Momen Ramadhan Bisa Meluruskan Makna Jihad di Indonesia

0
22

Pewarta-Indonesia, Bulan suci Ramadhan ini adalah bulan yang dinanti-nanti oleh umat Islam dunia. Bulan penuh berqah dan ampunan, juga sebagai momentum untuk mengkoreksi diri terhadap amal ibadah yang sudah dilaksanakan selama ini hayat di kandung badan.

Buat umat Islam Indonesia, kesempatan Ramadhan 1430 Hijriyah  ini hendaknya menjadi momen yang berharga untuk meluruskan makna jihad di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini.

Kenapa? Bulan yang sarat pahala ini dapat memotivasi dan disikapi oleh kalangan ustad, ulama dan umaro untuk merenungkan kembali makna jihad dalam kehidupan sehari-hari, karena sebagian kecil dari kalangan umat Islam, memaknainya dengan pengertian keliru. Bahkan aksi terorisme dikaitkan dengan atas nama jihad.

Padahal, makna jihad itu tidak sesempit itu. Tapi bermakna luas, multitafsir dalam kehidupan umat Islam Indonesia, sebab jihad yang dikonotasikan dengan tindak kekerasan. Membunuh orang yang tidak berdosa, membom, atau menghancurkan fasilitas umum dan sosial, bukanlah tuntutan makna jihad yang sesungguhnya di alam Indonesia.

Karena apa? Satu syarat pokok untuk berjihad dalam konteks perang melawan musuh agama, tidak terdapat di alam negara Indonesia, karena di negara Indonesia dalam kondisi aman.

Semua umat beragama, khususnya Islam, dapat menjalankan ibadahnya dengan aman dan nyaman sehari-harinya. Tidak ada larangan, tidak terganggu dan tidak ada ancam oleh pihak mana pun. Untuk itu, syarat berjihad dalam versi tindak kekerasan, Indonesia bukanlah tempatnya.

Seharusnya, makna jihad itu diartikan lebih luas dan diwujudkan dalam aktifitas kehidupan sehari-hari. Bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk jihad. Sekolah untuk menuntut ilmu, termasuk katagori jihad. Puasa sambil bekerja, juga termasuk puasa.

Karena itu, momentum bulan Ramadhan ini, hendaknya dijadikan wadah untuk meluruskan kembali makna jihad versi Indonesia. Semua pihak, baik ulama, ustad, dai dan pejabat pemerintahan, harus bersatu padu mengecam tindakan yang tidak sesuai dengan norma Islam.

Yang jelas, ajaran Islam itu mengandung nilai-nilai rahmatan lilalamin. Tidak hanya melindungi sesama manusia, tapi alam semesta juga dilindungi oleh ajaran Islam.

Sikap dan perbuatan yang dicontohkan Rasulullah SAW ketika hijrah ke Madinah, hendaknya diaplikasikan dalam kehidupan kita.

Semoga ibadah puasa kita diterima Allah SWT. Amien Ya Robb. (H. Syamsir Bastian Munthe)

BAGIKAN
Berita sebelumyaRamadhan dan Praksis Takwa
Berita berikutnyaBulan Puasa, Jam Kerja Kantor Dapat `Kortingan` 90 Menit
Koran Online Pewarta Indonesia atau disingkat KOPI adalah sebuah media massa nasional berbasis jurnalisme warga (pewarta warga) yang dibangun dan dikelola oleh Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI). Pimpinan redaksi KOPI adalah Wilson Lalengke, dibantu oleh ribuan penulis/pewarta lintas profesi, lintas agama, lintas strata sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan lain-lain dari seluruh nusantara dan luar negeri.