Kenapa Bercerai?

0
26

Pewarta-Indonesia, Seperti dirilis Pengadilan Agama Jakarta Pusat, dalam empat bulan terakhir atau periode Januari-April 2009 di Jakarta, sedikitnya 185 wanita menceraikan suaminya, sedangkan jumlah lelaki yang menceraikan isterinya berjumlah 83 orang.

Pada tahun 2007 lalu, Direktorat Jenderal (Ditjen) Badan Peradilan Agama Makamah Agung juga mengungkap temuan bahwa penceraian di DKI Jakarta mencapai 6.218 kasus, terdiri atas istri gugat cerai suami 3.482 kasus, dan suami gugat cerai istri 2.115 kasus.

Sedangkan pada tahun 2008 tercatat 5.193 kasus, terdiri atas istri gugat cerai suami 3.105 kasus, dan suami gugat cerai istri 1.462 kasus.

Fenomena perceraian ini, menurut Direktur Urusan Agama Islam Departeman Agama, Mochtar Ilyas, karena beberapa faktor. Sulit menerima kehadiran orang ketiga dalam ikatan perkawinan menjadi salah satu motif yang berpengaruh besar.

“Sehingga Mahkamah Agung akan membuat Undang-Undang Terapan tentang Pengadilan Agama. Dengan UU yang baru itu, nanti segala sesuatu yang berkaitan dengan talak atau perceraian harus memenuhi beberapa persyaratan. Di satu sisi, biaya nikah dan cerai pun akan ditinjau kembali,” kata Ilyas beberapa waktu lalu di Jakarta.

Perhatian dan Kontrol Keuangan

Terkait motif perceraian karena adanya orang ketiga, ini diamini sejumlah warga dari kalangan ibu rumah tangga di Jakarta Pusat.

“Kalau masalah ekonomi itu kita bisa cari solusi bersama, tetapi kehadiran pihak ketiga itu sama sekali tidak bisa kita terima apalagi isteri `simpanan`,” ujar Santy (45) ibu rumah tangga yang tinggal di Jalan Kelinci, Pasar Baru, Jakarta Pusat, Rabu (27/05) sebagaimana dikutip dari laman Kantor Berita ANTARA.

Menurut Santy, semakin tinggi jabatan suami dalam karir bekerja maka potensi untuk melakukan perselingkuhan dengan wanita lain atau mempunyai isteri “simpanan” semakin besar pula.

“Karenanya, sebagai isteri saya harus memberikan perhatian penuh kepada suami dalam kondisi apapun, agar dia tidak `bertingkah,” kata dia.

Hal itu, diamini pula oleh Theresia (35), ibu rumah tangga yang lain. Namun, “Seorang isteri juga harus bisa mengendalikan keuangan keluarga secara penuh,” katanya.

“Kuncinya kita sebagai isteri yang memegang penuh kendali gaji suami dan harus tahu berapa besar pendapatannya. Sebab dengan kondisi saat ini, kalau suami pegang uang banyak maka godaan semakin besar,” tambahnya.

Juru Bicara Pengadilan Agama Jakarta Pusat, Nuheri SH, tidak menafikkan kenyataan tersebut. “Sebagian besar kasus gugat cerai yang diajukan isteri karena perselingkuhan,”.

Selain itu, seperti hasil temuan Pengadilan Agama Jakata Pusat diatas, para isteri memutuskan ikatan perkawinannya antara lain karena suami mereka kerap melakukan kekerasan dalam rumah tangga, murtad dan sebagainya. [ant/bj/ain/www.pewarta-indonesia.com]