Apa yang Kau Cari, Sahabat?

0
14

Pewarta-Indonesia, Sukses kita, ditentukan oleh kita sendiri, bukan orang lain. Itu lead-nya, tidak usah diperdebatkan. Nah, ketika kesuksesan kita yakini sebagai akhir dari harapan, semua manusia akan setuju dengan itu. Tapi yang terkadang salah adalah persepsi tentang sukses itu sendiri. Saya yakin, tentang sukses, kita semua memiliki asumsi masing-masing perihalnya. Sukses bagi saya, seperti dikatakan salah seorang motivator besar berkebangsaan Amerika, saya lupa namanya, sukses bukanlah kunci kebahagiaan. Justru, kata dia, kebahagiaanlah kunci kesuksesan. Jika kita mencintai apa yang kita lakukan, maka kita akan mendapatkan kesuksesan itu.

Kecintaan dan penerimaan akan sesuatu yang bukan saja dalam bentuk perlakuan kepada sesuatu itu, adalah inti dari kesuksesan. Ketika, misalnya, ada orang yang sehari-harinya hanya mengais sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Jika dia, kita sebut saja pemulung, mencintai dan menikmati apa yang ia lakukan itu, maka disitulah ia menemukan kesuksesan itu.

Jika Anda merasa bangga dan cinta sekali dengan suatu pekerjaan, maka Anda telah sukses. Persis sama ketika kita bekerja sebagai kuli bangunan, petani, pelaut, guru, penulis, pelajar, politikus, pengamen, atau pemimpin.

Bahkan ketika misalnya, maaf, orang berzina, dan orang tersebut merasa bahagia dengan itu, maka sesungguhnya dia telah mencapai sukses karena ia telah bahagia. Namun, ini rasa-rasanya mustahil terjadi, meskipun mungkin ada lakonnya. Malah yang ada adalah pertentangan dan pertarungan hati nurani yang tak berkesudahan. Kita sebagai mahluk berfikir, tentu tidak saja ingin bahagia yang sifatnya sementara itu. Kita ingin yang lebih dari itu semua, yakni kebahagiaan absolut. Kebahagiaan multidimensial. Kebahagiaan yang tak berdeviasi.

Mencapai sukses dunia, kita semua punya hak untuk itu. Kita semua punya peluang yang sama menjadi sukses. Seperti kata Barack Obama, semua orang terlahir dengan kesempatan setara.

Mainstream Berprilaku Kita : Tuhan

Tentu sebagai manusia, kita punya naluri untuk ber-Tuhan, naluri untuk menyandarkan diri kepada sesuatu yang kita harapkan dan menjadi arus utama (tujuan akhir) arah berprilaku kita. Dan sadarkah kita jika kebertuhanan inilah sebetulnya substansi kesuksesan yang menenangkan dan melahirkan ketentraman.

Jika kita pernah membaca tentang teori politik yang diperkenalkan oleh psikolog, David McClelland, yang disebut N-Ach (Need for Achievement), saya yakin, kita akan paham kenapa kemudian manusia butuh bergantung kepada dzat yang suci ini. Dari sini kemudian kita tersadar bahwa memang kita manusia ini adalah fitrah, adalah suci. Dalam artian, kita semua memiliki naluri kemanusiaan itu. Yakni bertuhan.

Dalam agama Islam, ayat Al Qur’an yang pertama kali turun sebagaimana pendapat para mufassir (ahli tafsir Al Qur’an yang benar dan lurus) adalah Surah Al Alaq ayat 1-7. Jika kita cermati ayat ini, kita akan menemukan rahasia besar betapa Tuhan itu sangat maha kasih dan sayangnya kepada manusia. Ayat ini pulalah yang menuntun Nabi Muhammad SAW menemukan eksistensi Tuhan yang agung dan maha perkasa. Inilah metode ber-Islam yang kemudian mengantarkan pelakunya menjadi orang orang merdeka dan mulia. Pada ayat pertama Surah Al Alaq (segumpal darah) ini, Tuhan berfirman pertama kali dengan kalimat: IQRO’.

****

Tapi, Kenapa Kita Angkuh?

Agar kita menjadi tahu tentang sesuatu yang tidak kita tahu, maka kita harus membaca. Membaca di sini tentu bukan saja membaca teks, tapi juga adalah membaca ayat ayat Tuhan baik yang tersurat ataupun yang tersirat. Alam dan diri kita sendiri adalah bukti ayat ayat Tuhan yang tersirat.

Perintah membaca dalam ayat tersebut adalah perintah untuk membaca eksistensi Tuhan sebagai Al Khaliq (pencipta) dan manusia sebagai Al Makhluq (yang dicipta, lemah, hina, tak berdaya lagi bodoh). Dengan membaca keberadaan Tuhan sebagai Tuhan yang esa dan satu, maha kuasa, maha perkasa, maha pencipta, maha kaya, maha pintar, maha karya, dan maha luar biasa, maka kita yang diciptakan ini akan sadar bahwa ternyata kita ini tidak ada apa apanya. Kita hanya onggokan raga yang penuh kekurangan.

Di hadapan Tuhan, kita sangatlah lemah tak berdaya. Wujud kita yang awalnya hanyalah tetesan air mani yang sangat hina. Sehingga sangatlah naif jika kemudian kita menyombongkan diri. Apalagi sampai menyombongkan diri dihadapan Tuhan. Pada dasarnya kita adalah bodoh dan tidak tahu apa apa. Kemudian Tuhan mengajarkan kepada kita yang kita tidak tahu melalui perantaraan segenap ciptaannya. Sehingga kemudian kita menjadi tahu apa yang tidak kita tahu.

Tapi kemudian, kenapa banyak diantara manusia yang berlaku sombong dengan kepintarannya, angkuh dengan fisiknya, bangga dan tamak dengan harta bendanya, meremehkan orang lain atas capaian-capaiannya. Inilah, itu terjadi karena ketidaksadaran manusia akan eksistensi dirinya yang sebetulnya tidak ada artinya, bodoh, lemah, dan menjijikkan.

Sama persis ketika wanita cantik bangga memamerkan kesintalan tubuhnya, mata jelitanya, bibir merah merekahnya. Mungkin saja wanita tersebut bangga sekali dan merasa diri bahwa ia sempurna. Atau seorang laki laki yang kaya raya, pintar, gagah, tapi angkuh dan sombong. Apakah kita takjub?

Padahal, kita tahu betul apa yang keluar dari matanya, hidungnya, mulutnya, telinganya, dan seluruh tubuhnya, kotoran!. Setiap hari kita ini hanya memproduksi kotoran kotoran. Dan manusia ini, kasarnya, hanyalah kotoran kotoran yang berjalan. Sadarkah kita, lalu apa yang kau cari? *[]

Sumber image: google.co.uk