"Lima Elang", Petualangan Seru Lima Penggalang Pramuka Saat Liburan Sekolah
KOPI, Sukses lewat film keluarga Garuda di Dadaku (2009) yang meraih sekitar 1,4 juta penonton di tahun 2009 lalu, SBO Films, kembali menggandeng berbagai pihak dan siap meluncurkan Lima Elang guna mengisi libur Lebaran tahun 2011 ini.
“SBO Films memang memiliki perhatian dan komitmen tentang film keluarga. Lima Elang, merupakan sebuah film anak-anak hasil kerjasama SBO Films dengan KOMPAS Gramedia (KG) Production, Majalah Bobo, Indika Pictures, dan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka. Kerja bareng ini didasari atas kepedulian dan komitmen kita semua yang sama terhadap film keluarga atau anak-anak, selain juga soal kesamaan visi dalam mengangkat cerita dan nilai-nilai yang ada dalam film ini,” jelas Shanty Harmayn selaku produser film ini kepada para wartawan saat peluncuran film Lima Elang di Jakarta, Kamis (11/08/2011) lalu.
“Ini adalah pengalaman pertama terjun dalam perfilman bagi KG Production. Kami ikut serta dalam proyek Lima Elang ini, karena memiliki kesamaan visi dalam hal menyuguhkan film keluarga berkualitas dengan pesan-pesan positif bagi penonton, terutama anak-anak,” tambah Indra Yudhistira selaku salah satu produser eksekutif.
“Dengan dasar visi dan komitmen yang sama dari berbagai pihak, nilai produksi yang baik menjadi hal yang penting dalam upaya menghadirkan film bermutu. Upaya kami, dengan skenario yang kuat, produksi yang digarap dengan baik, ujungnya adalah sebuah film yang bermutu, mendidik, sekaligus menghibur untuk keluarga Indonesia, khususnya anak-anak. Dengan begitu Lima Elang menjadi pilihan yang tepat untuk mengisi libur Lebaran” jelas Kemal Arsjad selaku produser.
Sedangkan, bagi Azrul Azwar selaku Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan juga salah seorang produser eksekutif dalam film Lima Elang, film petualangan yang menghibur dan berkualitas, serta menyampaikan pesan-pesan positif bagi anak-anak, apalagi dengan latar Pramuka, sudah sepantasnya mendapatkan dukungan penuh dari pihaknya.
“Sebuah kebetulan yang ideal ketika kami punya kepedulian yang besar untuk mengangkat dan mengingatkan kembali nilai-nilai kepramukaan yang sangat positif dalam kondisi bangsa sekarang ini, sementara teman-teman dari perfilman punya kepedulian dan visi yang sama dan menggarapnya ke layar lebar,” imbuh Azrul Azwar sambil menambahkan film ini sekaligus sebuah hadiah untuk peringatan 50 Tahun Gerakan Pramuka yang dirayakan pada 14 Agustus (1961- 2011).
Sementara itu, bagi Salman Aristo, selaku penulis skenario dan produser film ini, di tengah banyaknya film anak-anak Hollywood dengan kualitas yang baik yang mengisi bioskop, film anak-anak Indonesia, justru sangat relevan untuk hadir. “Anak-anak Indonesia tetap sangat perlu untuk mengetahui cerita anak-anak Indonesia sendiri. Mereka punya keinginan dan kebutuhan besar juga kok, untuk tahu cerita-cerita teman-teman mereka, anak-anak Indonesia lainnya. Bagaimanapun, penting bagi kita sebagai insan perfilman untuk memberikan suara pada anak-anak Indonesia karena kebutuhan untuk itu besar dan juga lebih mudah bagi penonton anak-anak Indonesia untuk bisa mengidentifikasi diri lewat film-film lokal,” jelas Salman.
Lima Elang berkisah tentang Baron [Christoffer Nelwan] yang merasa sangat kesal, tatkala harus mengikuti orang tuanya pindah dari Jakarta ke Balikpapan, Kalimantan Timur. Ia pun memilih untuk menutup diri dari lingkungan barunya dan sibuk sendiri bermain mobil RC (Remote Control, red.). Namun, karena satu dan lain hal, Baron harus mewakili sekolahnya mengikuti perkemahan Pramuka dan satu regu dengan Rusdi [Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan], pramuka supel yang kelewat optimistis dan kerap kali membuat Baron jengkel. Bersama dengan anggota lain, Anton [Teuku Rizky Muhammad] si ahli api yang gembul, dan Aldi [Bastian Bintang Simbolon], si kerdil yang temperamental, mereka memulai petualangan barunya di Bumi Perkemahan Bangkirang, Kaltim. Mereka juga bertemu dengan Sindai [Monica Sayangbati], gadis perkasa, yang banyak membantu Baron dan kawan-kawan ketika harus menjelajahi hutan lebat lewat salah satu permainan perkemahan, guna meraih penghargaan medali Bintang Utama. Situasi semakin menegangkan, ketika Rusdi dan Anton diculik oleh komplotan penebang hutan liar pimpinan Arip Jagau di tengah hutan. Baron, Aldi, dan Sindai, yang tadinya mau kabur dari perkemahan, harus kembali untuk menolong kedua sahabatnya. Lucu, seru, tegang dan mengharukan, Lima Elang merupakan film petualangan yang pas untuk seluruh keluarga.
