Bercemin Toleransi dari Kelenteng

0
27
Pewarta-Indonesia, Judul dan subtansi tulisan ini terinspirasi oleh hasil laporan bedah buku Jerusalem: Kesucian, Konflik dan Pengadilan Akhir karya Trias Kuncahyono, Wakil Pimpinan Redaksi Harian Kompas di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung yang dimuat di Harian Kompas Biro Jawa Barat, Jumat (5/12) tentang indahnya keragaman dan pentingnya toleransi yang mulai terkikis dari kehidupan keseharian antarumat beragama di Nusantara ini.

Diakui atau tidak, kemerdekaan, keadilan, dan keterbukaan menjadi barang langka di Bumi Pertiwi. Urusan keimanan saja pemerintah masih ikut mencampurinya. Mengerikan memang.

Dengan kehadiran Imlek (1 Imlek 2560) yang jatuh pada 26 Januari 2009, akankah kita mendapatkan pengalaman (sikap keberagamaan) yang terbuka, ramah, toleran, inklusif, adil, dan mengakui perbedaan keyakinan (sekte, mazhab, denominasi, aliran) untuk tumbuh dan berkembangnya dialog intrareligius?

Nilai Nabi Kongzu

Salah satu pelajaran berharga yang bisa kita petik dengan adanya pergantian tahun China ini adalah kelenteng. Pasalnya, dari tempat ibadah ini terpancar keterbukaan, toleransi, dan keragaman.

Semula, sebelum pencabutan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 yang melarang segala aktivitas berbau Tionghoa dan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 477/74054/BA.01.2/4683/95 oleh Presiden Abdurrahman Wahid, kelenteng selalu diidentikkan dengan wihara (Buddha). Namun, kini tidak lagi. Bahkan masyarakat keturunan China pun dengan leluasa dapat bersembahyang di depan Altar Langit (Thian Than) Sang Nabi.

Sebutan Tri Dharma (Tiga Ajaran Kebajikan) pun melekat pada tempat peribadatan Tionghoa sekaligus merupakan upaya memelihara dan menjunjung nilai-nilai ajaran yang telah disampaikan Kongzu. Hal itu terlepas dari apakah mereka dikategorikan beragama Buddha, Tao, atau Konghucu. Yang jelas mereka keturunan Konzi dan harus memelihara sekaligus menyebarluaskan ajaran kebaikan dan kebijaksanaan tersebut. Kongzi, Konghucu, atau Confucius hidup pada zaman Dinasti Zhou (551-479 SM). Kala itu, ia menganjurkan Dinasti Zhou kembali menggunakan kalender Xia. Sebab, Tahun Baru jatuh pada musim semi sehingga cocok dijadikan pedoman bercocok tanam. Namun, nasihat ini baru dilaksanakan Han Wu Di dari Dinasti Han (140-86 SM) pada 104 SM. Semenjak itulah kalender Xia dipakai dan kini dikenal dengan sebagai kalender Imlek.

Sebagai upaya penghormatan kepada Kongzi, perhitungan tahun pertama kalender Imlek ditetapkan oleh Han Wu Di dan dihitung sejak kelahiran Kongzi, yaitu 551 SM. Itu sebabnya, kalender Imlek lebih awal 551 tahun daripada kalender Masehi. Jika sekarang kalender Masehi bertahun 2009, kalender Imlek bertahun 2009 + 551 = 2560. Pada saat bersamaan, agama Konghucu (Ru Jiao) ditetapkan Han Wu Di sebagai agama negara. Sejak saat itu penanggalan Imlek juga dikenal sebagai Kongli (penanggalan Kongzi).

Kebaikan Nabi Kongzi itu termaktub dalam kitab Tiong Yong (XXX:4)/Zhong Yong, Maka gema namanya meliput seluruh Tiongkok, terberita sampai ke tempat Bangsa Ban/Man, dan Bek/Mo, sampai ke mana saja perahu dan kereta dapat mencapainya, tenaga manusia dapat menempuhnya, yang dinaungi langit, yang didukung bumi, yang disinari matahari dan bulan, yang ditimpa salju dan embun, semua makhluk yang berdarah dan bernapas, tiada yang tidak menjunjung dan mencintai-Nya (www.matakin-indonesia.org).

Dalam konteks Jawa Barat, terdapat sekitar 100 kelenteng yang tersebar di kabupaten/kota. Wihara Satya Budhi (Yayasan Satya Budhi) merupakan kelenteng tertua dan terbesar di Bandung. Wihara tersebut dibangun pada 1885 dan berlokasi di Jalan Kelenteng, Kota Bandung (Kompas, Jumat, 16/1).

Kunci perdamaian

Tibanya Imlek bagi umat Konghucu harus menjadi lambang semangat perjuangan dan kemenangan dalam berusaha membina kehidupan agamanya serta menjadi lambang persaudaraan di antara umat Ji Kau/Ru Jiao, Hud Kau/Fo Jiao, dan Too Kau/Dao Jiao.

Sekali lagi, perilaku toleran itu terlihat saat praktik ibadah di Altar Langit (Thian Than) Kelenteng Tri Dharma. Memang indah dan syahdu. Seakan-akan perbedaan keyakinan (Buddha, Tao, dan Konghucu) menjadi modal dasar dalam membangun kehidupan yang lebih baik.

Menurut Muhammad Dawam Rahardjo dalam buku Demi Toleransi, Demi Pluralisme (2007), toleransi merupakan kunci perdamaian dan kedamaian, persamaan, serta progresivitas. Toleransi bukan berarti lemah dalam agama.

Bahkan dengan toleransi dapat dipahami keyakinan orang lain lebih baik tanpa harus percaya.

Toleransi erat kaitannya dengan pluralisme. Melalui pluralisme kita bisa saling memahami. Saya berbeda pendapat, keyakinan, dan pemahaman dengan orang lain tanpa harus memusuhi. Baginya, dalam pelbagai diskusi yang dilakukan dengan banyak orang, ia merasa bahwa banyak teman takut dengan pluralisme. Seolah-olah pluralisme adalah ancaman atau menempatkan diri dalam dunia ancaman. Akan tetapi, pengalaman saya tidak. Justru pluralisme dan toleransi membuat saya lebih damai.

Inilah pelajaran berharga dari kelenteng bagi dialog intrareligius. Kiranya sabda Kongzi pun layak kita dengungkan, Bila suatu kali engkau menjadi baru, maka tetaplah jaga agar engkau senantiasa baru (Da Xue II, 1). Gan Yan/Yan Yuan bertanya bagaimana mengatur pemerintahan. Nabi bersabda, Pakailah penanggalan Dinasti He (Kitab Lun Gi/Lun Yu, XV:11).

Sungguh perkataan Nabi Khongcu, yang selama hidup mencurahkan perhatiannya sebagai upaya menyejahterakan dan membahagiakan rakyat. Sangat wajar bila ia bersabda kepada Gan Hwee/Yan Hui bahwa untuk pemerintahan yang baik dianjurkan menggunakan penanggalan Dinasti He. Semoga keindahan dalam perbedaan mewujud di Indonesia. Selamat hari raya Imlek 2560. Gong Xi Fa Cai.

IBN GHIFARIE Pegiat Studi Agama-agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama