Renungan Romadhon

0
25

Pewarta-Indonesia, Di dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda bahwa puasa adalah sebuah perisai yakni menjadi perisai diantara hamba dengan api neraka. Dan puasa menjadi sebuah kubu yang sangat kokoh penghalang antara hamba Allah dengan api neraka. Yang setelah dinding-dindingnya menjadi suci bersih tidak akan membakar hamba-Nya itu. Hadis ini adalah hadis Qudsi yakni Rasulullah saw meriwayatkan firman Tuhan yang disampaikan kepada beliau. Penjelasan tentang hadis ini terdapat didalam Riwayat Bukhari juga. Hazrat Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda : Allah swt berfirman kepadaku bahwa setiap amalan Anak Adam hanyalah untuk dirinya sendiri kecuali puasa. Maka puasa dilakukan khusus untuk-Ku dan Aku-lah yang memberi ganjarannya. Dan puasa adalah perisai, apabila seseorang sedang berpuasa janganlah bercakap-cakap tentang syahwat dan jangan saling memaki satau sama lain. Dan jika ada orang yang memakinya atau mengajak bertengkar dengannya, jawablah kepadanya dengan mengatakan : Aku sedang berpuasa ! Demi Allah Yang jiwaku ada ditangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa lebih toyyib dari pada harumnya minyak kesturi disisi Allah swt. Bagi orang yang berpuasa ada dua macam kegembiraan, pertama apabila ia berbuka puasa ia merasa sangat gembira. Dan yang kedua apabila ia berjumpa dengan Rab-nya maka ia akan merasa sangat gembira.

Allah swt telah menetapkan diri-Nya sebagai ganjaran bagi orang yang puasa.

Di dalam sebuah riwayat lagi Rasulullah saw bersabda bahwa, puasa adalah sebuah amal yang harus dilakukan demi Tuhan Yang Azza wa Jalla. Dan besarnya ganjaran puasa bagi orang yang berpuasa hanya Tuhan Yang Azza wa Jalla saja yang mengetahuinya. Allah swt memberitahu tentang besarnya ganjaran kebaikan bahwa, Aku memberi ganjaran kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat ganda dan kadang-kadang Aku tambahkan lebih banyak lagi dari itu. Sedangkan ganjaran untuk ibadah puasa akan melebihi batas banyaknya ganjaran itu. Dan berapa kali lipat ganda ganjaran ibadah puasa akan diberikan hanya Tuhan sajalah yang mengetahuinya. Sebagaimana kekuasaan zat dan sifat-sifat Allah swt tidak terbatas demikianlah ganjaran Allah swt juga tidak terbatas banyaknya. Maka sangat jauh dari jangkauan pikiran manusia berapa banyaknya ganjaran itu. Rasulullah saw bersabda, hanya Tuhanlah yang mengetahui hal itu. Akan tetapi sebagian dari batas-batasnya Allah swt telah menentukan dalam pelaksanaan fardu puasa, yakni untuk memberi ganjaran yang tidak terbatas banyaknya itu maka Aku tetapkan batas-batasnya juga, yaitu harus mengamalkan semua hukum-hukumnya, puasa bukan hanya sekedar menahan lapar dan dahaga, melainkan harus berusaha keras juga, harus menjauhkan diri dari keburukan-keburukan sebagaimana tercantum didalam hadis. Harus menjauhkan diri dari pada dorongan perasaan syahwat. Sebagaimana Allah swt berfirman, bahkan harus meninggalkan perkara-perkara yang sifatnya tidak dilarang juga. Jika keadaan puasanya seperti itu semua maka ibadah puasanya dinilai telah dilakukan semata-mata karena Allah swt.

Menjauhkan diri dari keburukan itulah yang memberi kekuatan untuk mendapat qurub Allah swt. Akan tetapi menjauhkan diri dari keburukan itu bukan untuk sementara diwaktu bulan puasa saja, menjauhkan diri dari keburukan itu bukanlah untuk sementara waktu, melainkan harus menjadi adat kebiasaan untuk selama-lamanya. Apabila keadaan akhlaq sudah demikian baiknya maka ibadah puasa yang dilakukan itu semata-mata karena Allah swt.

Allah swt Yang Maha Tahu tentang keadaan hati manusia, Dia tahu pasti niat setiap amal yang dilakukan oleh hamba-hamba-Nya. Dia adalah Zat yang mengetahui setiap perkara yang nampak dan yang ghaib, jika kita selalu ingat kepada sifat dan jangkauan pengetahuan-Nya itu, maka setiap orang yang berpuasa akan menahan sabar, dan puasanya akan mendapat ganjaran baginya. Orang yang berpuasa dengan niat untuk menjauhkan diri dari perkara-perkara yang buruk dan dari pikiran-pikiran syahwat yang kotor dan hal itu semuanya dia tinggalkan, bukan hanya setakat dibulan Ramadhan saja melainkan untuk selama-lamanya, maka ibadah puasanya itu dia lakukan semata-mata karena Allah swt. Dan puasanya dapat dikatakan puasa karena Allah swt. Apabila ada orang yang mengajak bertengkar atau mencaci-makinya, dia akan menjawab, aku sedang berpuasa, aku tidak akan menjawab perkataan kamu yang sia-sia itu. Dan hal itu bukan berarti, aku harus berbuka puasa dahulu baru aku akan menjawab perkataan buruk kamu itu kemudian diketahui bagaimana keadaan kamu sebenarnya apakah kamu lebih kuat dari padaku atau sebaliknya. Sekarang aku sedang berpuasa, aku tidak mau bertengkar dengan kamu.

Puasa adalah sebuah training (latihan), yaitu latihan untuk meninggalkan setiap perbuatan buruk dan sia-sia dan itulah usaha keras untuk meningkatkan mutu kerohanian yang harus dilakukan oleh setiap orang yang melakukan ibadah puasa. Melangkahkan kaki menuju Allah swt untuk mendapatkan keridhoan-Nya dapat dikatakan betul atau sempurna apabila usahanya untuk meninggalkan setiap keburukan itu dilakukan bukan hanya selama bulan Ramadhan saja melainkan dilakukan untuk selama-lamanya. Pada akhirnya baru dapat dikatakan : Apabila dia akan bertemu dengan Rab-nya dia akan merasa gembira sekali disebabkan ibadah puasanya itu.

Apakah dengan ibadah puasa hanya selama tiga puluh hari saja Allah swt akan memberikan martabat keridhoan-Nya demikian luhur kepadanya yang menjadikan dia sangat gembira? Tidak! Bukan demikian! Melainkan dia akan merasa gembira karena ibadah puasanya itu telah berhasil menghapuskan semua keburukan-keburukan dirinya. Telah berhasil menjauhkan keadaan nafsu dan keadaan syahwaninya disebabkan ibadah puasanya itu, disebabkan banyaknya membaca istighfar kepada Tuhan, disebabkan berhasil menjadi orang yang meninggalkan keburukan-keburukan karena Allah, dan Tuhan telah menjauhkan semua keburukan-keburukannya itu.

Apabila ibadah puasa setiap bulan Ramadhan diperjuangkan seperti itu dan kebaikan yang telah diperoleh selama bulan Ramadhan diterapkan pada diri sendiri akan berjalan terus dalam kehidupan sepanjang tahun. Maka kehidupan setiap hari akan terhindar dari bermacam keburukan sepanjang tahun disebabkan hasil yang diperoleh dari latihan selama tiga puluh hari dalam bulan suci Ramadhan ini. Sehingga akhirnya ia akan menjadi orang yang berhasil meraih keridhoan Allah swt. Itulah martabat yang ia peroleh dimana ia akan sangat gembira karenanya. Allah swt telah menjauhkan semua keburukannya dan Dia telah menganugerahkan kepadanya kebaikan dan martabat taqwa yang luhur berkat ibadah puasa yang ia lakukan selama bulan suci Ramadhan itu. Dia telah berpuasa dengan penuh keinginan semata-mata karena Allah dan telah berusaha keras menunaikan ibadah puasanya, telah berusaha untuk memperbaiki amal perbutannya, telah meningkatkan mutu ibadah-ibadahnya, akhirnya dia menjadi orang yang berhasil meraih keridhoan Allah swt.

Jadi sekarang bulan suci Ramadhan pun sudah tiba.. Kita harus berusaha keras meningkatkan mutu ibadah-ibadah kita dan sambil mengingat semua amal-amal perbuatan dimasa lampau, kita harus giat menerapkan perintah-perintah Allah swt pada diri kita sendiri, seperti layaknya seorang pelajar yang dengan giat berusahamempersiapkan diri untuk menghadapi ujian, ia memeras diri belajar siang dan malam. Semoga…, insyaAllah!!