Menodai Hijriah

0
20
Pewarta-Indonesia, Sekali lagi, kekerasan atas nama agama terjadi di Bekasi. Kali ini, menimpa Gereja St Albertus yang berlokasi di Kota Harapan Indah, Medan Satria, Kota Bekasi. Alasan spontanitas karena provokasi menjadi pemicu pengrusakan tempat ibadah umat Kristen.

Ironisnya, perlakuan tak terpuji itu dilakukan pasca konvoi peringatan 1 Muharram. Sekitar pukul 23.00 wib saat warga Babelan dan Taruma Jaya (wilayah Utara Kabupaten Bekasi) yang berjumlah 600 orang melawati Gereja di kawasan Harapan Indah tanpa komando mereka langsung menghancurkan fasilitas Gereja. Kesuciaan mengawali tahun hijriah ini diwarnai aksi kekerasan atas nama agama.

Kendati pihak Polres Metro Bekasi Kota, Kapolres Ajun Komisaris Besar Imam Sugianto menilai serangan terhadap gereja ini adalah spontanitas karena provokasi. “Massa dari Babelan dan Taruma Jaya konvoi usai perayaan 1 Muharram. Saat lewat Harapan Indah ada yang memprovokasi untuk menghancurkan gereja,” katanya

“Kita sedang mengejar provokatornya, hingga saat ini sudah 28 saksi yang diperkisa,” ujarnya

Apapun alasanya mengumpat, mencaci-maki, menghancurkan tempat ibadah tertentu, hingga menghilangkan nyawa orang lain, tak termasuk dalam kategori perbuatan baik.

Diakui atau tidak Kabupaten Bekasi paling tinggi langgar kebebasan beragama, demikain dikatakan Gatot Rianto, Sekretaris Jaringan Kerja Pemantauan dan Advokasi Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan (Jaker PAKB2)

Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat menempati rangking kedua setelah Kabupaten Bekasi dalam pelanggaran hak atas kebebasan beragama dan berkeyakinan di tingkat Kabupaten Kota di Jabar.

Dari data yang dirangkum, terjadi 25 pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan di wilayah Kabupaten Bekasi dan 24 pelanggaran di Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat.

Ingat, Jawa Barat (13 peristiwa) menempati urutan pertama atas segala bentuk pelanggaran kebebasan beragam dan berkeyakinan di Indonesia. Kedua Sumatra Barat (56 peristiwa) dan Jakarta (45 peristiwa). Sebanyak 265 peristiwa itu menghasilkan 376 tindak pelanggaran  kebebasan beragama dan berkeyakinan, ungkap Hendardi, Ketua Badan Pengurus Setara Institute. Haruskah kehadiran Hari Raya berujung pada tindakan kekerasan atas nama agama? [Ibn Ghifarie]

Image: google.co.uk