Pesan Nyepi

0
18

Pewarta-Indonesia, Mampukah kehadiran Hari Raya Nyepi (1932 Saka) yang jatuh pada 16 Maret 2010 tidak hanya merayakan melasti (pertobatan); tawur (mengembalikan keseimbangan alam, manusia); catur brata Nyepi (empat ritual puasa; amati geni/tidak menyalakan api; amati karya/tidak melakukan pekerjaan sehari-hari; amati lelungaan/tidak bepergian; amati lelanguan/ tidak menghibur diri, tetapi dapat menebar sifat kerukunan dan antikekerasan supaya bangsa Indonesia ini bisa keluar dari pelbagai kekerasan, kejahatan, dan maraknya aksi terorisme.

Umat Hindu menyakini berkah terdalam dengan adanya peringatan Hari Raya Nyepi adalah menahan diri (introspeksi, penyucian) dari segala tindakan, ucapan dan perbuatan kotor, jahat, yang ada dalam diri kita.

Pasalnya, segala bentuk kejahatan berawal dari hawa nafsu (ahangkara) dan tempatnya berada dalam indra, pikiran, dan kecerdasan. “Indria-indria, pikiran, dan kecerdasan adalah tempat duduk hawa nafsu tersebut. Melalui indria-indria, pikiran, dan kecerdasan hawa nafsu menutupi pengetahuan sejati makhluk hidup dan membingungkan” (Sloka 3.40).

Menahan Hawa Nafsu

Prosesi catur brata Nyepi petanda nyata dari upaya menahan hawa nafsu. Bila kita kuat menguasai ahangkara, maka akan menjadi orang bijaksana dan bersatu dengan Brahman. Taani sarvaani samyamya/Yukta asita matparah/Vase hi yasye`mdriyani/Tasya prajna pratisthita (Bhagawad Gita II. 61).

Rupanya ajaran Hindu mewartakan pentingnya ahimsa (tidak menyiksa atau membunuh) dan awyawaharika (sikap damai dan tulus), karena perilaku ini merupakan dua dari lima unsur pengendalian diri (panca yama brata: ahimsa, brahmacari, satya, awyawaharika, asteya).

Menurut I Gusti Ngurah Gorda (2004;8) Perbuatan ahimsa harus dimulai dari pikiran (manacika) menuju wicara (wacika), dan berakhir pada laku (kayika atau tri kaya parisuda).

Mari tengok beberapa Sloka tentang ahimsa yang ditulis Yudhis Muh. Burhanuddin, Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan, Universitas Hindu Indonesia, Denpasar Bali: Tuhan berkata “Tuhan menciptakan manusia untuk berbicara lemah-lembut dan santun” (Yajur Weda, XXI.61); Tuhan berjanji “Orang-orang yang ramah dan lemah-lembut dalam ucapannya akan memperoleh karunia-Nya” (Yajur Weda, XIX.29); Dia berseru kepada kita semua, “Wahai umat manusia, satukanlah pikiranmu untuk mencapai satu tujuan dan satukanlah hatimu, satukan pikiranmu dengan sesama, dan semuanya tinggal dalam pergaulan yang harmonis” (Rig Weda, X.19.4).

Dalam praktik kehidupan sehari-hari, kita wajib menjalankan sikap ahimsa dan awyawaharika, bila tidak maka akan dikategorikan manusia hina dan terkutuk.

Pesan ini termaktub dalam Bhagawadgita, XVI.20, Tuhan mengingatkan kita, “Mereka yang kejam dan pembenci, adalah manusia paling hina di dunia ini, yang Aku campakkan berkali-kali ke dalam kandungan raksasa.”

Harus diingat, setiap agama mengajarkan perdamaian, kebajikan, dan melarang perilaku buruk sekaligus mengutuk segala bentuk aksi terorisme yang terjadi di Indonesia ini.

Inilah makna terdalam Nyepi dalam memerangi aksi terorisme. Selamat Hari Raya Nyepi.***

IBN GHIFARIE, alumnus studi agama-agama Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung dan bergiat di Institute for Religion and Future Analysis (Irfani) Bandung.