Bumi adalah Masjid

0
30

Oleh: Ibrahim Abdul-Matin*)

Pewarta-Indonesia, Brooklyn, New York – Kamis minggu lalu, di Hari Bumi ke-40, saya mengingat kembali perjalanan pertama saya mendaki Gunung Bear di New York. Waktu itu saya masih berumur enam tahun. Tumbuh besar di Brooklyn, New York, membuat saya kala itu berpikir kalau seluruh dunia isinya hanyalah lautan bangunan beton. Tapi perjalanan saya itu kemudian mengubah pandangan saya. Saya mengenang lumut-lumut yang tumbuh di atas bebatuan, sungai-sungai kecil dan udara segar.

Saat waktu salat tiba, ayah saya, yang seorang mualaf, menyampaikan kepada saya sebuah sabda Nabi Muhammad: “Bumi itu tempat sujud (masjid).”

Sejak perjalanan mendaki gunung itu, saya lalu merenungkan betapa keramatnya bumi. Seluruh planet ini bisa menjadi tempat beribadah kepada Penciptanya. Siapa pun boleh bersujud di atas rumput, di atas pasir, di atas gunung, ataupun di ladang jagung. Karena merupakan sarana untuk mencapai Tuhan, maka planet kita penting untuk dilindungi.

Saya yakin agama saya pada hakikatnya berhubungan dengan lingkungan, dan penganut semua agama bisa menjadi para pembela bumi. Dalam bahasa Arab, din diartikan sebagai suatu agama atau kredo, suatu keyakinan atau kepercayaan, suatu jalur atau jalan. Kristen adalah sebuah din. Yudaisme adalah sebuah din. Budhisme adalah sebuah din. Islam adalah sebuah din.

Sejalan dengan itu, saya ingin mengusulkan konsep “Din Hijau”, cara untuk mengamalkan agama kita seraya menguatkan sinergi antara agama dan lingkungan.

Islam lah yang memotivasi saya untuk menjadi “pelayan bumi”. Tapi peran ini tak cuma punya saya. Dalam Islam, semua manusia dianggap sebagai “pelayan bumi” dan dalam al-Qur’an, Tuhan menyampaikan ajaran-ajaran yang jelas mengenai pelayanan ini, yang mencakup memelihara diri kita sendiri, orang lain, dan planet ini. Ajaran-ajaran ini bisa dipakai oleh siapa saja yang mau menjalankan “Din Hijau”.

Kini, lebih dari sebelum-sebelumnya, pemeluk agama perlu bergabung dalam perbincangan global tentang perubahan iklim. Terlampau sering kita terjebak oleh detail dalam perdebatan ini. Sebagian orang terus terang tidak percaya dengan perubahan iklim. Sebagian mengatakan itu politik, yang lain mengatakan itu fakta.

Menurut Saya: Semua Itu Tidak Penting

Tidak penting buat saya apakah perubahan iklim itu fakta atau tipuan. Tidak penting buat saya apakah sains telah membuktikan bahwa lapisan ozon tengah memburuk atau tidak; dan tentu tidak penting buat saya siapa yang harus dipersalahkan.

Yang penting adalah bahwa cara kita memperlakukan planet ini memengaruhi kemampuan kita untuk hidup di atasnya, bersama-sama. Pola konsumsi berlebihan – membeli barang-barang kemudian membuangnya – menciptakan banyak timbunan sampah limbah yang menjadi beban bagi tempat-tempat pembuangan akhir dan menguras habis sumber daya.

Amerika menjadi yang terdepan di dunia dalam urusan produksi sampah ini. Jumlah orang Amerika kurang dari 5 persen populasi dunia tapi menghasilkan lebih dari 25 persen sampah dunia.

Selaku seorang Muslim yang hidup di Amerika, saya prihatin, khususnya karena Islam sangat menentang limbah: “Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada saat-dan-tempat salat; makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan, (karena) sungguh Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS al-A`raf: 31).

Islam menghargai siklus hidup dan mendorong manusia melakukan hal yang sama. Nabi Muhammad pernah mengatakan, “Muslim akan selalu mendapat pahala sedekah bila menanam pohon dan menebar tanaman, lalu burung, manusia dan hewan-hewan makan dari tanaman itu.”

Saya ingin mempertemukan kaum Muslim dengan para pemeluk agama lain, bukan untuk memperdebatkan kerumitan teologi, tapi untuk meyakini bersama-sama bahwa secara kolektif, dilandasi rasa keagamaan masing-masing, kita bisa bekerjasama melindungi planet ini.

*) Ibrahim Abdul-Matin adalah seorang Penasihat Kebijakan di Kantor Walikota New York untuk masalah-masalah sustainabilitas, dan penulis buku Green Deen: What Islam Teaches About Protecting the Planet (www.GreenDeenBook.com), yang rencananya diterbitkan pada Oktober 2010 oleh penerbit Berrett-Koehler.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews). Sumber image di sini