Haji dan Penyatuan Umat Manusia

0
24
Pewarta-Indonesia, Menunaikan ibadah haji merupakan cita-cita puncak umat Islam. Betapak tidak, calon haji (calhaj) kota Bandung saja setiap tahunya terus meningkat.

Berdasarhan kuota haji yang ditetapkan Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan, dalam surat keputusannya No 451.14/Kep 696-Yansos/2009 tentang penetapan kuota haji kabupaten/kota di Jabar tahun 2009.

Semula Kota Bandung pada tahun 2008 hanya mendapatkan jatah sebanyak 2.648 orang. Kini, bertambah 267 orang menjadi 2. 915. Inilah jumlah calhaj kota kembang.

Mampukah kehadiran bulan haji ini dapat memberikan spirit keadilan, kemerdekaan sekaligus membuka ruang kesatuan umat manusia bagi beragam perbedaan bangsa, budaya, bahasa, suku, etnis, dan agama (aliran kepercayaan, sekte, madzah) sekalipun.

Napak Tilas Agama-agama
Momentum Haji merupakan tonggak awal lahirnya peradaban Islam berbasis keimanan yang kukuh. Serangkaian perintah qurban, thowaf, wukuf, sa’i, melempar jumrah pun menjadi petanda peradaban Rasul untuk menegakkan keadilan, kemerdekaan sesuai dengan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.

Kendati peristiwa haji tak bisa dipisahkan dari ritual peribadahan Adam dan Ibrahim. Jauh sebelum Ibrahim pelaksanaan haji, rukun islam yang kelima ini telah dilakukan sejak Adam jatuh ke muka bumi. (Ramadhan Al-Buthi,1990:77)

Tengok saja, aktivitas Thawaf saat mengelilingi Ka’bah dan Sa’i kala berlari kecil antara Shofa dan Marwah. Kita diingatkan akan kesabaran, keuletan sekaligus kegigihan dan keyakinan Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim–budak dari kalangan hitam, ketika menggendong putranya Isma’il.

Wukuf di Arafah, meneguhkan kembali rasa cinta kasih Adam dan Hawa saat ditemukan kembali di padang Arafah pasca memakan buah kholdi dan terlempar dari Surga.

Pelaksanaan kurban pula, menyadarkan kita pada satu ketulusan Ismail untuk segera disembelih oleh Ibrahim atas perintah Tuhannya.

Dengan demikian, haji merupakan napak tilas agama-agama (Adam, Ibrahim—Bapak monotaisme, Ishak–Kristiani dan Ismail serta Muhammad–Islam)

Sangatlah wajar bila Khalil Abdul Karim, menyebutkan bahwa sebagain ajaran Islam mengadopsi dari doktrin Pra-Islam. Haji salah satu contonya.

Konon, sebelum Nabi Muhammad terlahir dan membawa risalah Islam, praktik haji sudah dikenal. Seperti; Talbiyah, Ihram, Wuquf, Kurban, bermalam di Muzdalifah, Jumrah, Tawaf, cium Hajar Aswad (Khalil Abdul Karim, 2000:7).

Pelestarian ibadah ini tidak terlepas dari peran para pengikut setia agama hanif–sebutan untuk penganut Ibrahim yang berada di sekitar Makkah. Namun, lemahnya kekuatan mereka di tengah hegemoni Qurasy menyebabkan banyak sekali penyelewengan yang dilakukan masyarakat setempat dalam praktek ibadah haji.

Adalah Wukuf di Muzdalifah, bukan di Arafah sebelum ajaran Islam datang. Sekelompok manusia yang dikenal dengan sebutan Al-Hummas ini merasa memiliki keistimewaan, sehingga enggan bersatu dengan orang banyak dalam melakukan wuquf di Arafah. Pemisahan diri dilatarbelakangi oleh perasaan superiolitas, maka Tuhan mengurnya melalui kitabnya “Bertolaklah kamu dari tempat tertolakannya orang-orang banyak dan mohonlah ampun pada Allah sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang.” (Q.S:2:199) (M.Qurais Shihab,2001:334)

Semangat Kemanusiaan
Inilah salah satu praktek ritual haji yang diluruskan oleh Muhammad juga bertentangan dengan penghayatan nilai kemanusiaan universal (Kebebasan, Kesetaraan dan Persaudaraan).

