Belajar Mengakrabi Alam dari Kongfucius

0
30
Pewarta-Indonesia, Harus diakui Tragedi tanah longsor di Perkebunan Teh Dewata di Desa Tenjolaya, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat yang menyebabkan lebih dari 50 kepala keluarga tertimbun ini diakibatkan ulah lalim manusia.

Betapa tidak, kuatnya sikap serakah dan perilaku jahil yang tertanam dalam sanubari kita membuat alam murka sekaligus unjuk kekuatan.

Tibanya pergantian tahun Baru Imlek dan puncaknya pada perayaan Cap Go Meh. Kiranya kita harus belajar mengakrabi alam dari Kongfucius.

Pasalnya, Soko Guru Kongzi mengajarkan arti penting keselarasan, keseimbangan, keharmonisan antara manusia dengan alam supaya lebih arif.

Umat Khonghucu menyakini manusia adalah pemberian dari langit. Seperti ditulis Tho Thi Anh (1984) Konfucius menyatakan “Apa yang diberikan langit adalah apa yang kita sebut kodrat manusia. Memenuhi hukum dari kodrat manusia yang kita sebut hukum moral. Memalihara hukum moral itulah yang disebut pembudayaan”

Menurut Bagus Takwin (2001) Hukum kodrat manusia dan peraturan moral yang diterapkan pada manusia tidak terpisahkan dari alam semesta. Ibarat hukum yang mengatur pergantian musim dan pengaturan proses alam yang lain manusia harus mengikutinya.

Dengan demikian, manusia merupakan fungsi dari alam. Tentu segala aktivitas dalam keseharianya harus meruju pada alam. Alam adalah baik dan dapat mengatur dirinya sendiri. Bila terjadi kekacauan dapat dipastikan akibat ulah manusia.

Ingat, alam telah menyediakn aturan-aturan bagi bekerjanya alam dan perilaku manusia sebagai bagian dari alam. Jika manusia mengikuti aturan itu, maka tidak akan terjadi kekacauan dan dapat  mempertahankan posisinya yang baik di dunia serta terhindar dari segala mara bahaya.

Apalagi, saat meruju pada Dao (Tao) manusia harus mempertahankan keseimbangan dirinya dan alam. Pasalnya, tujuan manusia adalah keharmonisan baik dengan alam maupun dengan sesama manusia.

Kemunculan Tai Ji (Tai Ci) yang terpaut unsur Ying dan Yang akan membuat alam seimbang dan harmonis.

Inilah pelajaran berharga yang bisa kita petik dari ajaran Konghucu. Semoga tibanya musim penghujan bukan menjadi petaka, melainkan berkah yang tak ternilai. Amien.

IBN GHIFARIE,  Pegiat Studi Agama-agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama