Menyelami Hakikat Sedekah di Bulan Ramadhan

0
30

Pewarta-Indonesia, Tak terasa puasa telah berjalan beberapa hari dalam fase Rahmat. Pelan tapi pasti mulai akan memasuki fase ke-2 yaitu fase makhfirah. Bulan Ramadhan yang penuh keistimewaan dan kekhususannya, rasanya tidak habis-habisnya guna menyelami fadhilah Ramadhan satu persatu dan salah satu diantaranya ialah fadhilah sedekah di bulan Ramadhan.

Diriwayatkan dalam shahih Al-Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas radiyallahu anhuma, ia berkata:
“Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah orang yang amat dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan, saat beliau ditemui Jibril untuk membacakan padanya Al-Qur’an. Jibril menemui beliau setiap malam pada bulan Ramadhan, lalu membacakan padanya Al-Qur’an. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika ditemui jibril lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.”

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ahmad dengan tambahan:
“Dan beliau tidak pernah dimintai sesuatu kecuali memberikannya.”

Dan menurut riwayat Al-Baihaqi, dari Aisyah radhiyallahu anha: “Rasullullah shallallahu alaihi wasallam jika masuk bulan Ramadhan membebaskan setiap tawanan dan memberi setiap orang yang meminta.”

Kedermawanan hakikatnya ialah sifat murah hati dan mudah memberi, Allah pun bersifat Maha Dermawan, sebagaimana diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari sa’ad bin Abi Waqqash bahwa Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah itu Maha Dermawan, cinta kepada kedermawanan dan Maha Pemurah, cinta kepada kemurahan hati.”

Allah SWT Maha Dermawan, kedermawanan-Nya berlipat ganda apa lagi pada waktu-waktu tertentu seperti bulan Ramadhan. Dan Rasulullah SAW adalah manusia yang paling dermawan, juga paling mulia paling berani dan amat sempurna dalam segala sifat yang terpuji, kedermawanan Nabi Muhammad SAW pada bulan Ramadhan berlipat ganda dari pada bulan-bulan lainnya, sebagaimana kedermawanan Allah yang berlipat ganda pada bulan ini juga.

Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari berlipat gandanya kedermawanan Nabi SAW di bulan Ramadhan ini, diantaranya:

(1) Bahwa kesempatan pada bulan ini amat berharga guna melipatgandakan amal kebaikan.

(2)Membantu orang-orang yang berpuasa dan berzikir untuk senantiasa taat, agar memperolah pahala seperti pahala mereka yang berpuasa. Sama seperti seseorang yang membekali orang lain yang berperang, dan seperti siapa yang menanggung dengan baik keluarga orang yang berperang maka ia memperoleh pula seperti pahala orang yang berperang. Hal ini dinyatakan dalam hadits Zaid bin Khalid dari Nabi SAW beliau bersabda:
“Barangsiapa memberi makan pada orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi sedikitpun dari pahalanya.” (HR.Ahmad dan At-Tirmidzi).

(3) Bulan Ramadhan adalah saat Allah berderma kepada para hamba-Nya denga rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka. Terutama pada Lailatul Qadar. Allah melimpahkan kasih-Nya kepada para hamba-Nya yang bersifat kasih, maka barangsiapa berderma kepada para hamba Allah niscaya Allah Maha Dermawan kepadanya dengan anugerah dan kebaikan. Balasan itu adalah sejenis dengan amal perbuatan.

(4) Puasa dan sedekah bila dikerjakan bersamaan termasuk sebab masuk surga. Dinyatakan dalam hadits Ali ra, bahwa Nabi SAW bersabda:
“Sungguh di surga terdapat ruangan-ruangan yang bagian luarnya dapat dilihat dari dalam dan bagian dalamnya dapat dilihat dari luar. Sahabat bertanya: untuk siapakah ruangan-ruangan itu ya Rasulullah? Jawab beliau: “untuk siapa saja yang berkata baik, memberi makan, selalu berpuasa dan shalat malam ketika orang-orang dalam keadaan tidur.”
(HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Al Baihaqi).

Semua kriteria ini terdapat dalam bulan Ramadhan. Terkumpul bagi orang mu’min dalam bulan ini; puasa, shalat malam, sedekah dan perkataan baik. Karena pada waktu ini orang yang berpuasa dilarang dari perkataan kotor dan perbuatan keji. Sedangkan shalat, puasa dan sedekah dapat menghantarkan pelakunya kepada Allah.

(5) Puasa dan sedekah bila dikerjakan bersama-sama lebih dapat menghapuskan dosa-dosa dan menjauhkan dari api neraka Jahannam, terutama jika ditambah lagi shalat malam. Dinyatakan dalam sebuah hadis bahwa Nabi SAW bersabda:
“Puasa itu merupakan perisai bagi seseorang dari api neraka sebagaimana perisai dalam peperangan
.”

Diriwayatkan pula oleh Ahmad dari Abi Hurairah bahwa Nabi SAW bersabda:
“Puasa itu perisai dan benteng kokoh (yang melindungi seseorang) dari api neraka
.”

Dan dalam hadits Mu’adz  Rasulullah SAW bersabda:
“Sedekah dan shalat seseorang di tengah malam dapat menghapuskan dosa sebagaimana air memadamkan api
.”

Maksudnya adalah shalat malam dapat pula mengahapuskan dosa.

(6) Dalam puasa, tentu terdapat kekeliruan serta kekurangan. Dan puasa dapat menghapuskan dosa-dosa dengan syarat menjaga diri dari apa yang mesti dijaga. Padahal kebanyakan puasa yang dilakukan kebanyakan orang tidak terpenuhi dalam puasanya itu penjagaan yang semestinya. Dan dengan sedekah kekurangan dan kekeliruan yang terjadi dapat terlengkapi. Karena itu pada akhir Ramadhan, diwajibkan membayar zakat fitrah untuk mensucikan orang yang berpuasa dari perkataan kotor dan perbuatan keji.

(7) Orang yang berpuasa meninggalkan makan dan minumnya. Jika ia dapat membantu orang-orang lain yang berpuasa agar kuat dengan makan dan minum (sedekah) maka kedudukannya sama dengan orang yang meninggalkan syahwatnya karena Allah. Untuk itu disyari’atkan bagi kita kaum muslimin guna memperbanyak memberi sedekah maupun sedekah hidangan berbuka kepada orang –orang yang berpuasa, terutama makanan yang sangat kita sukai. Agar kita termasuk orang yang memberi makanan yang disukai dan karenanya kita Insyaallah akan menjadi orang yang bersyukur kepada Allah sebagaimana rasa syukur seseorang atas ni’mat makanan dan minuman yang dianugerahkan kepadanya, di mana sebelumnya ia tidak mendapatkan anugerah tersebut. Sungguh ni’mat ini hanyalah dapat diketahui nilainya ketika tidak didapatkan.

Penulis adalah Mantan Staf Dinas Syari’at Islam, Kab. Aceh Utara, Sekarang Kasi Penyusunan Program Dinas ESDM Kab. Aceh Utara