Natal dan Kebangkitan Ki Sunda

0
46
Pewarta-Indonesia, Diakui atau tidak, keberadaan Ki Sunda (bahasa, aksara, sastra, agama) tinggal menanti sang penjemput ajal tiba. Ibarat pepatah, hidup enggan mati tak mau. Pasalnya, kehadiran mojang-jajaka selaku generasi penerus sekaligus penjaga khazanah kesundaan tak mau belajar kesundaan. Sekadar contoh, kawula muda bangga berkomunikasi dengan memakai bahasa persatuan (Indonesia ala Betawi) di Tanah Pasundan.

Menjamurnya pondok pesantren beserta santrinya di Tanah Sunda tak bisa berbuat banyak dalam mempertahankan bahasa ibunya. Tradisi menulis dengan huruf pegon sebagai proses kreatif masyarakat Muslim Sunda (perpaduan budaya Arab-Sunda) tak ada lagi kecuali generasi tua. Tentunya, tak ada pengganti KH Ahmad Sanusi, KH Ahmad Maki bin KH Abdullah Mahfud, Rd Ma’mun Nawawi bin Rd Anwar, dan Abdullah bin Nuh.

Jelas bahasa Sunda bisa mati apabila semua orang Sunda, yang berjumlah 40 juta itu, sudah tak lagi mempergunakannya. Sungguh ironis.

Semangat Natal

Mari kita mencoba belajar dari agama dan pemahaman orang lain. Salah satunya ajaran Kristus, yang merayakan kelahiran Yesus (Natal) setiap tanggal 25 Desember. Ini diharapkan dapat memberikan semangat kebangkitan bagi Ki Sunda kiwari.

Ingat, Sunda bukan milik satu keyakinan dan keberagamaan tertentu meski Ki Sunda pernah jatuh hati pada agama Hindu dan Buddha, tak terlepas dari Kristen. Kiranya, ungkapan Sunda-Islam dan Islam-Sunda sangat berbeda di lapangan. Bersatu dalam keragaman Sunda ini terlihat jelas di Cigugur, Kuningan. Di satu keluarga ada yang Hindu, Buddha, Islam, Kristen, bahkan Wiwitan sekalipun. Kehidupan mereka rukun, damai, toleran, terbuka, dan sangat menghargai perbedaan.

Natal mengingatkan kita kepada sosok Isa Almasih sebagai juru selamat manusia dari segala dosa yang telah diperbuat manusia. Pasalnya, keselamatan milik-Nya. Tengok saja, doktrin Kristen yang tertuang dalam Kisah Para Rasul 4:12, “Keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga, selain di dalam Dia sebab di bawah kolong langit tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya bisa diselamatkan” dan Yesaya 43:11, “Aku, Akulah Tuhan dan tidak ada juru selamat, selain dari pada-Ku.”

Umat Mesias meyakini cinta kasih, damai, keselamatan, dan kebangkitan yang bersemayam dalam diri Yesus. John Stott menuliskan aturan ketaatan keimanan Kristen melalui buku Isu-isu Global Menentang Kepemimpinan Kristiani; Penilaian atas Masalah Sosial dan Moral Kontemporer (1996: 17-20). Pertama, kita tidak boleh memisahkan keselamatan dari kerajaan Allah. Kedua, kita tidak boleh memisahkan Yesus sebagai juru selamat dari Yesus sebagai Tuhan. Ketiga, kita tidak boleh memisahkan iman dari kasih. Keempat, kita tidak boleh memisahkan kebangkitan dari hidup.

Kehadiran sang juru selamat sangat dinantikan. “Hari ini telah lahir bagimu juru selamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” (Lukas 2:11)

Bila kita kuat memandang ajaran Isa, segala keberkatan sekaligus kebangkitan semangat hidup akan diraihnya. Inilah dialog Kristus, “Jawab Yesus Akulah kebangkitan dan hidup: Barangsiapa percaya kepada-Ku ia akan hidup walaupun ia sudah mati.” (Yohanes 11:25); “Kata Yesus kepadaku Akulah jalan dan kebenaran dan hidup, tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6)

Upaya membangkitkan kehadiran Isa dalam kehidupan sehari-hari adalah dengan berbuat baik kepada semua orang. Ini sesuai dengan semangat peringatan Natal 2009 yang digelar Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) bertajuk “Tuhan Itu Baik kepada Semua Orang….” (Mazmur 145:9) Demikian tulis Ketua Umum PGI Pdt Dr AA Yewangoe, Sekretaris Umum PGI Pdt Dr R Daulay, dan Ketua KWI Mgr MD Situmorang OFMCap, dan Sekretaris Jenderal KWI Mgr A Sutrisnaatmaka MSF.

Bangkit Ki Sunda

Menilik keterpurukan Ki Sunda dan kuatnya anggapan di masyarakat, pemakaian bahasa ibu bentuk merendahkan diri sendiri.

Memang kekhawatiran ini dikeluhkan Ajip Rosidi dalam Masa Depan Budaya Daerah, Kasus Bahasa dan Sejarah Sunda (2004: 54-69). Ada 200 naskah dalam huruf Sunda kuno yang sampai sekarang masih tertutup bagi anak cucu pewaris budaya Sunda sendiri; dalam hurup pegon Jawa 2.000 buah; buku yang dicetak dalam Sunda tidak mencapai 1.000 judul. Semuanya tidak milik Sunda.

Parahnya, kita tidak merasa bangga dengan bahasa leluhurnya, tidak penting untuk meneliti dan membuka kekayaan rohani yang tersimpan dalam naskah kuno.

Tradisi membaca buku Sunda sudah hampir punah. Alasannya, jumlah bacaan terbatas. Yang lebih mengerikan, buku Sunda hanya dicetak 1.000-2.000 eksemplar.

Jalan keluarnya, kita harus memiliki prestasi dalam segala bidang. Pada masa Belanda kita mempunyai pengusaha sukses yang memulai dari bawah, seperti RHO Doenaedi (H Oene) dari Tasikmalaya dan seorang “tukang” kacamata legendaris, A Kasoem.

Bagi Edi S Ekadjati di buku Kebangkitan Kembali Orang Sunda: Kasus Paguyuban Pasundan 1913-1918 (2004: 83), ketertinggalan Ki Sunda berawal dari aspek mental dan tingkat pendidikan orang Sunda yang tidak memperlihatkan kreativitas, dinamika, keuletan, keberanian, dan etos kerja yang tinggi. Nilai-nilai itulah yang hendak ditingkatkan, dibangkitkan kembali, atau ditanamkan oleh Paguyuban Pasundan.

Dengan demikian, keselarasan semangat Natal dalam membangkitkan Ki Sunda juga mewujud dalam setiap pergelaran kelahiran Yesus bagi jemaat Sunda yang selalu menjunjung tinggi khazanah kesundaan, dari bahasa, kesenian, hingga doa berbau Sunda.

Kiranya, tembang Pop Sunda “Urang Sunda” harus kita teriakkan: Gancang geura hudang buka ceuli buka mata Geura tembongkeun urang sunda oge bisa Tembongkeun urang ge bisa mela nagara Tembongkeun urang ge bisa jadi pamimpin Urang ge bisa nangtung ajeg jeung kawasa Lain saukur bisa unggut jeung kumawula

Selamat Natal 2009 dan Tahun Baru 2010. Tuhan Memberkati. Semoga.

IBN GHIFARIE, Pegiat Studi Agama-agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama

Sumber image: google.co.uk