Sholat Idul Fitri 1430 H di Mabes TNI

0
54

Pewarta-Indonesia, Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso, Kepala Staf TNI AL Laksamana TNI Tedjo Edhy Purdijatno, Kepala Staf TNI AU Marsekal TNI Subandrio, dan pejabat teras Mabes TNI lainnya, segenap warga Mabes TNI serta masyarakat sekitar Cilangkap melaksanakan Sholat Idul Fitri 1430 H, di lapangan parkir GOR A.. Yani Mabes TNI Cilangkap, Minggu (20/9). Bertindak selaku Imam dalam sholat Idul Fitri Dr H. Abdullah Makky, M.Ed., dan Khatib DR. dr. KH. Tarmizi Taher MD.

Dalam khotbahnya DR. dr. KH. Tarmizi Taher MD, menyampaikan bahwa pertempuran Badar adalah pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan musuh-musuhnya. Perang ini terjadi pada 17 Maret 624 Masehi atau 17 Ramadhan 2 Hijriah. Pasukan kecil kaum Muslim yang berjumlah 313 orang bertempur menghadapi pasukan Quraisy dari Mekkah yang berjumlah 1000 orang. Ketika itu Rasullullah berucap bahwa kita baru saja keluar dari perang kecil menuju perang besar.

Kemudian para sahabat kebingungan kenapa Nabi Muhammad SAW menyebutkan perang Badar yang sengit itu sebagai perang yang kecil padahal setelah habis-habisan sekitar dua jam, pasukan Muslim menghancurkan barisan pertahanan pasukan Quraisy, yang kemudian mundur dalam kekacauan. Rasulullah menjawab pertanyaan sahabat itu dengan mengatakan bahwa perang yang paling besar itu adalah perang melawan nafsu kita sendiri (jihadun nafs). Jihadun nafs adalah perang dalam diri manusia yang abadi adanya, perang antara nafsu kebaikan dan nafsu keburukan.

Khotib juga menyampaikan puji dan syukur kepada Allah SWT, penguasa dan pembina alam semesta yang telah memberi umat Islam Iman, kekuatan dan kesehatan untuk dapat merampungkan puasa pada tahun 1430 H ini. Dengan berserah diri kepada Allah SWT yang Maha Pengampun dan Penyayang, kita umat Islam berharap puasa kali ini diterima oleh Allah SWT. Tanpa kasih sayang dari Allah mustahil kita sanggup menjalankan ibadah puasa itu. Salam dan salawat disampaikan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan para penerusnya hingga akhir zaman.

Selain itu khotib juga menyampaikan bahwa kita umat Islam saat ini adalah umat yang tak peduli waktu.. Padahal dalam dunia modern ini manusia harus tahu arah dan tahu waktu. Surat Al-Ashr diturunkan kepada umat Islam supaya umat Islam lebih tahu waktu. Tetapi kok malah umat lain yang lebih tahu waktu ?

Dalam semangat Idul Fitr ini, kita perlu benar-benar instropeksi diri supaya dapat mengejar ketertinggalan dari umat-umat lain dalam era globalisasi yang bermakna era kompetisi global ini. Anak cucu kita tidak lagi bersaing dengan sahabatnya orang Indonesia, tetapi kompetisi sudah meluas ke regional dan Internasional. Batas-batas negara dan bangsa hari ini semakin kabur akibat kecanggihan teknologi transportasi dan komunikasi.

Pada akhir khotbahnya, khotib menyampaikan bahwa kemelut yang dihadapi bangsa masih menggunung, mari kita gulung lengan baju untuk membantu pemerintah. Dan pemerintah baru jangan lagi ulangi kesalahan masa lalu, menjadikan umat Islam sebagai musuh.