Sejatinya, kehadiran haji ini harus memberikan semangat kemanusiaan berupa penyatuan umat manusia dalam membangun kerukunan umat beragama (antar dan intra). Pasalnya, dalam prosesi haji terdapat satu moment perpisahan yang tak dapat dipisahkan antara Muhammad dengan umatnnya. Yakni peristiwa Haji Wada.

Isi khutbah nabi di depan 240.000 jemaah itu menekankan; Pertama, Peletakan prinsip dasar hak kemanusiaan. Menjungjung tinggi hak serta perlindungan setiap individu dengan mengharamkan pembunuhan, permusuhan, pemeliharaan kepemilikan, kehormatan dan memulaikan maerabat wanita. Kedua, peletakan prinsip tanggungjawab terhadap sebuah pelanggaran. Setiap orang bertangungjawab atas perbuatanya sendiri dan siap dengan segala konsekuensinya di depan hukum. Ketiga, Solidaritas sosial. Pesan ini memberikan penekanan bahwa semua muslim bersaudara. Solidaritas Islam bukanlah solidaritas golongan (ta’ashubiyyah) atau rasial, melainkan solidaritas yang dibangun atas semangat kemanusiaan, keislaman dan solidaritas keagamaan. (MataAir Edisi 18 Tahun 2008)

Pendek kata, isi dukumen hak asasi kemanusiaan (Al-Watsiqah Al-Buquq Al-Insyaniyyah) menitik beratkan kepada Persamaan; Keharusan memelihara jiwa, harta, dan kehormatan orang lain; Larangan melakukan penindasan atau pemerasan terhadap kaum lemah baik bidang ekonomi atau bidang yang lainnya.

Menilik ketidakberbandingan lurus antara jumlah calon jemaah haji asal Indonesia–sekitar 200 ribu orang dengan sepulangnya mereka ke Tanah Air (Kampung halamanya) niscaya tak akan ada lagi upaya ‘penertibak keyakinan’ oleh kelompok tertentu terhadap golongan yang berbeda. Tentunya, tak aka nada lagi pelarangan terhadap jemaat Ahmadiyah dalam menunaikan Ibadah haji ke Tanah suci.

Dengan demikain, Haji harus menjadi ajang penyatuan umat baik lahir maupun batin untuk mencapai kesejatian diri sebagai manusia. Bukan malah sebaliknya kita sengaja menabur ayat-ayat penuh kebencian dan fitna dalam wilayah keyakinan. Inilah yang diinginkan oleh Ali Syariati, pemikir asal Iran

Memang benar, haji bukanlah sekadar prosesi lahiriah formal belaka, melainkan sebuah momen revolusi lahir dan batin untuk mencapai kesejatian diri sebagai manusia. Orang yang sudah berhaji haruslah menjadi manusia yang “tampil beda” (lebih lurus hidupnya) dibanding sebelumnya. Ini sebuah kemestian. Kalau tidak, sesungguhnya kita hanyalah wisatawan yang berlibur ke tanah suci di musim haji. Tidak lebih! (Ali Syariati,Makna Haji,2001)

Inilah makna terdalam Haji bagi penyatuan umat manusia. Terwujudnya kedamaian, keadilan, kemerdekaan, kesejahteraan, toleransi, saling menghormati antarajaran, antaragama, dan antarkelompok menjadi cita-cita tertinggi masyarakat Indonesia yang beradab. Semoga.

*IBN GHIFARIE, Pengiat Studi Agama-agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama