Surat untuk Kekasih (Bag.11)
Rhein….
Sudah lama aku tak berkirim surat padamu. Bukan karena aku tak lagi mengingatmu, tapi karena semuanya kucoba tahan dalam diriku. Antara rindu yang setiap saat menghentak, dan segala persoalan hidup yang selalu menderaku, membuatku harus lari dari semua kenyataan ini.
Rhein…
Libur musim panas telalh aku lalui. Aku telah kembali lagi ke pangkuan pertiwi yang selalu kurindukan selama ini. aku kembali ke kotaku, kota dimana kita pernah bersama.
Rhein, aku mulai bimbang dengan semua ini. persoalan demi persoalan, masalah demi masalah yang kuhadapi, beruntun, seperti tak pernah habis-habisnya. Aku resah, Rhein. Aku mulai goyah. Sepertinya aku tak lagi kuat untuk menyangga semua ini sendiri. Aku tak punya siapa-siapa untuk sekedar berbagi, sekedar berkeluh kesah tentang semuanya. Tentang aku yang tak punya apa-apa untuk orang-orang yang kucinta, tentang aku yang selalu disudutkan pada posisi sebagai orang tak bertanggungjawab pada keluarga, pada saudara, pada masyarakat, pada semua orang yang ada di sekitarku.
Rhein…
Tahukah kau, saat ini aku sedang meneteskan air mata? Tahukah kau saat ini aku berencana untuk meninggalkan semua ini. Pergi jauh, entah kemana. Mungkin ke tempat yang tak satu orangpun akan peduli, ke tempat dimana aku bisa menata diri menjadi lebih baik, karena di sini, hanya sanjungan, hanya acungan jempol yang aku dapat, tapi tidak penghidupan.
Rhein…
Kau pun tak datang lagi dalam mimpiku. Telah lebih seratus hari, aku menunggu kehadiranmu dalam tidurku, tapi aku tak lagi bertemu. Inikah tanda kemarahan Allah padaku, Rhein? Karena kuyakin, biasanya setiap aku gundah, resah, sedih, sedang banyak masalah, kau dihadirkanNya untuk mengingatkanku, biarpun hanya selintas senyum yang kutemui dalam mimpi-mimpi malamku.
Rhein…. Aku tak tahu, apakah setelah ini aku bisa menulis surat lagi padamu, atau inilah surat terakhirku…
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- Wahai Syahid, Kunantikan Syahidmu di Peraduan Tahajjud
- Selaksa akhir Bulan; Pergilah sobat
- Kebersamaan Kita
- Mengenang Wafatnya Ibunda yang Sangat Aku Cintai
- Surat untuk Kekasih (Bag.10)
- Surat untuk kekasih (Bag. 9)
- Sekuntum Bunga Cinta
- Surat untuk Tuhan (9)
- Graha Biru di Senja Itu
- Minang di Ranah
- Prestasimu di Persimpangan Ekonomi
- Surat untuk Kekasih (Bag. 8)
- Surat untuk Kekasih (Bag. 7)
- Surat untuk Kekasih (Bag. 6)
- Sebelum Hari Ini


