Kelima karakter dalam film ini dibintangi para pemain cilik Christoffer Nelwan, Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan, Teuku Rizky Muhammad, Bastian Bintang Simbolon dan Monica Sayangbati. Christoffer, Iqbaal, Rizky, dan Bastian baru pertama kali terjun dalam dunia perfilman, namun mereka memiliki latar pengalaman dalam drama musikal. Sementara itu Monica Sayangbati memiliki latar sebagai model, sejak usia balita dan sudah main di beberapa film.
Berkebalikan dengan berbagai pihak yang banyak digandeng dalam hal memproduksi film, untuk penyutradaraan, tugas ini diserahkan ke tangan satu orang sutradara, Rudi Soedjarwo. “Ini adalah kesempatan yang besar sekaligus tantangan yang besar juga. Bekerja dengan rumah produksi yang berkualitas dan skenario apik yang ditulis Salman Aristo adalah kesempatan besar. Namun, ini baru pertama kalinya saya menyutradarai film yang pemainnya anak-anak dan itu adalah tantangan terbesarnya. Menjalani syuting pada April hingga awal Mei lalu bersama anak-anak ini, ternyata sangat mengasyikkan. Para pemain anak ini sangat cerdas dan berbakat meskipun bagi kebanyakan dari mereka ini baru pertama kalinya main film. Kami menjalaninya dengan enak, kadang saya jadi teman, orang tua, bercanda tapi juga harus bisa tegas pada waktu-waktu dan hal-hal tertentu. Dan saya kagum karena meskipun anak-anak, mereka mampu profesional. Selama proses syuting, saya banyak belajar juga dari mereka,” jelas Rudi.
Berkaitan dengan latar kepramukaan yang diangkat dalam film ini, Rudi mengaku bahwa dia dulu tidak pernah ikut kegiatan Pramuka, namun melalui film ini, dia mendapat pelajaran yang luar biasa. “Pramuka itu ternyata mengajarkan banyak hal-hal positif tentang nilai-nilai mendasar seperti kemandirian, persahabatan, tolong-menolong, kerjasama, rendah hati dan banyak lagi lainnya. Tapi selain itu, yang paling penting adalah kepramukaan mengajarkan hal-hal itu dengan sangat inspiratif, lewat berbagai permainan yang ada dan dilakukan oleh anak-anak. Saya ingin, anak-anak saya semua untuk ikut Pramuka,” tambah Rudi.
“Dari awal saya yakin bahwa Rudi, sebagai sutradara yang punya kualitas baik, lewat fasilitasi dengan nilai produksi yang baik, bisa menjawab tantangan ini. Hal itu sudah terjawab lewat Lima Elang yang kalau kita lihat filmnya sangat menghibur dengan ramuan pas dimana kelucuan, ketegangan, keseruan dan keharuan, semuanya disuguhkan dengan baik kepada penonton,” jelas Shanty. Lima Elang yang berdurasi 88 menit ini, bakal hadir ditayangkan serentak di bioskop-bioskop seluruh Indonesia, mulai 25 Agustus 2011 mendatang.
(Foto : Istimewa / Dokumentasi SBO Films, Indika Pictures & KG Production)
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- Public Enemy #1 (Jilid 2), Akhir Petualangan Sang Residivis Perancis
- Salt, Aksi Agen Rahasia Cantik Bongkar Konspirasi Spionase Dunia
- After.Life, Hargailah Hidup Ini Sebelum Maut Datang Mengakhiri
- Big Stan, Narapidana Penghuni Penjara, juga Manusia
- Black Swan, Misteri Obsesi Sang Balerina Primadona
- True Grit, Mengejar Buronan Sang Pembunuh Hingga Sarang Ular
- "Surat Kecil Untuk Tuhan", Ketabahan Dara Belia Hadapi Penyakit Kanker Ganas
- Gnomeo & Juliet, Jalinan Kasih dan Prahara Keluarga Kurcaci Taman Rumah
- Brooklyn's Finest, Upaya Kepolisian New York Redam Kejahatan Wilayah Hitam
- The King's Speech, Terapi Bagi Sang Raja yang Gagap Bicara
- The Fighter, Dilema Sang Petarung Hadapi Sebuah Pilihan: Keluarga atau Prestasi?
- 22 Bullets, Hadiah Maut Buat Sang Mafia Insyaf
- No Strings Attached, Menjalin Hasrat Ragawi Tanpa Melibatkan Naluri Cinta
- The Mechanic, Konspirasi Terselubung antar Jawara Pembunuh Bayaran
- "Hati Merdeka", Akhir Prahara di Kancah Revolusi Indonesia


























