Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai

Login & Kirim Warta



Komentar Warga

Kolom Pewarta
Kriteria Calon Presiden Masa Depan (142/.....
20/05/2012 | Muhammad Haries

KOPI - Seperti yang kita ketahui pemilu capres dan cawapres semakin waktu semakin dekat. Seluruh ele [ ... ]



Yang Terpinggirkan
Penertiban PETI di Tanah Bumbu; Iya Kand.....
22/04/2012 | Imi Suryaputera

Sangat keterlaluan saya kira bila pengawasan terhadap aktivitas pertambangan batubara ataupun jenis  [ ... ]


Foto Pewarta
Memberi PakanProduksi Batubara PT. TIA Capai 1 Juta MT di 2010Sinergi Layanan Pasien Dhu'afa dengan PPWI
Gelora Sepeda
TelkomVision Gandeng Kemensos Gelar INDO.....
21/05/2012 | Yeni Herliani
article thumbnail

KOPI - TelkomVision dalam usianya yang ke-15 kian menunjukkan komitmen dan kepeduliannya terhadap masyarakat dengan memberikan kualitas produk yang baik, kemudahan layanan, dan kepedulian terhadap k [ ... ]



  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
Statistik
Anggota : 5026
Isi : 8250
Content View Hits : 1862503
mod_vvisit_counterPengunjung Hari ini2974
mod_vvisit_counterPengunjung Kemarin4119

Warga Online : 61
IP Kamu : 38.107.179.220













Inspirasi Rohani Al-Qur’an Bicara Gender
Pemberitahuan: Bagi Peserta Lomba Lomba Menulis Artikel Tingkat Nasional tentang RI-Maroko yang belum mendapatkan kiriman Piagamnya hingga saat ini, mohon beritahukan ke Panitia melalui SMS/Call ke 081371051875 (Mbak Wina), PPWI akan mengirimkan soft-copy Piagam dimaksud melalui email yang bersangkutan. Untuk itu, kirim SMS ke nomor HP 081371051875 dengan format: NAMA LENGKAP spasi (NOMOR ARTIKEL) spasi ALAMAT EMAIL. Contoh: ALVIN TRI DANDY (598/S) noirescence@yahoo.com. Mohon segera dan beritahukan kepada rekan lainnya yang belum mendapatkan paigamnya juga. Terima kasih.

Al-Qur’an Bicara Gender


“Tak ada makhluk sempurna di atas muka bumi ini. Tak ada manusia istimewa dihadapan-Nya. Semua sama disisi-Nya, baik laki-laki maupun perempuan. Iman dan takwa menjadi taruhannya.”

Patut diakui atau tidak, bahwa kehidupan ini penuh dengan perbedaan (distinction). Namun, perbedaan itu bukanlah suatu pembedaan (discrimination) yang akan menguntungkan salah satu pihak dan merugikan pihak yang lain.

Perselisihan panjang tak kunjung usai sampai saat ini. Itu ulah perbedaan. Akhirnya lahir suatu pembedaan dalam aspek kehidupan, khususnya dalam dunia pekerjaan. Kaum perempuan selalu saja dikalahkan dalam kasus ini. Pasalnya, perempuan selalu dipojokkan dengan persoalan-persoalan rumah tangga, tidak harus mencari nafkah, dan lain-lain. Karena perempuan memiliki jiwa lemah dan memiliki alat reproduksi yang berbeda.

Memang, hal tersebut tidak dinistakan kebenarannya oleh kaum perempuan. Mereka sadar akan kewajibannya dalam rumah tanngga, sadar akan kodrat Ilahi Robbi yang dilimpahkan. Tetapi, bukan berarti hak perempuan itu dikebiri untuk berkarya dan bekerja layaknya laki-laki dengan mengandalkan faktor-faktor yang ada.

