Puisi-puisi Alizar Tanjung

0
16

Ocehan Nasib

di diriku tersiar kabar

setetes embun yang terkurung pada awan

jatuh pada sehelai daun mati

jatuhnya di hari yang baru saja terbungkuk

di senja panas sore yang bersayap mentari

datang yang mencumbu kerinduan

pergi tak pernah diharapkan

lalu sebuah halaman tanpa taman, basah jadi telaga

aku tak tahu kenapa jadi begitu

semakin lama tetap saja semakin basah

dedaunan tumbuh berkecambah jadi tunas muda

akar-akar menyembur jadi ruh dan raga

angin jadi aroma dangau di sawah-sawah kering 

ketika kutanya dalam diriku

kenapa harus begitu––dari sehelai daun dan setetes embun

diriku tak menjawab

tapi dia menoleh ke dalam hatiku yang merah

zikirkan saja hatimu katanya

                  Padang, Maret 2009

 

Air Mata Ibu

aku tak tahu tiba-tiba ibu menghapus air mata

serupa menghapus awan dalam kaca

tinggal bulir air yang mengabur

lalu semuanya serupa uap nasi di perapian tungku

menguap dan terus menguap

lalu mata ibu sembab yang jadi sungai nil dalam diri

sesudahnya terdengar isakkan

dan kata ibu yang ngungu

“nguuu nguuu nguuu” 

aku gak mau menanya ibu

ibu pasti kan bertambah keras tangisnya

sebab aku selalu saja menanyakan ayah

maka aku lebih sering di halaman saja 

anjing hitam di halaman menggonggong

menarikku ke dalam permainan lingkaran kabut

memisahkan aku dan ibu

aku berburu ke dasar hutan, ke dasar tak berhilir 

tapi sehabis bermain

aku masih melihat ibu menangis, kini dalam kaca

pinggiran gelas

air mata ibu mengkristal bening

aku tanya ibu tak menjawab

ibu lantas menjelma jadi uap yang menguap ke langit

aku pandang ibu dengan seekor anjing hitam

ibu berbisik dari angin

“anakku, aku salah melahirkanmu.”

                  Padang, Maret 2009

 

Yesi Pergi

tiba-tiba ia datang di belakangku dan bertanya

sedang apa dek

kukatakan sedang mengetik kehidupan

yang tercecer di persimpangan jalan, dalam hati

tapi kukatakan saja sedang mengetik proposal

perjalanan menuju sebuah ketenangan yang tak berdasar

dimana aku bisa melahirkan sungai-sungai kata

dan lautan-lautan kalimat panjang 

lalu aku balik bertanya

sedang apa kak yesi

ia jawab sedang mengurus surat pindah

aku tak tahu apa itu

kutanya lagi, surat pindah apa kak

surat pindah kuliah, katanya

tapi matanya melahirkan telaga yang terpendam

di balik kristal bening, dari sebuah sungai

yang lahir di kota ini

air mukanya jadi pelangi yang muram

di tengah siang mentari

dan sudut mata yang mengembun

dia katakan, sudah dulu ya dek

aku sempat baca bahasanya yang berair

mau pindah ke mana kak,

kukatakan dalam hati

kata pindah dalam hidupku hanya pindah dunia

ku kan pindah ke bengkulu, katanya

tapi kata hatinya dalam tafsir hatiku

dia tidak sedang ke mana-mana 

kenapa mesti pindah, kataku

kata hatiku, pindahku belum sampai waktunya

ia katakan, orang tua kak kini tinggal sendirian

tapi diriku juga sendiri, setunggal sunyi yang menyepi

dan aku utarakan saja aku juga sedang perjalanan ke purwokerto

perjalanan sastra

tapi dalam hatiku aku berkata,

perjalanan kehidupan di persimpangan tercecer

perjalanan yang paling sastra sebenarnya 

lalu kuukir saja yesi tak pernah pindah di diriku

kuteruskan mengetik,

aku masih terus mengetik kehidupan

yang tercecer si sebuah jeda kata bengkulu.

                  Padang, 12 Maret 2009

 

Biodata

Alizar Tanjung adalah mahasiswa Jurusan Pendidikan Islam, IAIN Imam Bonjol Padang. Dilahirkan di dusun Karang Sadah, di  Danau Bawah, Kabupaten Solok, Sumatera Barat 10 April 1987. Menetap Kota Padang, Kec Pauh,  Komplek Cimpago Permai, RW/RT 04/03, Masjid Darul Falah. Bergiat Di FLP Sumbar. Hp. (081374281460). Email; [email protected] dan [email protected]. Blog; alizartanjung.wordpress.com/ peneal.blogpsot.com

Karya-karya dipublikasikan di media nasional dan lokal. Puisi-puisinya  dipublikasikan: Harian Sindo, Berita Pagi (Palembang), Singgalang, Haluan. Cerpen-cerpennya di publikasikan: Harian Tempo, Berita Pagi (Palembang), Singgalang, Majalah Tasbih. Opini dan artikel dipublikasikan di Singgalang, Wawasan, Majalah Tasbih (sumbar). Cerpennya diantologikan pada antologi bersama Rendezvous di Tepi Serayu (Obsesi Press kerjasama dengan Grafindo, 2009). Juara tiga lomba cerpen Islam sekampus IAIN IB Padang 2008. Sekarang lagi diamanahkan sebagai ketua FLP IAIN Imam Bonjol Padang (2008-sekarang). Redaktur sastra Majalah Tasbih (2009). Tim redaksi jurnal Cerdas Fakultas Tarbiyah, IAIN IB Padang (2009)

Sumber image: google.co.uk