Tercabik Kata
Emosional, terjungkal di titik sabar perjalanan
jatuh dan terselip sampai di awal Ramadhan
tak satupun yang bisa menyelesaikan sengketa kata yang tertumpah,
pimpinan, sahabat, orangtua ataupun.. ah minggat dari sana.
sempit rasa di hunus lidah tak bertulang
menuai benih kesedihan dirawa yang bernodakan sosialitas
namun tak satupun jua yang faham akan perkasanya matahari yang mengeringkan peluh di kening sujud
ntahlah sampai kapan rasa ini menyakiti ruas
menyiksa praduga, dan teriakan yatim di piatu rasa.
aku tak sanggup menatap miskinnya kata
aku tak mampu mengeja tangisan rindu
bahkan aku tak bisa merangkai semua yang tak ku punya dalam selembar surat kuasa
yang menempelkan namaku utuh disudut kiri
setiap kali jangrik membisikkan senja dan dingin disiang bolong.
aku juga pernah mencabik kata yang tersusun rapi.
sabar, sabar dan
aku tak mengerti akan muroja'ah kebaikan malam ditaraweh syahadat
aku jatuh terjungkal ditiap bulan yang kudamba ada kata yang tak tersiksa asa.
maafkan Bunda nak, jika jemari belum untuh menggenggam mungilnya jemarimu
maafkan bunda jika rasa tak peduli jatuh di hati ibunda.
namun nak, engkau semua kan kulihat di sudut bendera yang telah kita rangkai sebelum ini.
bertemu kita karena empunya jiwa dan berpisah bunda karena cintanya jiwa.
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- Sudut Bibir Tak Bersanding
- Surat untuk Kekasih (Bag. 12)
- PPWI AWARD
- Saat yang Tertunda
- Korupsi Boleh Asal.........
- Surat untuk Kekasih (Bag.11)
- Wahai Syahid, Kunantikan Syahidmu di Peraduan Tahajjud
- Selaksa akhir Bulan; Pergilah sobat
- Kebersamaan Kita
- Mengenang Wafatnya Ibunda yang Sangat Aku Cintai
- Surat untuk Kekasih (Bag.10)
- Surat untuk kekasih (Bag. 9)
- Sekuntum Bunga Cinta
- Surat untuk Tuhan (9)
- Graha Biru di Senja Itu


























