Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
Silahkan Login & Kirim Warta

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?
Pewarta Online
None

Yang Terpinggirkan
Gaji Pensiun yang belum Terealisasi Juga.....
21/02/2013 | Husaeni Mabruri

KOPI - Mimpi manis untuk masa depan gaji pegawai pensiunan sipil hidupnya belum dirasakan oleh Bpk. [ ... ]


Gelora Sepeda
Fun Bike Meriahkan HUT Ke-69 TNI di Aceh.....
29/09/2014 | Syamsul Kamal
article thumbnail

KOPI, Aceh Jaya - Dalam rangka memperingati hari ulang tahun Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang ke 69, Komando Distrik Militer (Kodim) 0114 Aceh Jaya, mengegelar acara sepeda santai (fun Bike)  [ ... ]



Polling Warga
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Inspirasi Resensi Habibie dan Ainun dalam Bingkai sebuah Film Nasional
DIRGAHAYU PERSATUAN PEWARTA WARGA INDONESIA (PPWI), 11 NOVEMBER 2007 - 11 NOVEMBER 2014, SENANTIASA TEKUN BELAJAR DAN BERKARYA BAGI PENCERDASAN BANGSA-BANGSA DI NUSANTARA DAN SEANTERO BUMI BRAVO PPWI... BRAVO INDONESIA... BRAVO PEWARTA WARGA...!!!

Habibie dan Ainun dalam Bingkai sebuah Film Nasional

KOPI, JAKARTA - Ibu Negara Ainun Habibie wafat di Rumah Sakit Ludwig Maximilians Universitat, Klinikum, Muenchen, Jerman. Ainun Habibie meninggal dunia pada hari  Sabtu, 22 Mei 2010, pukul 17.30 waktu setempat atau 22.30 WIB. Hal ini bertepatan dengan ulang tahun ke-12 lebih satu hari ketika Presiden Habibie di lantik sebagai Presiden Republik Indonesia ke-3 pada tanggal 21 Mei 1998.

 

Hasri Ainun masuk rumah sakit sejak 23 Maret 2010. Kondisinya sempat membaik sebelum akhirnya kembali mengalami kritis. Sejak masuk rumah sakit beliau sudah menjalani operasi selama 12 kali.

Usianya yang mencapai 72 tahun membuatnya kian lemah. Jenazah Hasri Ainun Habibie akhirnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Ainun Habibie terlahir sebagai Hasri Ainun Besari. Ia lahir pada 11 Agustus 1937 di Semarang, Jawa Tengah. Ia menikah dengan BJ Habibie pada 12 Mei 1962. Ainun merupakan anak keempat dari delapan bersaudara putra Haji Mohammad Besari.

Selepas kuliah dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Ainun pernah bekerja di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta. Saat bekerja di RSCM, Ainun tinggal di asrama belakang Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo di Jalan Kimia, Jakarta Pusat.

Pernikahannya dengan BJ Habibie, yang kemudian terpilih menjadi Presiden ketiga RI, dikaruniai dua putra, yakni Ilham Akbar dan Thareq Kemal, serta empat orang cucu. Setelah BJ Habibie lengser dari kursi kepresidenan, sang mantan ibu negara ini juga ikut aktif dalam Habibie Center sebagai salah seorang deputi.

Dalam masa-masa seorang diri, mantan Presiden Habibie menulis buku yang berjudul "Habibie dan Ainun".

Akhirnya masyarakat Indonesia dapat menyaksikan film bercerita kisah cinta sejati BJ Habibie dan Hasri Ainun Habibie pada akhir bulan Desember 2012.

Film kehidupan Presiden ke-3 RI itu dibintangi aktor Reza Rahardian yang memerankan Habibie dan Bunga Citra Lestari sebagai Ainun. Peran mereka benar-benar hidup dari awal film hingga film ini selesai.

Film menceritakan bagaimana Habibie dan Ainun saling berpegangan tangan menghadapi berbagai rintangan hidup. Ainun merupakan cinta pertama dan terakhir untuk Habibie. Sang ahli pesawat terbang merupakan kawan lama Ainun. Setelah berpisah sekian lama, cinta mempertemukan mereka di Bandung, Jawa Barat.

Mereka kemudian menikah kemudian terbang ke Jerman. Sejak itu, Ainun terus mendampingi pujaan hatinya mengabdikan diri untuk Indonesia.

Film 'Habibie dan Ainun' berdasarkan buku dengan judul serupa. Proses pengambilan gambar berlokasi di Klaten dan Semarang serta Jerman.

Dalam film itu, Pak Habibie dan Ibu Ainun bisa saling mengisi. Bisa saling memberi dan menerima juga. Kisah cinta dan romantisme yang ada dalam film itu jarang ditemukan di kehidupan nyata.

