Membawa Pulang Pelajaran Haji

0
22

Oleh: Kalsoom Lakhani*)

Pewarta-Indonesia, Washington, DC – Meskipun ibadah haji merupakan pengalaman Muslim, banyak para pelakunya merasakan haji juga mempengaruhi cara mereka melihat hubungan antariman. Dalam “Estimating the Impact of the Hajj: Religion and Tolerance in Islam’s Global Gathering”, penelitian terhadap para haji Pakistan pada 2008 oleh Weatherhead Center of International Affairs di Harvard University, para peneliti menemukan bahwa menunaikan haji “meningkatkan hasrat akan perdamaian dan toleransi terhadap orang lain”—Muslim maupun non-Muslim. Penelitian tersebut membandingkan para pemohon yang berhasil dengan yang tidak berhasil dalam undian yang diselenggarakan Pakistan untuk membagikan visa haji, serta catatan-catatan pribadi para haji.

Sejak 25 November lalu, sekitar tiga juta Muslim dari segala penjuru dunia berkumpul menunaikan haji ke Mekah. Perjalanan ini menjadi rukun Islam kelima. Semua Muslim yang mampu secara fisik dan finansial untuk pergi ke Mekah harus menunaikannya setidaknya sekali seumur hidup.

Haji adalah perjalanan individu meski dilakukan bersama-sama. Haji adalah tentang mengorbankan kenyamanan manusia untuk mencapai kedekatan spiritual kepada Tuhan dan menciptakan ikatan yang kuat dengan sesama manusia.

Kesucian dan perdamaian adalah inti haji. Menurut Mosharraf Zaidi, kolumnis Pakistan untuk harian berbahasa Inggris The News yang menunaikan haji tahun lalu, ihram menjadi bagian menarik dari haji. Ihram adalah keadaan suci secara fisik maupun mental, dan diekspresikan dengan mengenakan pakaian putih khusus. “Dalam ihram, Anda tak boleh marah-marah atau mengerjakan apa pun yang akan mengganggu kedamaian Anda sendiri, atau kedamaian siapa saja yang ada di sekitar Anda,” katanya.

Semua Muslim yang laki-laki mengenakan pakaian yang sama untuk memasuki keadaan ihram ini: dua helai katun putih polos yang tak berjahit; Muslim perempuan harus mengenakan pakaian secara sederhana, menutupi tubuh dan kepala mereka, tapi tidak wajah mereka. Busana ini menandai kesetaraan semua pelaku haji di mata Tuhan, dan menghilangkan perbedaan berdasarkan kelas, aliran, etnis dan negara serta prasangka-prasangka yang terlalu sering membayang-bayangi penilaian kita di dunia di luar haji.

Haji mungkin adalah momen penyetaraan yang paling kuat yang pernah saya ikuti,” kata Shirin Elkoshairi, seorang konsultan Amerika-Mesir di Virginia, yang menunaikan haji pada 2004. Haji, tuturnya, ” membuat saya merasa terhubung dengan banyak etnis, negara, bahasa, budaya dan pengalaman yang berbeda.”

Perasaan kemurnian dan kesatuan spiritual ini tersisip dalam puncak haji, yang dikenal sebagai Hari Arafah. Saat subuh di Hari Arafah, Muslim beranjak menuju Gunung Arafah, di mana Nabi Muhammad menyampaikan khotbah perpisahan sekitar 1.400 tahun yang lalu, dan semua manusia, menurut keyakinan Muslim, akan berkumpul di Hari Pembalasan nanti. Dalam khotbah itu, beliau menekankan pentingnya toleransi dan persatuan, dengan mengatakan, “Semua manusia berasal dari Adam dan Hawa, orang Arab tak punya keutamaan di atas orang non-Arab, dan tidak pula orang non-Arab punya keutamaan di atas orang Arab kecuali berdasarkan ketakwaan dan amal saleh. Ketahuilah bahwa setiap Muslim adalah saudara bagi setiap Muslim, dan bahwa Muslim bersaudara.”

Dengan semangat ini, Muslim yang berhaji berkumpul pada Hari Arafah untuk berdoa dan memohon ampunan. Bagi banyak orang, inilah yang menjadi pengalaman mereka yang paling menyucikan dan merendahkan hati.

Selama haji, kebeningan spiritual adalah pengalaman pribadi, tapi kebeningan ini juga tercermin dalam perjalanan semua penunai haji. Inilah refleksi tentang bagaimana gagasan pertanggungjawaban pribadi, toleransi dan kerendahan hati adalah ciri-ciri universal Islam. Namun, sering kali banyak di antara pelajaran ini terlupakan ketika ihram tak lagi dilakukan dan para haji kembali ke kehidupan keseharian mereka, sebagaimana dicatat oleh sebagian haji yang telah kembali.

Di sebuah dunia yang terbebani dengan kekerasan dan intoleransi, menjadi penting untuk memanfaatkan pelajaran-pelajaran dari ibadah haji untuk mengatasi isu-isu ini dan menyuburkan sikap saling menghargai di antara sesama Muslim maupun antara Muslim dan non-Muslim. Jejaring para haji harus dikembangkan untuk melanggengkan rasa toleransi dan kesetaraan yang terlahir dari ibadah haji mereka, khususnya mengingat temuan penelitian yang disebut di awal artikel ini bahwa 22 persen para haji lebih mungkin untuk mengatakan bahwa para penganut agama berbeda adalah setara. Para haji semestinya membantu mendidik yang lain yang belum menunaikan haji dan bertindak sebagai pemimpin dalam komunitas mereka sendiri, dan dengan demikian berhasil membawa pulang pelajaran-pelajaran haji.

*) Kalsoom Lakhani ialah direktur Social Vision, sayap filantropi ML Resources, LLC. Ia juga mengisi blog CHUP! – Changing Up Pakistan.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews)

BAGIKAN
Berita sebelumyaTentang “Memusuhi Orang Kafir” dalam Islam
Berita berikutnyaKemana Haji Membawa Kita
Koran Online Pewarta Indonesia atau disingkat KOPI adalah sebuah media massa nasional berbasis jurnalisme warga (pewarta warga) yang dibangun dan dikelola oleh Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI). Pimpinan redaksi KOPI adalah Wilson Lalengke, dibantu oleh ribuan penulis/pewarta lintas profesi, lintas agama, lintas strata sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan lain-lain dari seluruh nusantara dan luar negeri.