Surat Kepada Tuhan

0
17

Kurengut hening dalam kesenyapan malam
Hembusan angin yang masuk lewat kisi-kisi jendela
kubiarkan menyelimuti tubuhku,
Entah mengapa di dua pertiga malam ini, mataku tak bisa terpejam
Pikiranku kalut, desah nafasku tak beraturan

Ingin ku berkeluh kesah, tapi bibirku keluh,
Ingin ku tulis sesuatu, tanganku kaku,
Seakan kata dan aksara dunia tiada cukup kaya
untuk menafsikan perasaan suara hatiku
Kini, aku yang sendiri bersama bayang-banyangku sendiri,
Keremangan lampu kamar pun tak mampu memberi solusi,

Ya, Allah, Jawabkan segala tanya yang selama ini menggulung fikiranku,
Ya, Allah, Adakah ampunanMu atas kealpaanku selama ini?
Ya, Allah, Hanyalah Engkau Maha diatas segala Maha,
Hanyalah Engkau Pemaaf dari segala Pemaaf,
Inginkan aku mendekatiMu,
Ku bertobat, dari alpaku
dari sekian laksa perjalan hidupku

Adakah kesetianku selama ini yang patut kubanggakan?
Adakah titik-titik suci yang patut kuperhitungkan?
Adakah jamahan lembut yang patut kusebutkan?

Kalkulasi anganku tak mampu menemukan sesuatu, melainkan keraguan

Dan waktu terus berputar, aku tersadar dalam kekalutan
Bersama desiran angin subuh, sayup-sayup terdengar alunan suara menggugah,
Azan subuh mengalun merdu merangkai kata hasma Allah,
Aku sejenak termangu, tak sadar langkah kakiku lembut menyambut perintahMu
Wajahku menyentuh sajadah, basah dengan air mata

Parepare, Maret 2010