Menyibak Tafsir Kelahiran Ala Budha

0
36
Pewarta-Indonesia, Kehidupan merupakan suatu keniscayaan dalam proses kehidupan. Namun, adakalanya saat menjalani kehidupan kita kadang lupa, bahkan sengaja menafikan rentetan proses kelahiran, asal muasal. Hingga mempertanyakan kenapa kita mewujud dan berwujud seperti ini?

Dalam memaknai kehidupan yang serba instan dan tak beraturan kita malah sering sekaligus sibuk mencari-cari kesalahan orang lain dengan cara mencaci, memaki, sampai menghujatnya. Ironis memang. Seolah-olah kita tak pernah berbuat kesalahan. Jika pernah berbuat alpa, maka kita langsung segera melakukan tobat kepada Tuhan. Sudah tentu,  membiarkan mereka dalam posisi menjadi iblis. Pendek kata, kita berubah menjadi malaikat-malaikat kecil dengan seabreg petuah supaya bisa dengan mudah mengutuk orang lain kafir, salah dan sesat.

Di lain sisi, kita sering lupa memberikan warna sekalipun bernada miris saat kita melewati kehidupan mulai dari kelahiran, tumbuh dan berkembang menjadi dewasa, tua sampai kembali meninggalkan kahidupan yang fana ini. Kendati demikian, lagi-lagi kita sering alpa saat mengeja kehidupan yang tak kunjung membaik ini. Apalagi saat kebutuhan sehari-hari sudah tak terpenuhi lagi. Kita sering melakukan perbuatan lalim dalam menyelesaikan persoalan pelik tersebut.

Nah, baru saat sakit akut hingga menjemput ajal bila, baru kita ingat kepada Sang Khaliq, pemberi kehidupan alam semesta ini. Tentunya, dengan serta merta kita segera melakukan perbuatan baik supaya kelak bisa menuai imbalannya. Namun, sayang ajal sudah mendahuluinya. Mencermati fase kehidupan yang tak pernah luput dari pembicaraan agama manapun. Apalagi saat mengarungi bahtera kehidupannya kita sering alpa mengingatnya. Adalah segala amal perbuatan baik maupun buruklah yang akan menemani kehidupan nanti.

Sebelum jauh membincang kehidupan kelak dari buah yang kita tanam hari ini, sekiranya kita menyibak asal-muasal kehidupan dari agama Budha. Pasalnya, kita sering memandang sebelah mata konsep kelahiran menurut Budha. Terlebih lagi, saat ajaran yang kita pegang mematrikan pemahaman tak ada kebahagiaan dan keselamatn selain Islam. Sifat dan prilaku inilah kelak akan menuai malapetaka. Keragaman khazanah intelektual hanya menjadi slogan semata.

Asal Muasal Manusia Ala Budha

Dalam Aganna Sutta, Sang Buddha mengatakan `bumi kita ini terbentuk bukan kali pertama. Tapi bumi kita ini dulu pernah terbentuk kemudian pudar, menjadi dan mewujud lagi. Proses ini terus berkelanjutan sampai puluhan bahkan ratusan dan jutaan kali. Hal ini cocok dengan ‘Hukum Kekekalan Energi’, energi tidak bisa diciptakan tetapi juga tidak bisa termusnahkan. Menurutnya, bumi ini merupakan energi dengan proses terbentuk dan kiamat yang berulang-ulang. Sang Buddha mengatakan untuk mencari sumber yang pertama ini sulit dan tidak ada manfaatnya bagi kebebasan manusia.

Oleh karena itu, yang akan diceritakan berkenaan dengan proses terjadinya kehidupan kekinian semata. Bagi Sang Guru, sesungguhnya tata surya ini jumlahnya lebih dari satu milliar. Ini berarti matahari dan planet-planetnya juga sekian milliar dari sekarang yang ada karena bintang-bintang yang ada di angkasa itu sebetulnya adalah matahari juga.

Ambil contoh, kini di Amerika sudah ditemukan beberapa bintang baru dari bintang-bintang yang ada di angkasa sebelum matahari. Jika bintang-bintang itu pertanda matahari, maka dengan serta mertra pasti mempunyai planet-planet. Peristiwa ini sudah dibuktikan oleh negara Amerika yang telah mempunyai teleskop raksasa.

Namun, dalam pemahaman Sang Buddha, di dalam satu tata surya dikenal adanya 31 alam kehidupan. Ada alam manusia, binatang, neraka dan setan kelaparan seperti tuyul, setan yang di pinggir-pinggir jalan, di kuburan atau rumah-rumah. Selain itu, dikenal juga sebutan-sebutan ganjil misalnya setan raksasa–genderuwo yaitu yang di pohon-pohon / di lautan; disamping 6 alam surga. Lantas, mengapa alam surga itu hanya ada 6 tingkat? Pasalnya, perbuatan baik itu bermacam-macam.

Tentunya kita sering mendengar, bahkan diajak untuk ikut suatu agama dengan janji kalau meninggal pasti akan masuk surga. Kalau kita umat Buddha diajak demikian maka kita harus bertanya kepada orang itu: `Berapa banyak kamu mempunyai surga?` Orang itu pasti akan menjawab: `Surga ya cuma satu.`Maka sebagai umat Buddha kita harus menjawab: `Kalau cuma 1, saya tidak mau ikut sekarang. Nanti kalau saya sudah mau meninggal saja baru saya ikut kamu!`

Kedengaranya menang agak aneh, tapi itulah prinsip Budha. Karena bila surga itu cuma 1, maka tak masuk akal! Sebagai contoh, kita memiliki  uang Rp. 500,-, Tentunya, bisa mendapatkan 1 roti misalnya; tetapi jika kita mempunyai uang Rp. 5.000,-, pasti akan mendapatkan 10 roti.

Begitupun dengan perbuatan baik. Perumpamaan yang lain, ada orang yang berbuat baik sejak kecil, sering ke vihara, membaca paritta dan meditasi, kemudian pada usia 50 tahun orang tersebut meninggal dunia. Ada orang lagi yang berbuat baik ketika umur 30 tahun, sebelumnya adalah seorang penjahat. Orang ini juga sering berbuat baik, membaca paritta dan meditasi, kemudian meninggal juga pada usia 50 tahun. Lalu ada lagi orang yang selama hidupnya adalah penjahat tetapi ketika berusia 50 tahun kurang sebulan baru mengerti agama, berbuat baik, membaca paritta dan meditasi. Ke-3 orang ini semuanya masuk di surga yang sama. Tentu jawabannya tidak. Bila memasukan ke surga yang sama, maka kita selaku umat beragama akan mempertanyakan keadilan Tuhan dimana?  udah tentu, yang berbuat baik lebih banyak dipastikan masuk surga terlebih dulu dan lebih tinggi. Selain itu, dikenal juga tingkatan alam Brahma sebanyak 20 tingkat. Alam Brahma ini berada di atas alam surga, karena berdasarkan perbuatan baik dan sering melakukan meditasi saat hidupnya.

Singkat kata, di dalam agama Buddha itu dikenal 31 alam kehidupan yaitu: alam manusia, binatang, neraka, setan kelaparan, setan raksasa (asura), 6 alam surga dan 20 alam brahma. Salah satu dari alam brahma itu, makhluknya ada yang berupa cahaya. Ketika bumi yang dulu kiamat maka pada waktu itu semuanya menjadi seperti kabut. Peristiwa ini sesuai dengan teori terjadinya bumi dengan kabut dari Kant dan Laplace. Pada awalnya bumi kita ini berupa kabut yang panas dan bercahaya karena merupakan hasil ledakan dari bumi yang terdahulu. Kabut yang berupa cahaya ini berputar terus menerus tanpa jeda, sehingga lama-kelamaan terjadi penggumpalan di bagian pinggirnya. Kejadian alamiah ini membutuhkan waktu jutaan, milliar-an bahkan trilliunan tahun. Karena pada saat bumi ini terbentuk masih berupa cahaya dan kabut gas maka makhluk-makhluk yang berupa cahaya datang kesini.

Keikut-sertaan semua unsur-unsur itu, sesuai dengan teori frequensi yaitu jenis mencari jenis. Lama kelamaan sesuai bergulirnya waktu dan sepenggal asa, makhluk hidup bercahaya ini berubah total menjadi bumi yang kita pijak ini.

Pada waktu pinggiran dari gumpalan kabut tersebut menggumpal, makhluk-makhluk yang berupa cahaya ini tergiur untuk mencicipinya dan terus berulang-ulang mengikuti fase tersebut. Karena yang mereka cicipi itu merupakan gumpalan-gumpalan dan bukan berupa kabut lagi maka cahaya makhluk itu mulai berkurang dan hilang, badannya mulai tampak dan semakin lama semakin memadat, jenis kelaminnya pun mulai tampak. Walhasil, terjadi persilangan dan keturunan, hingga berujung pada proses  mewujudnya manusia. Hal Ini sesuai dengan teori evolusi Darwin. Demikian pula di planet-planet lainnya. Baik di matahari, bulan dan planet-planet itu juga mempunyai makhluk-makhluk, tetapi bukan makhluk yang seperti manusia, ayam kucing, dll. (www.kmbui.net)


Reinkarnasi dan Tulku

Lain aliran, lain pula pandangannya soal kelahiran. Pada mazhab Tantrayana terdapat satu keyakinan–merupakan pengembangan dari falsafah Punarbhava atau kelahiran kembali, oleh orang Barat sering dikenal sebagai reincarnation atau reinkarnasi. Dalam falsafah ini diyakini semua makhluk di alam semesta akan mengalami lebih dari satu kali kelahiran.

