Peringatan Tahun Baru 1431 Hijriyah di Mabes TNI

0
27

Pewarta-Indonesia, Segenap personel Mabes TNI, baik Militer maupun Pegawai Negeri Sipil (PNS) menghadiri peringatan Tahun Baru 1431 Hijriyah (2009 Masehi) dengan tema “Dengan Hikmah Tahun Baru Hijriyah Kita Tingkatkan Kemampuan Prajurit TNI Sebagai Alat Pertahanan Negara Berdasarkan Kekuatan Moral dan Kultural Bangsa Menuju Hari Esok Yang lebih baik”, di GOR A. Yani, Mabes TNI Cilangkap Jakarta, Kamis (17/12).

KH. Wahfiudin Sakam, dalam ceramahnya antara lain menyampaikan bahwa dalam Al Quran Surat Yunus 10 : 5 Allah menyampaikan pesan yang artinya Dialah yang menjadikan Syams (Matahari) memancarkan cahaya, dan Qamar (Bulan) bercahaya, serta menetapkan Manazila (posisi-posisi penampakan bulan) agar kamu mengetahui jumlah tahun dan perhitungan lainnya. Maka dari dulu ada orang menghitung waktu dengan patokan matahari dan ada yang menghitung waktu dengan patokan bulan. Bahwa Allah jadikan Matahari dan bulan sebagai alat penanda waktu, maka dua-dua kalender ini syah digunakan.

Lebih lanjut penceramah juga menyampaikan bahwa dalam rangka menyambut tahun baru Hijriyah waktu bergulir dan akan habis, masa depan penuh dengan tantangan-tantangan dan kita hadapi dengan meningkatkan ibadah, meningkatkan komitmen melaksanakan ajaran-ajaran agama. Ketika agama kita singkirkan kita akan hancur bersama-sama dan pertanggungjawaban di akherat akan sulit.

Sementara itu Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso dalam sambutannya menyampaikan bahwa peringatan hari-hari besar keagamaan seperti ini baik agama Islam maupun Nasrani, Hindu dan Budha telah menjadi tradisi dan membudaya sedemikian kuatnya dalam kehidupan Prajurit dan Pegawai Negeri Sipil TNI beserta seluruh keluarga. Tradisi dan budaya yang bersumber pada nilai-nilai keagamaan itu, dalam kehidupan pribadi setiap Prajurit dan PNS TNI dimaksudkan untuk meningkatkan keimanan, ketaqwaan dan kesalehan sosial kita, sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing.

Menurut Panglima TNI, uraian hikmah tahun baru Hijriyah dari Bapak Ustadz K.H Wahfiudin Sakam, dalam konteks saat ini mengandung makna dalam pelajaran untuk menyegarkan kembali potensi moralitas dan spiritualitas kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW sesuai dengan tugas dan potensi masing-masing. Potensi moralitas dan spiritualitas itu tiada lain kecuali nawaitu atau niat dan tekad untuk senantiasa berupaya sekuat tenaga untuk meninggalkan sifat dan sikap yang buruk, tercela dan tidak bermanfaat, menuju sifat dan sikap yang baik, terpuji dan bermanfaat.