Trend Bergama yang Aneh (2)
KOPI, Bukan mengada-ada, ini sebuah kenyataan dari sepotong cerita, tentang cara dan sistim beragama yang sedang berkembang di negeri saya. Tarik menarik antara kepentingan kelompok-kelompok ajaran dakwah, mereka yang tak mau menyebut diri dan kelompoknya sebagai sebuah organisasi keagamaan.
Sebelumnya, alangkah baiknya saya kabarkan tentang istri saya, yang rutin sejak beberapa pekan terakhir mengikuti pengajian, sejenis kelompok pengajian halaqah yang menurut hemat saya, tak apa-apa untuk diikuti. Pengajiannya selalu diadakan di suatu tempat, komplek Masjid yang didirikan oleh sekelompok orang yang sehari-hari selalu berkumpul sesama mereka, mendakwahi orang-orang untuk selalu taat dan patuh pada aturan Tuhan.
Pengajian itu sendiri, bukan di Masjid itu tempatnya. Tepatnya di salah satu rumah yang mereka sebut Ustadzah. Saya tak akan sebutkan nama ustadzah itu di sini. Tak pentinglah arti sebuah nama. Setiap akhir pekan, selalu diadakan pengajian di sana.
Menagapa saya mengizinkan istri ikut pengajian itu? Sementara saya juga seorang pendakwah? Jawabannya, menurut saya, selagi pengajian itu benar dan tidak melenceng dari aturan-aturan beragama, tak salah kiranya diikuti.
Mulailah istri saya rutin mengikuti. Awalnya tak ada masalah. Setiap pulang dari pengajian itu, istri saya selalu bercerita tentang apa yang didaptnya dari pengajian. Tentang cara mereka melakukan pengajianpun akhirnya saya ketahui. Setiap pengajian, tak lebih dari sepuluh orang jemaahnya, semua perempuan, karena menurut mereka, antara laki-laki dan perempuan dipisahkan dalam pengajian.
Pengajian selalu dimulai dengan membaca sebuah kitab atau buku. Setelah dibaca, si Ustadzah menceritakan kembali apa yang telah dibacanya, sejenis penjelasan lah kira-kira. Tak ada dialog, tak ada juga upaya mendalami apa yang dibaca. Begitu saja isi pengajiannya.
Istri saya, paling suka setelah pengajian berlangsung, berbincang-bincang dengan si Ustadzah. Inipun saya yang menyuruh, karena menurut saya, dan yang saya biasa lakukan dalam berdakwah, mengajak Ustadz atau Ustadzah berdialog, akan membuat sebuah pendalaman terhadap materi pengajian.
Hampir di setiap perbincangan istri saya dengannya, si Ustadzah selalu menyempatkan bertanya, “Suami ibuk gimana? Udah diajak untuk ikut dalam pengajian kita? “ Maksudnya tentu saya ikut, dan bergabung ke pengajian yang laki-lakinya. Istri saya selalu menjawab, “ Beliau orangnya keras dalam hal beragama, selain dia orang yang banyak tahu tentang ilmu agama, baginya pengajian dan cara berdakwah seperti ini masih dipertanyakan,” demikian jawab istri saya.
Tadi siang, Sabtu (30/7), istri saya juga mengikuti pengajian itu. Sepulangnya dari sana, istri saya tetap bercerita seperti biasanya. “Bang, tadi Ustadzah itu nanya lagi, tentang kamu. Kapan mulai ikut pengajian di kelompok laki-laki?” Saya jawab, “Tak usahlah, cukup kamu saya yang mengikutinya.” Istri saya bilang, itu juga yang dia sampaikan kepada si Ustadzah, lalu Ustadzah itu berkata, “Tak apa-apa, yang penting selagi suami ibuk masih mengucapkan Dua Kalimat Syahadat, masih melaksanakan shalat, biarkan saja, kecuali dia sudah tak shalat lagi,” demikian ungkapannya kepada istri saya.
Nah, inilah inti persoalannya. Saya langsung tersinggung sebagai. Saya bukan orang awam dalam beragama, saya dididik di pesantren, milik sebuah lembaga keagamaan terbesar di negara ini. Selain didikan itu, saya juga mendalami Ilmu Filsafat Islam di salah satu perguruan tinggi di daerah saya. Tak pernah sebelumnya saya temukan cara orang berdakwah seperti si Ustadzah itu. Mengatakan dengan istilah “Selagi” yang secara bahasa berkonotasi dengan frase “Paling Tidak”.
Kalau si Ustadzah itu mengerti dengan ilmu agama, bagi saya tak masalah. Tapi dari cerita istri saya, ia tidak memiliki dasar pendidikan keagamaan sedikitpun. Ia membuka pengajian, sesuai dengan tuntunan kelompoknya tentunya, hanya berdasarkan dengan pengalaman dan pemahaman pribadinya terhadap buku-buku dakwah yang belum jelas kebenarannya.
Inilah sebuah potret masyarakat beragama zaman ini. Saya saja, sebagai seorang pendakwah, harus mendalami dulu akar dari sebuah ayat atau hadits melalui ilmu pengetahuan yang dikhususkan untuk itu. Untuk mendalami ilmu dakwah, saya harus belajar Bahasa Arab, harus mendalami Ilmu Mantiq, harus banyak belajar Ilmu Fiqih, Ushulul Fiqh, Nahu, Sharaf, dan banyak cabang ilmu pengetahuan lain. Juga harus belajar tentang ilmu komunikasi dakwah, tentang bagaimana caranya kita masuk ke arena dakwah, agar tak salah kaprah dalam mendekati ummat. Agar ummat tak tersinggung dan lari dari jalan Tuhan.
Kembali ke Ustadzah dan ungkapannya tentang saya, seolah dengan ungkapannya, saya ini adalah orang yang dianggap belum tahu dengan jalan yang benar. Kata “Selagi” yang dipakainya, dapat diartikan memojokkan saya, seolah saya orang yang belum benar dalam praktek beragama, baru setengah benar. Lebih jauh, dengan ungkapannya demikian, secara ilmu komunikasi dapat dipahami, secara tidak langsung si Ustadzah ingin menjustifikasi, ajaran, aliran, cara dan kelompoknya lah yang yang benar.
Ahh, ini akan merusak tatanan kehidupan beragama masyarakat tentunya. Akan buruk akibatnya pada masyarakat sosial kita ke depan. Akan merendahkan umat Islam di mata dunia.Untung istri saya hanya sekedar ikut, dan memang saya yang meminta dia ikut untuk melihat, sejauhmana cara kelompok-kelompok seperti itu memahami agama.
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- Ramadhan Penuh Berkah
- LDII Bersilaturrahmi dengan Ulama
- Sifat-Sifat Tak Terpuji: Ananiyah (Bag.1)
- 8 Tanda-tanda Allah Mencintai Hamba-Nya
- Waisak dan Keselarasan Alam
- 10 Ciri Wanita Idaman
- Dalam Hal Apa Sabar Dibutuhkan?
- Pembinaan Rohani Islam di Mabes TNI
- Kemenangan
- Beragama Ala Komunitas Musik Cadas
- Ust Anwari Hambali Berikan Tauziah di Mesjid Al-Ikhsan Bitung
- Tanah Bumbu Fokus pada 3 Kategori di STQ Tingkat Propinsi Kalsel Ke-18
- Gubernur Kalsel Buka STQ Ke-18 di Kandangan HSS
- Pemikiran Luar Menyelinap Masuk dalam Islam (Bagian I)
- Al-Qur'an Al-Karim: Kalamullah menurut Muhammad Abduh (Bagian Pertama)


























