Surat untuk Kekasih (bag. 13)
Rhein...
Berlama-lama dalam renungku, saat angin musim dingin mulai menggelisah. Meniti buih-buih rindu pada kedamaian, seperti tulisanku yang pernah kau buang di jalanan belakang pasar kumuh di kotaku.
Hari ini, masih sama seperti hari-hari kemarin, hari-hari dimana aku selalu berharap keajaiban akan hadir di pelupuk mata. Maih sama, ada rindu, ada gelisah yang menggelora, menjadi puing-puing kehampaan, menjadi garis-garis kecil menggurat.
Rhein....
Baru saja aku mendengar cerita seorang teman, tentang kisah hidupnya yang membuatku jengah. Membuat butir-butir air mata dan ketakutan menghampiri. Aku sudah lama tak lagi meneteskan air kelembutan itu, Rhein. Kini, hanya dengan cerita seorang teman yang kadang kuanggap bukan siapa-siapa, ia mengalir deras dalam dadaku.
Ada ketakutan dalam kisahnya, seorang laki-laki yang harus membanting tulang kesana-kemari demi menghidupi seorang istri dan anak tunggalnya. Ia juga seorang yang kosong dari untaian doa dan harap pada Tuhannya. Ia hanya seorang bandar judi di masanya. Tak kenal ayat-ayat Allah, tak kenal yang namanya doa, baginya, tiap ada kesempatan menipu pelanggannya, ia lakukan dengan gembira.
Rhein, memang bagimu cerita itu tak akan jadi bacaan menarik. Tapi buatku, begitukah seorang yang putus asa dalam hidupnya? Hanya berani mengambil langkah singkat, pendek, tak ada pertimbangan?
Aku takut karena aku hampir ada di sana. Aku mulai terpengaruh dunia yang tak bersahabat dengan Sunnah Nabi-Nya. Aku mulai menggeser setiap langkah pada arah yang tak pasti, arah yang hanya menuju kesalahan, dan noda.
Rhein, aku ingin kembali padamu. Pada nama yang selalu masih kusebut setiap jelang tidurku. Namamu, Rhein...
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- Alhamdulillah Sudah
- Merdeka dalam Ejaan Kata
- Tercabik Kata
- Sudut Bibir Tak Bersanding
- Surat untuk Kekasih (Bag. 12)
- PPWI AWARD
- Saat yang Tertunda
- Korupsi Boleh Asal.........
- Surat untuk Kekasih (Bag.11)
- Wahai Syahid, Kunantikan Syahidmu di Peraduan Tahajjud
- Selaksa akhir Bulan; Pergilah sobat
- Kebersamaan Kita
- Mengenang Wafatnya Ibunda yang Sangat Aku Cintai
- Surat untuk Kekasih (Bag.10)
- Surat untuk kekasih (Bag. 9)


























