Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai

Login & Kirim Warta



Komentar Warga

Kolom Pewarta
Kriteria Calon Presiden Masa Depan (142/.....
20/05/2012 | Muhammad Haries

KOPI - Seperti yang kita ketahui pemilu capres dan cawapres semakin waktu semakin dekat. Seluruh ele [ ... ]



Yang Terpinggirkan
Penertiban PETI di Tanah Bumbu; Iya Kand.....
22/04/2012 | Imi Suryaputera

Sangat keterlaluan saya kira bila pengawasan terhadap aktivitas pertambangan batubara ataupun jenis  [ ... ]


Foto Pewarta
Pulau SenoaPengecekan KWHKejar Setoran ?
Gelora Sepeda
TelkomVision Gandeng Kemensos Gelar INDO.....
21/05/2012 | Yeni Herliani
article thumbnail

KOPI - TelkomVision dalam usianya yang ke-15 kian menunjukkan komitmen dan kepeduliannya terhadap masyarakat dengan memberikan kualitas produk yang baik, kemudahan layanan, dan kepedulian terhadap k [ ... ]



  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
Statistik
Anggota : 5025
Isi : 8250
Content View Hits : 1862265
mod_vvisit_counterPengunjung Hari ini2740
mod_vvisit_counterPengunjung Kemarin4119

Warga Online : 69
IP Kamu : 38.107.179.218













Inspirasi Resensi The Company Men, Krisis Global Dunia Sengsarakan Kaum Eksekutif Negeri Paman Sam
Pemberitahuan: Bagi Peserta Lomba Lomba Menulis Artikel Tingkat Nasional tentang RI-Maroko yang belum mendapatkan kiriman Piagamnya hingga saat ini, mohon beritahukan ke Panitia melalui SMS/Call ke 081371051875 (Mbak Wina), PPWI akan mengirimkan soft-copy Piagam dimaksud melalui email yang bersangkutan. Untuk itu, kirim SMS ke nomor HP 081371051875 dengan format: NAMA LENGKAP spasi (NOMOR ARTIKEL) spasi ALAMAT EMAIL. Contoh: ALVIN TRI DANDY (598/S) noirescence@yahoo.com. Mohon segera dan beritahukan kepada rekan lainnya yang belum mendapatkan paigamnya juga. Terima kasih.

The Company Men, Krisis Global Dunia Sengsarakan Kaum Eksekutif Negeri Paman Sam

Review Film :

Judul Film : THE COMPANY MEN (2010)

Genre : Drama.

Sutradara : John Wells.

Skenario : John Wells.

Produksi : The Weinstein Company.

Pemain : Ben Affleck, Kevin Costner, Tommy Lee Jones, Chris Cooper, Rosemarie DeWitt, Mario Bello.

Durasi : 113 menit.

Sinopsis :

KOPI, Tentunya, Anda masih ingat betul peristiwa krisis ekonomi global yang menimpa dunia perekonomian Amerika Serikat (AS), beberapa tahun belakangan ini. Penurunan harga aset perusahaan yang disebabkan banyaknya faktor kredit macet, hingga membuat (bahkan, berimbas pada perekonomian negara-negara lainnya di dunia) banyak perusahaan berskala menengah hingga besar di AS melakukan upaya pemangkasan anggaran perusahaan untuk menekan pengeluaran.

Fenomena inilah yang kemudian diangkat sutradara John Wells lewat film terbarunya, The Company Men. Berawal karier di dunia televisi sebagai seorang produser, mulai dari tahun 1987 dan menghasilkan serial-serial drama tv yang berkelas, seperti : The West Wing (1999-2006) dan ER (2004). Tahun 2010 ini, menjadi tahun yang cukup bersejarah bagi John Wells, tatkala ia memutuskan untuk memulai debut penyutradaraan layar lebar lewat The Company Men.

Seperti halnya, Up in The Air (2009) yang membahas mengenai efek krisis ekonomi AS terhadap para eksekutif pekerja di negara tersebut. The Company Men juga, melakukan observasi yang sama terhadap tema tersebut. Namun, The Company Men melakukan observasi tersebut secara mendalam dan memfokuskan kisahnya dari sisi para pekerja yang mengalami pemecatan tersebut.

Film ini bercerita mengenai kehidupan para karyawan level "kerah putih", Bobby Walker (Ben Affleck), seorang eksekutif yang bekerja di salah satu perusahaan besar dan telah mengabdi selama 12 tahun. Bencana krisis perbankan tahun 2008 yang menghantam perekonomian AS berimbas ke perusahaan tempatnya bekerja. Ribuan karyawan perusahaan tersebut terpaksa "dirumahkan", tak terkecuali Bobby.

Menghadapi keadaan barunya tersebut, sudah tentu Bobby merasa gengsinya "terganggu". Sebagai orang dengan gaya hidup yang mewah dan jetset, Bobby tidak dapat menerima kenyataan. Bahwa, ia harus merelakan rumah besarnya (yang masih dalam proses kredit, tentunya), mobil Porsche kesayangannya (juga kredit), keanggotaannya di klub golf (yang dibayar belakangan alias "gesek kartu kredit" lantaran tagihan kartu kredit bank tidak berlaku lagi), dan lain sebagainya, terpaksa ditarik kembali pihak perusahaan properti/dealer, lantaran tidak bisa membayar angsuran kreditnya.

Dalam kondisi ekonomi negara yang carut marut, Bobby menemukan fakta, bahwa mencari peluang pekerjaan adalah hal yang teramat sulit. Ia pun harus menghadapi cobaan terberat dalam hidupnya : bekerja dengan gaji yang jauh di bawah standar (dengan level "kerah biru") atau menjadi pengangguran selamanya. Dua rekan sekantor Bobby, Phil Woodward (Chris Cooper) dan Gene McClary (Tommy Lee Jones) juga, mengalami nasib yang sama. Tragisnya, mereka adalah pegawai senior yang lanjut usia dan tidak akan pernah memperoleh kesempatan bekerja di perusahaan mana pun lantaran faktor usia.

Ketiga pria ini pun dipaksa memperjuangkan kehidupan mereka, sebagai suami dan kepala keluarga yang harus menghidupi keluarganya masing-masing. Tidak lama kemudian, Bobby menemukan pekerjaan baru dalam hidupnya. Yakni, menjadi kontraktor pembangunan rumah bagi perusahaan properti milik kakak iparnya, Jack Dolan (Kevin Costner). Ternyata, pekerjaan barunya amat disukai Bobby. Lalu, bagaimana nasib para orang kantoran "kelas atas" lainnya, dalam menyiasati hidupnya di tengah badai krisis ekonomi. Mampukah mereka bertahan hidup dalam krisis ekonomi tersebut?

Bagi bangsa-bangsa lainnya di dunia, film ini seakan-akan menjadi media informasi dan pembelajaran untuk mengetahui pola hidup masyarakat yang ada di negeri adikuasa tersebut di saat terjadinya gejolak krisis perekonomian dunia. Tidak ingin bangkrut/pailit mendadak di kondisi ekonomi global yang tak menentu seperti ini? Kurangi gaya hidup mewah dan hindari budaya konsumtif. Mungkin, begitulah kira-kira pesan yang ingin disampaikan lewat film ini kepada para penontonnya.(*)

Comments
Add New
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
 

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."


Artikel Lainnya: