Pengajian Bersama Tuna Netra

0
23

Pewarta-Indonesia, “Alhamdulillah, sampai juga,” seloroh Hadi Rahmadi, Wakil Ketua Ikatan Tuna Netra Muslim Indonesia (ITMI) Dewan Pimpinan Daerah Jakarta Timur ini, ketika baru saja menginjakkan kaki di Masjid Baitul Karim, Komplek Kantor DPP Hidayatullah. Hadi tidak sendiri. Beberapa kelompok tuna netra lain yang tergabung dalam organisasi yang memiliki kepengerusan hingga 5 DPD di wilayah Jakarta ini juga sudah berdatangan. Mereka datang beriringan dengan satu pemandu didepan.

Kedatangan mereka pada Sabtu pagi (25/09) kemarin adalah untuk menghadiri acara Pengajian Bersama yang diselenggerakan oleh ITMI DPD Jakarta Timur. Acara yang terselenggara atas kerjasama dengan Pos Dai Hidayatullah dengan dukungan Baitul Maal Hidayatullah ini memang tidak main main.

Pembicara yang diundang adalah Asep Sobari Lc, peneliti bidang sejarah di Institute for the Study of Islamic Thought & Civilization (INSISTS). Tema yang diangkat adalah Sejarah Palestina dan Bangsa Israel. “Antara Bulan Februari dan Maret lalu, fokus kajian ITMI lebih kepada sepak terjang dan gerakan Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme (Sepilis)” ujar Yogi Madsoni, Sekretaris Wilayah ITMI Jakarta yang bertindak sebagai moderator ketika menyampaikan pengantarnya.

Menurut Yogi, kajian kajian semacam ini sangat penting untuk pemahaman Islam yang lebih global kepada tuna netra muslim dan juga kepada kaum muslimin lainnya, “bagaimanapun, kita juga punya perhatian besar terhadap persoalan yang terjadi di Palestina ini” pungkas Yogi.

Hal itu diamini Ponco Subagyo. Ketua Panitia yang juga Ketua Pimpinan Daerah ITMI Jakarta Timur, ini mengaku sudah beberapa kali melaksanakan kegiatan yang sama dengan kajian dan tema yang berbeda. Ponco berharap, dengan adanya kegiatan semacam ini semakin menambah rasa solidaritas terhadap muslim yang lain. “Karena Islam diturunkan untuk di menangkan diatas ideologi yang lain. Tanpa ukhuwwah yang kuat, mustahil itu bisa tercapai” tukas Ponco.

Solidaritas Tuna Netra
Pemandangan yang terlihat di Masjid Baitul Karim ini tampak unik. Acara yang berlangsung hingga menjelang Dhuhur itu hampir seluruhnya dipenuhi oleh tuna netra. Meski terlihat seperti tertidur saat mendengar paparan pemateri, mereka sangat luar biasa antusias ketika masuk pada termin tanya jawab.

Pak Dadang, salah satu penanya yang sudah buta permanen (total Blaind) sejak kecil ini unjuk tangan. “Tolong Bapak jelaskan lagi tentang pemikiran dan sejarah Syaikh Abdul Qodir Jaelani” kata Dadang mengomentari salah satu bagian yang sempat dibahas pemateri. Dadang sepertinya belum terlalu puas.

Hingga menjelang masuk waktu Dhuhur, pertanyaan para tuna netra terus mengalir. Mereka tidak saja bertanya, ada juga yang menyanggah dan minta penjelasan lebih lanjut.

Yang mengharukan, mereka memiliki kepedulian yang sangat besar terhadap muslim yang lain, terutama yang ada di Palestina, “mereka yang ada di Palestina adalah saudara kita. Suasana disana memang sudah berangsur dingin, tapi kita tidak boleh diam juga” tutur Budi Hermawan, salah satu tuna netra yang ditemui www.pewarta-indonesia.com ketika acara usai.

“Saya ingin lebih memperdalam ilmu tentang seluk beluk SEPILIS agar tidak gampang terjerembab pada pemikiran yang salah kaprah” ungkap Ahmad, tuna netra yang lain.

Keserampangan Opini Tentang Yahudi
Asep Sobari dalam penyampaiannya menjelaskan bahwa persoalan yang terjadi di Palestina masih menyisakan luka yang teramat dalam. Hingga kini, menurut Asep, masih banyak dari kalangan Kaum Muslimin yang menganggap bahwa tragedi Palestina adalah murni hanyalah masalah kemanusiaan, bukan perang agama. Pemikiran semacam itu lahir dan meluas akibat derasnya opini media yang penggambarannya tampak ilmiah dan benar.

“Ini terutama digencarkan oleh mereka yang sudah terimbas virus sepilis tadi. Mereka berusaha membangun opini yang bisa menyesatkan kaum Muslimin agar lebih kalem menyikapi persoalan Palestina, atau bahkan memaklumi agresi milisi Israel di Palestina” pungkas Alumni Gontor ini.

Dikatakan Asep, ilmu yang seharusnya dibawa ke akhirat sebagai bekal, justru hanya berhenti di dunia saja. Tak pelak, banyak kalangan yang dijuluki sebagai intelektual muslim tapi justru memiliki pola pikir yang bablas. Inilah yang disayangkan Sarjana S1 di Universitas Islam Madinah Munawwaroh, Saudi Arabia ini. “Ilmu tidak senmakin membuat mereka dekat pada Allah, tapi semakin menambah jauh saja.” sayang Asep.

Sehingga, terang Asep, media adalah hal yang mutlak untuk dikuasai agar kaum muslimin bisa mengimbangi serangan distorsi yang kadang kalap dari kaum sepilis ini. [*Ainuddin/www.pewarta-indonesia.com]