Rindu yang Membekas
Kenangan terindah saat aku harus berpisah sedetik menutup rindu,
Di belah jembatan yang menghubungkan dermaga senja di sunset kediaman bunga desa,
Merangkai satu yang tak berujung jua,
pada perahu ba-imbau di tengahnya bernamakan pilu berwarna surya.
Aku tak kuasa merangkai lambaian yang terkulai,
yang me-mercik-kan tangis pada bukit bertuan bunian,
disana ada sepasang tulang yang menjadi saksi adanya kota berfalsafah demokrasi.
Rambut panjang terkulai, menatahkan tanda di jemari sesak,
Tertinggal namun terpisah pada ubun-ubun malin kundang,
Dan menjilat di atas anjungan nagari.
Rinduku yang membekas,
Pada saat gelombang menampar arsinya lautan,
Dan menundukkan langkah di atas pusara ibu bapa,
Sedangkan aku belum melambang adat yang kian hari kokoh terhempas pergantian tahun,
Malu dan…, ah.., aku merindukan suasana itu lagi.
Ada nostalgia yang mengikatku untuk selalu pulang,
Dan bersimpuh pada manisnya kenagan itu,
Walau rasa ini mencemaskan raga.
(yang telah diikut sertakan dalam lomba puisi padang kota tercinta)
| Comments |
|
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
Artikel Lainnya:
- Surat untuk Kekasih (bag. 13)
- Alhamdulillah Sudah
- Merdeka dalam Ejaan Kata
- Tercabik Kata
- Sudut Bibir Tak Bersanding
- Surat untuk Kekasih (Bag. 12)
- PPWI AWARD
- Saat yang Tertunda
- Korupsi Boleh Asal.........
- Surat untuk Kekasih (Bag.11)
- Wahai Syahid, Kunantikan Syahidmu di Peraduan Tahajjud
- Selaksa akhir Bulan; Pergilah sobat
- Kebersamaan Kita
- Mengenang Wafatnya Ibunda yang Sangat Aku Cintai
- Surat untuk Kekasih (Bag.10)


























