di atas kesaksian ijab qobul yang terjabar,
agar engkau sentiasa tidak memperbandingkan buhul dipundukku dengan buhul hiasan mata di sepanjang jalan.
Syahidku, masih bisakah engkau tersenyum,
saat semua tangisan bidadari tak ber-ayah, ibu,
menangis menggemparkan jagat raya agar kebapakanmu bisa merangkulnya,
menghentikan tangisanya,
dan menjadikan mereka sebagian dari dirimu,
bukan hanya kata yang keluar ”KASIHAN” dari bibirmu.
Apakah keperkasaanmu bisa menentramkan hatinya yang gundah,
agar solusi yang keluar dari kelembutanmu bisa menurunkan beribu malaikat untuk mendoakanmu?
Syahidku,
aku hanya wanita tak bermata,
tak bisa melihat ketampananmu yang membahagiakan mataku.
Aku hanya wanita tak bergusi,
wanita yang tidak bisa mengunyahkan makanmu saat sakit harus berpihak padamu.
Aku hanya wanita miskin,
yang tak memiliki sesenpun tabungan di bank,
untuk membantu usahamu.
Aku hanya wanita dari keluarga yang tidak jelas,
tiada tahta,
tiada pangkat,
tiada kecantikan dan tiada keceriaan.
Tapi aku punya cinta yang telah kugadaikan kepada Allah.
Syahidku,
apabila suatu saat asinnya masakanku bukan berarti makanan itu tidak dimakan bahkan diganti,
tapi makanlah,
belum tentu yang asin itu akan jadi penyakit,
tapi semoga akan menjadi obat penawar sakitmu yang tidakku ketahui sebelumnya.
Syahidku apabila keadaanku tidak sesuai dengan harapanku,
jangan engkau pernah marah sama Allah,
mungkin ini adalah hadiah yang telah Allah janjikan terhadap doamu yang terdahulu.
Aku mencintaimu karena banyaknya kekurangan yang ku lihat sepanjang hidupku bersamamu,
tapi apakah engkau mencintaiku hanya sebatas kesanggupanku meletakkan kopi,
teh,
makan enak,
bisa pakaian bagus,
tidak peot,
pandai berdandan atau..?
Syahidku,
jika jiwa ragaku telah lunglai,
tidak sekuat saat membentang langit cita diatas cinta,
apakah engkau masih menjadikanku bidadari yang akan tersenyum disaat kekuasaanmu terseok sedikit oleh angkuhnya dunia?
wahai syahiku..
ku nantikan syahidmu di peraduan tahajjud..
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- Selaksa akhir Bulan; Pergilah sobat
- Kebersamaan Kita
- Mengenang Wafatnya Ibunda yang Sangat Aku Cintai
- Surat untuk Kekasih (Bag.10)
- Surat untuk kekasih (Bag. 9)
- Sekuntum Bunga Cinta
- Surat untuk Tuhan (9)
- Graha Biru di Senja Itu
- Minang di Ranah
- Prestasimu di Persimpangan Ekonomi
- Surat untuk Kekasih (Bag. 8)
- Surat untuk Kekasih (Bag. 7)
- Surat untuk Kekasih (Bag. 6)
- Sebelum Hari Ini
- Fatamorgana dan Mimpi


























