Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai

Login & Kirim Warta



Komentar Warga

Kolom Pewarta
Kriteria Calon Presiden Masa Depan (142/.....
20/05/2012 | Muhammad Haries

KOPI - Seperti yang kita ketahui pemilu capres dan cawapres semakin waktu semakin dekat. Seluruh ele [ ... ]



Yang Terpinggirkan
Penertiban PETI di Tanah Bumbu; Iya Kand.....
22/04/2012 | Imi Suryaputera

Sangat keterlaluan saya kira bila pengawasan terhadap aktivitas pertambangan batubara ataupun jenis  [ ... ]


Foto Pewarta
pengerusak satabilitas lingkunganPersiapan Pengcab IPSI SiakRumah Aspirasi
Gelora Sepeda
TelkomVision Gandeng Kemensos Gelar INDO.....
21/05/2012 | Yeni Herliani
article thumbnail

KOPI - TelkomVision dalam usianya yang ke-15 kian menunjukkan komitmen dan kepeduliannya terhadap masyarakat dengan memberikan kualitas produk yang baik, kemudahan layanan, dan kepedulian terhadap k [ ... ]



  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
Statistik
Anggota : 5024
Isi : 8250
Content View Hits : 1862141
mod_vvisit_counterPengunjung Hari ini2610
mod_vvisit_counterPengunjung Kemarin4119

Warga Online : 59
IP Kamu : 38.107.179.217













Inspirasi Puisi Surat untuk Kekasih (Bag.11)
Pemberitahuan: Bagi Peserta Lomba Lomba Menulis Artikel Tingkat Nasional tentang RI-Maroko yang belum mendapatkan kiriman Piagamnya hingga saat ini, mohon beritahukan ke Panitia melalui SMS/Call ke 081371051875 (Mbak Wina), PPWI akan mengirimkan soft-copy Piagam dimaksud melalui email yang bersangkutan. Untuk itu, kirim SMS ke nomor HP 081371051875 dengan format: NAMA LENGKAP spasi (NOMOR ARTIKEL) spasi ALAMAT EMAIL. Contoh: ALVIN TRI DANDY (598/S) noirescence@yahoo.com. Mohon segera dan beritahukan kepada rekan lainnya yang belum mendapatkan paigamnya juga. Terima kasih.

Surat untuk Kekasih (Bag.11)

Rhein….

Sudah lama aku tak berkirim surat padamu. Bukan karena aku tak lagi mengingatmu, tapi karena semuanya kucoba tahan dalam diriku. Antara rindu yang setiap saat menghentak, dan segala persoalan hidup yang selalu menderaku, membuatku harus lari dari semua kenyataan ini.

Rhein…

Libur musim panas telalh aku lalui. Aku telah kembali lagi ke pangkuan pertiwi yang selalu kurindukan selama ini. aku kembali ke kotaku, kota dimana kita pernah bersama.

Rhein, aku mulai bimbang dengan semua ini. persoalan demi persoalan, masalah demi masalah yang kuhadapi, beruntun, seperti tak pernah habis-habisnya. Aku resah, Rhein. Aku mulai goyah. Sepertinya aku tak lagi kuat untuk menyangga semua ini sendiri. Aku tak punya siapa-siapa untuk sekedar berbagi, sekedar berkeluh kesah tentang semuanya. Tentang aku yang tak punya apa-apa untuk orang-orang yang kucinta, tentang aku yang selalu disudutkan pada posisi sebagai orang tak bertanggungjawab pada keluarga, pada saudara, pada masyarakat, pada semua orang yang ada di sekitarku.

Rhein…

Tahukah kau, saat ini aku sedang meneteskan air mata? Tahukah kau saat ini aku berencana untuk meninggalkan semua ini. Pergi jauh, entah kemana. Mungkin ke tempat yang tak satu orangpun akan peduli, ke tempat dimana aku bisa menata diri menjadi lebih baik, karena di sini, hanya sanjungan, hanya acungan jempol yang aku dapat, tapi tidak penghidupan.

Rhein…

Kau pun tak datang lagi dalam mimpiku. Telah lebih seratus hari, aku menunggu kehadiranmu dalam tidurku, tapi aku tak lagi bertemu. Inikah tanda kemarahan Allah padaku, Rhein? Karena kuyakin, biasanya setiap aku gundah, resah, sedih, sedang banyak masalah, kau dihadirkanNya untuk mengingatkanku, biarpun hanya selintas senyum yang kutemui dalam mimpi-mimpi malamku.

Rhein…. Aku tak tahu, apakah setelah ini aku bisa menulis surat lagi padamu, atau inilah surat terakhirku…

Comments
Add New
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
 

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."