Sudut Bibir Tak Bersanding
Malam berselimut nasehat,
perempuan berhati seribu,
berlipat dalam empedu juang yang menguntai nilai pendidikan dari segi tak bertepi.
Hatimu sering tercabik di sudut bibir tak bersanding.
Air matamu mengalir mencuci luka yang ternganga kering di sinari matahari tak berperih.
Demi cinta kau untai segala idealismu untuk menjaga harta hatimu yang telah tertawan rindu.
Disana ada sedikit becek yang menempel di jubah hitammu,jelas dan mengering,
sehingga butuh proses perendaman dari deterjen yang wangi,
serta berpoleskan di tengah teriknya embun.
Sungguh hatimu bagai memori slide show,
kau tatap, kau dengar serta kau amati sehingga masa editingmu berlangsung alot.
Tak kuasa ku menahan membiarkan hatimu jatuh terjungkal serta letih sendiri di dermaga bertuankan perbaikan surga, walau keletihan batinmu sering membatasi kau punya prinsip yang lurus,
aku banyak belajar dari dirimu wahai wanita yang tenang,
zuhud, wanita yang diplomatis serta wanita mulia di mataku,
harap membatin agar predikat ini nyata adanya dari Allah.
Ya Nabi dengarlah jeritan hatinya, dirinya tak tertahan lagi,
duhai penawan derita nya sudilah engkau hadir dalam jiwanya.
19 April-19 Juli 2011,
masa sangat berarti dalam hidupku,
telah banyak aku mendapatkan ilmu darinya,
di istana penuh zikir dan kalimat ke-Esaan.
Lewat kepolosan hati bocahnya,
ke kuatan hatinya serta kerileksasian yang memejam kelam di subuh buta.
Bahasa tubuh telah mendewasakan kekanakan yang sempat tertimbun tangis di ruang tak bercahaya,
aku sebatang tubuh yang tegap namun rapuh di sela waktu luang yang tinggal di sekeping hati,
sehingga keteduhan hatimu berpose wajah di dunia fana.
Aku miskin jiwa di raga,
yang kupunya hanya tenaga yang melebih peluh dalam genangan air di sudut rumah.
Syukurku berwujud pada satu titik kepastian, aku bersyukur pernah berlaku salah dalam diri,
hati, dunia, alam semesta serta setiap mata dan telinga mengkompromikan data baseku yang di eja dari setetes ke egolitasanku pada sensitifitas sebagai wanita.
Di usia yang sebentar lagi akan berkurang,
apakah aku layak dinyatakan sebagai hamba Allah,
atau apakah aku akan meninggal saat itu,
aku tak tahu yang jelas doakan aku agar usiaku yang makin merangkak ke kubur bisa dewasa,
menjaga lisan, hati, ibadah dan dan meraih impian yang nyata,
sebab surga yang akan kita raih bukanlah mudah,
harus ku lalui dengan penuh liku di hati,
penuh duka menampar dan salah memetik hikmah untuk meng arifkan kata demi kata.
Demi kerendahan hatiku pada Allah,
maaf atas segala kata tak pantas yang tertinggal dihatimu,
tingkah yang tak sesuai dengan ucapanku,
serta cinta yang masih bertahan sampai ajal menjemput.
Maafkan aku wahai wanita mulia,
dengan ke ikhlasanmu aku akan berusaha menjadi apa yang aku dan kamu inginkan yaitu menjadi hafidzah sebagai impian mulia di hatimu.
Ku harap jasadmu me wangi sampai ke anak cucumu.
Terimakasih telah menjadikan aku sangat berarti dalam sejarah hidupmu,
serta terimakasih pula atas ke hadiranmu dalam nafas hidupku.
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- Surat untuk Kekasih (Bag. 12)
- PPWI AWARD
- Saat yang Tertunda
- Korupsi Boleh Asal.........
- Surat untuk Kekasih (Bag.11)
- Wahai Syahid, Kunantikan Syahidmu di Peraduan Tahajjud
- Selaksa akhir Bulan; Pergilah sobat
- Kebersamaan Kita
- Mengenang Wafatnya Ibunda yang Sangat Aku Cintai
- Surat untuk Kekasih (Bag.10)
- Surat untuk kekasih (Bag. 9)
- Sekuntum Bunga Cinta
- Surat untuk Tuhan (9)
- Graha Biru di Senja Itu
- Minang di Ranah


