Persoalan di atas disambut baik dengan hati membara oleh para aktivis perempuan, baik nasional maupun internasional. Mereka beranggapan bahwa jangan kaitkan masalah biologis dengan masalah sosial di era modern seperti ini. Pernyataan seperti itu merupakan sektor budaya masyarakat primitif yang selalu saja menempatkan laki-laki sebagai pemburu (hunter) dan perempuan sebagai peramu (gatherer). (Louis Lamphere:1993).

Seandainya hal tersebut selalu dikaitkan, kaum perempuan akan tertindas diam terkurung murka selamanya.

Kala itu pula semarak penggunaan istilah gender. Menurut Schowalter (1989), penerapan istilah gender ini belum terlalu lama. Wacana ini mulai ramai di awal tahun 1977. Saat itu, kelompok feminis di London tidak lagi memakai isu-isu lama seperti patriarchal atau sexist, tetapi digantinya dengan wacana gender (gender discourse). Awalnya ada kerancuan pada istilah sex dan gender.

Nature dan Nurture

Perbedaan biologis selalu menjadi alat pemisah dalam bersosial. Entah apa yang membuat hal itu bisa terjadi.

Dr. Nasarudin Umar (2001) berpendapat, harus dipahami secara cermat dan teliti tentang relasi seksual dan relasi gender. Relasi seksual adalah hubungan antara kaum laki-laki dan perempuan yang didasarkan pada tuntutan dan kategori biologis. Sedangkan relasi gender adalah sebuah konsep dan realitas sosial yang berbeda. Di mana pembagian kerja seksual antara laki-laki dan perempuan tidak didasarkan pada pemahaman yang bersifat normatif serta kategori biologis, melainkan pada kualitas, skill, dan peran berdasarkan konvensi-konvensi sosial. Kedua pemahaman ini bisa saja memutarbalikkan keadaan. Artinya, secara biologis dikategorikan sebagai perempuan, tetapi dari sudut gender bisa saja berperan sebagai laki-laki, dan begitu pula sebaliknya.

Menurutnya, di dalam al-Qur’an terdapat istilah-istilah yang harus dibedakan antara keduanya, seksual-biologi dan konsep gender. Seringkali dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an itu dicampuradukkan antara kedua kategori tersebut, bahkan cenderung mengidentikkan yang satu dengan yang lainnya. Misal, soal kepemimpinan dan mencari nafkah. Tak ada statemen dalam al-Qur’an mengenai jabatan semisal Presiden, Menteri, dan lain sebaginya. Karena ketika al-Qur’an diwahyukan, dunia Arab kala itu belum adanya birokrasi seperti saat ini. Oleh karenanya, persoalan gender merupakan wilayah yang terbuka untuk ditafsirkan dengan mempertimbangkan konteks sosialnya.

Perbedaan biologis tersebut akhirnya melahirkan dua teori besar, di antaranya yaitu teori nature dan teori nurture. Teori nature menganggap perbedaan peran laki-laki dan perempuan bersifat kodrati. Anatomi biologi laki-laki yang berbeda dengan perempuan menjadi faktor utama dalam penentuan peran sosial kedua jenis kelamin ini. Laki-laki memerankan peran utamanya di dalam masyarakat karena dianggap lebih potensial, lebih kuat, dan lebih produktif. Organ reproduksi dinilai membatasi ruang gerak perempuan, seperti hamil, melahirkan, dan menyusui. Sementara, laki-laki tidak mempunyai fungsi reproduksi tersebut. Perbedaan ini melahirkan pemisahan fungsi dan tanggungjawab antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki berperan di sektor publik dan perempuan berperan di sektor domestik.

Teori nurture beranggapan perbedaan relasi gender laki-laki dan perempuan tidak ditentukan oleh faktor biologis, melainkan konstruksi masyarakat. Dengan kata lain, peran sosial yang selama ini dianggap baku dan dipahami sebagai doktrin keagamaan. Menurut penganut paham ini, sesungguhnya bukanlah kehendak Tuhan dan tidak juga sebagai produk determinasi biologis, melainkan sebagai produk konstruksi sosial (sosial construction). (Nasarudin Umar:2001).