Dalam tradisi Tantra Barat, terutama di Tibet, memberi sumbangan khusus dalam pencarian seorang Tulku, seorang anak yang diindentifikasikan sebagai reinkarnasi / penjelmaan khusus dari seorang Rinpoche atau Dalai Lama. Proses pencarian itu, sering sekali dilakukan dengan cara meneliti baik secara langsung maupun tidak langsung, terutama pada anak-anak yang berusia antara 2-5 tahun dengan ciri-ciri kelahiran yang khusus.

Tulku diketemukan dengan berbagai bentuk ujian yang sangat ketat dengan hati-hati oleh lembaga agama pada masyarakat Tibet. Salah satu bentuk ujian yang standar merupakan kemampuan seorang Tulku untuk memilih objek yang diberikan dihadapannya, terlebih khusus pada benda-benda milik pendahulunya biasa digunakan dan kelak akan digunakan olehnya.

Tulku sering sekali membuat orang Barat menjadi terheran heran–pola pemikiran filosofisnya sangat bergantung pada logika Barat. Hal ini dikarenakan oleh sikap dewasa yang luar biasa serta jiwa dan martabat yang sudah diperlihatkan pada usianya yang masih begitu muda. (www.walubi.or.id)

Terkait dengan kelahiran manusia menjadi mahluk yang utuh beserta sempurna. Apakah ketidak-lahiran Dinosaurus atau mahluk raksasa lainya dapat beralih menjadi mahluk lainya? Menyoal kelahiran binatang Dinosaurus tak dilahirkan kembali karena mengalami kepunahan. Peristiwa ini diluar jangkauan hukum karma. Hukum karma tidak mengatur kepunahan itu, tapi mengatur soal mengapa dilahirkan sebagai Dinosaurus.

Sekali lagi, kepunahan disebabkan oleh perbuatan lalim manusia juga hukum dari alam. Bisa saja, alam sudah enggan untuk memenuhi kebutuhan hidup mahluk raksasa itu, akhirnya binatang Dinosaurus mengalami kepunahan. Dengan demikian, kehadiran makhluk hidup sesuai dengan kondisi karmanya masing-masing.

Namun, ada perbedaan mendasar antara konsep asal muasal manusi Budha dengan Darwin. Ajaran agama Buddha lebih melihat teori kehidupan bukan dari kasus penciptaan tetapi dari proses evolusi. Meski sampai saat ini masih belum diketahui banyak menyangkut proses terjadinya kehidupan dalam agama Buddha sama dengan teori evolusi dari Darwin. Thus, segala perbuatan baik maupun buruk yang kita tanam sejak hadir dan mewujud di dunia fana ini, pastilah kelak di kehidupan lain kita akan selalu menuai buah apa yang kita semai hari ini. [Ibn Ghifarie]

Rujukan;
1.    http://www.mountainman.com
2.    http://samaggi-phala.org
3.    www.walubi.or.id
4.    www.kmbui.net
5.    Dhammapada (Penerbit Hanuman Sakti. Jakarta 1997) Hidup sukses dan bahagia (oleh: K. Sri Dhammananda)
6.    Disadur dari kebaktian di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya bulan Februari 2000
7.    Drs.D.Dharmakusumah, Alam Kematian sementara (Bardo Thodol), Jakarta 1992.
8.    Mulyadi Wahono SH, Pokok-pokok Dasar Agama Buddha, Ditjen Bimas Hindu Buddha Depag RI Jakarta1992.
9.    dr.DK.Widya,Sejarah Perkembangan Agama Buddha, ditjen Bimas Hindu & Buddha Depag RI-UT Jakarta 1993,
10.    Dr.Pdt.HS.Rusli MSA PhD. Teori dan Praktek Tantra-Vajrayana,IBC Medan 1982.Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 09/05;17.46 wib

* IBN GHIFARIE, Mahasiswa Studi Agama-Agama Fakultas Filsafat dan Teologi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung dan aktivis LPIK (Lembaga Pengkajian Ilmu keIslaman) Bandung.

Sumber image: google.co.uk