Film "Habibie dan Ainun" mengisahkan Habibie dan Ainun dari remaja hingga masa senja. Dari Indonesia ke Jerman sampai Ainun menutup usia.

Rudy Habibie (Reza Rahadian) adalah seorang yang jenius dan selalu memiliki prestasi yang membanggakan disekolahnya. Sama halnya dengan Ainun (Bunga Citra Lestari) yang juga dikenal sangat pintar. Meskipun awal perkenalan keduanya sangatlah tidak menyenangkan, namun mereka akhirnya dipertemukan kembali saat mulai beranjak dewasa.

Habibie tidak menyangka kalau Ainun yang dulu sempat dia ejek berkulit hitam kini merubah menjadi gadis ayu nan cantik. Bila dahulu Ainun seperti gula Jawa, maka ketika Habibie kembali dari Jerman, maka Ainun telah berubah menjadi gula Pasir, cantik sekali di mata Habibie.

Sejak saat itulah benih-benih cinta mulai muncul di kedua hati mereka. Dengan bekal pengalaman pendidikan di luar negeri, Habibie kemudian bertekad untuk meminang Ainun dan hijrah ke Jerman.

Buku habibie menjadi best seller di tahun 2011. Hanya dalam waktu 3 bulan, buku itu berhasil terjual 50 ribu copy. Awalnya buku tersebut hanyalah sebagai terapi B.J. Habibie untuk mengatasi kesedihannya yang sangat teramat dalam atas wafatnya istri tercinta.

Ternyata buku tersebut menjadi sebuah novel dokumenter yang luar biasa dan kini berevolusi ke layar lebar di tangan dingin sutradara Faozan Rizal.

Begitu banyak yang dapat dipetik dari buku ini. Pelajaran menjadi seorang wanita, istri, maupun ibu. Pelajaran mencintai seseorang secara penuh dan utuh. Pelajaran menjadi pribadi yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar, serta banyak pelajaran lainnya.

Berikut ini kutipan isi surat Cintanya :

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu. Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi……

“Saya dilahirkan untuk Ainun dan Ainun dilahirkan untuk saya”

……Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan, Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku, selamat jalan, calon bidadari surgaku ….

BJ.Habibie

Yang lebih saya mengerti sekarang adalah kebaikan keputusan ibu saya. Beliau dari semula berkeyakinan bahwa Ainun adalah jodoh terbaik saya,” ujar BJ Habibie.

“Beliau adalah sosok yang dekat dengan suami, men-support suami, dan peduli terhadap masa depan bangsa yang berbasis pada keluarga yang harmonis.” Hidayat Nur Wahid.

“Beliau rajin membaca Al-Quran, pagi sore. Mungkin dengan seringnya membaca Al-Quran, efeknya pada kekuatan buat Pak Habibie sekarang ini. Almarhumah juga seorang istri yang setia dan santun. It was so sweet memory .” Amien Rais.

“Beliau adalah ibu yang menjadi dambaan yang sangat lemah lembut dan perhatian kepada keluarga.” Muhammad Jusuf Kalla.

“Saya kenal Ibu Ainun semasa pemerintahan Habibie. Posisi beliau sebagai Ibu Negara sangat membanggakan. Tiap kehadiran beliau selalu memberikan kesejukan.” Jend.(purn.) Wiranto.

Bagaimana pun film ini layak di tonton oleh masyarakat kita, tidak ketinggalan Presiden dan wakil Presiden beserta para pejabat lainnya sudah menyaksikan film ini.

Pada akhir acara SILAKNAS ICMI, juga di putar film Habibie dan Ainun bertempat di kawasan Senayan, pada hari Kamis, 20 Desember 2012.

Turut hadir Presiden Habibie beserta Ilham Habibie, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqie, AM.Fatwa, ketua MUI Amidan, para undangan dari kalangan ICMI serta hadir juga  pemeran utamanya Reza Rahadian.

Sudah tentu air mata berceceran di pelupuk mana ketika menyaksikan film ini. Akan tetapi pemeran Habibie terlewat jangkung orangnya. Secara keleruhan film ini telah menggambarkan kehidupan Presiden Habibie beserta istri yang tercintanya yaitu Ainun Habibie.

Jangan lupa siapkan tisu yang banyak ketika menyaksikan film Habibie dan Ainun ini, hadiri yang menyaksikan film ini sebagian besar basah pipinya karena air mata yang menetes. Selamat menonton filmnya, jangan berisik ya...resapi makna yang terkandung dalam film ini.

(Foto: Dokumentasi MD Pictures / Istimewa)


Artikel Lainnya:
Artikel Lainnya:

 

Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.