Dasarnya, al-Qur’an tidak merinci secara detail persoalan-persoalan di atas, tidak juga mendukung salah satu dari sekian banyak teori yang muncul menanggapi permasalahan ini. Tetapi al-Qur’an memberikan kesempatan kepada manusia dengan menggunakan kecerdasannya untuk menata sedemikian rapi peran laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial.

Al-Qur’an sangat fair terhadap setiap persoalan. Artinya, di dalam al-Qur’an perspektif gender tidak sebatas mengatur keserasian relasi gender. Lebih dari itu, al-Qur’an juga menata pola relasi antara mikrokosmos (manusia), makrokosmos (alam), dan Tuhan.

Pengertian Gender

Jender berasal dari bahasa Inggris yaitu “gender”, yang berarti jenis kelamin. (John M. Echols:1983). Women’s Studies Encyclopedia menjelaskan bahwa gender merupakan suatu konsep kultural yang berupaya membuat perbedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat. (Helen Tierney).

Kaum feminis, Linda L. Lindsey menganggap semua ketetapan masyarakat perihal penentuan seseorang sebagai laki-laki atau perempuan termasuk dalam kajian gender.

Istilah ini di Kantor Menteri Negara Urusan Peranan Wanita dengan ejaan “gender”, diartikan sebagai interpretasi mental dan kultural terhadap perbedaan kelamin yakni laki-laki dan perempuan. Biasanya gender ini digunakan untuk menunjukkan pembagian kerja yang dianggap tepat bagi laki-laki dan perempuan.

Dapat ditarik kesimpulan, gender berarti suatu konsep yang mengatur peranan laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial-budaya tanpa memperhatikan unsur biologis melainkan dari skill, kualitas, dan peran berdasarkan konvensi-konvensi sosial.

Al-Qur’an tidak mengartikan gender secara rinci, tetapi al-Qur’an memberikan ayat-ayat tentang gender untuk mengidentifikasi istilah-istilah yang sering digunakan di dalamnya. Semisal, al-Rijal, al-Nisa’, al-Dzakar, al-Untsa, dan lain sebagainya.

Memang, untuk mengurai permasalahan gender ini jika merujuk pada ajaran agama dapat menimbulkan perbedaan pendapat. Sebab, banyak sekali aspek yang dibutuhkan untuk memahami persoalan-persoalan tersebut.

Sampai saat ini masih semarak perdebatan masalah gender. Masih banyak kesalahpahaman dalam menginterpretasikan makna gender. Banyak yang mengategorikan gender sama dengan sex.

Dari kedua istilah tersebut memiliki kesamaan pengertian. Di mana gender dalam bahasa Inggris berarti jenis kelamin, sedang sex dalam kamus bahasa Indonesia berarti jenis kelamin juga. Walaupun memiliki kesamaan arti, tetapi dalam penerapannya dipisahkan. Gender lebih berkonsentrasi dalam aspek sosial, budaya, psikologis, dan aspek-aspek non-biologis lainnya. (Linda L. Lindsey:1990). Sedang sex lebih berkonsentrasi kepada aspek biologi seseorang, meliputi perbedaan komposisi kimia dan hormon dalam tubuh, anatomi fisik, reproduksi, dan karakteristik biologis lainnya.

Al-Qur’an memberi kebebasan kepada makhluk-Nya untuk berkarya di muka bumi ini. Ia tidak melarang untuk ikut-serta dalam kehidupan di masyarakat. Hal ini biasanya dipojokkan kepada kaum perempuan. Untuk di era saat ini, tak ada lagi pembedaan dalam tatanan sosial. Laki-laki dan perempuan dipersilahkan untuk meraih tujuan dan impiannya.

farhan

 

Comments
Add New
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
 

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."